Tamasya Ke Taman Surga

Eksistensi Surga

Para shahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , para tabi’in dan taabi’ut-taabi’in, Ahlus-Sunnah dan Ahlul-Hadits seluruhnya termasuk para fuqaha’,pengikut aliran tasawuf dan orang-orang yang zuhur meyakini eksistensi surga dan mengesahkannya berdasarkan nash-nash al-Qur’an, Sunnah dan informasi para Rasul terdahulu dan terakhir. Para Rasul tanpa terkecuali mengajak umat manusia kepada surga. Mereka membeberkan profil surga dengan utuh kepada mereka hingga muncul pendapat nyeleneh dari sekte Qadariyyah dan Mu’tazilah yang memungkiri eksistensi surga untuk saat sekarang ini. Mereka berpendapat bahwa surga baru diciptakan Allah pada Hari Kiamat kelak. Mereka berpendapat seperti itu berpatokan kepada prinsip mereka yang rancu yang dipakai sebagai standar (syari’at) terhadap apa saja yang dikerjakan Allah. Bahwa Allah harus mengerjakan ini dan Ia tidak boleh mengerjakan itu. Mereka menanalogikan Allah terhadap makhluk-Nya seperti perbuatan mereka. Mereka menganggap bahwa mereka memiliki kesamaan dengan Allah dalam tingkah laku. Kemudian pengikut sekte Jahmiyyah bergabung ke dalam sekte Qadariyyah dan Mu’tazilah dan ikut-ikutan menafikan sifat-sifat Allah. Mereka berkata, “Pencptaan surga sebelum Hari Pembalasan tidak ada manfaatnya karena dengan demikian surga berarti kosong tidak berpenghuni dalam jangka waktu yang sangat lama.”
Mereka juga berkata, “Logiskah seorang raja membangun istana dan menyediakan di dalamnya berbagai macam makanan, perabotang dan fasilitas lainnya lalu raja tersebut mengosongkannya tanpa penghuni dan rakyatnya tidak diperkenankan masuk ke dalamnya dalam jangka waktu yang lama? Pasti tindakan raja tersebut dikategorikan tidak bijaksana dan memberi peluang kepada para kaum cerdik pandai memprotesnya!” setelah itu, mereka membatasi ruang gerak Allah dengan otak mereka yang kacau dan pendapat mereka yang ngawur tersebut! Mereka menyamakan perilaku Allah dengan perilaku mereka dan menolak nash-nash yang bertentangan dengan standar (syari’at) peroduk mereka yang batil tadi yang mereka susun untuk Allah atau merubahnya dari tempat aslinya, mengotak-atiknya dan menuduh bid’ah orang-orang yang tidak sependapat dengan pendapatnya. Mereka konsekuen dengan pendiriannya hingga membuat geli para cendikiawan.
Oleh karena itu, para Salafush-Shaleh menegaskan dalam aqidahnya bahwa surga dan neraka telah diciptakan dan sekarang keduanya sudah ada. Dinyatakan dalam tulisan-tulisan mereka bahwa inilah pendapat Ahlus-Sunnah dan Ahlul-Hadits, dan mereka tidan berbeda pendapat di dalamnya.

Abul-Hasan al-Asy’ari berkata dalam bukunya Kitab Maqaalatil-Islamiyyin wa Ikhtilaafil Mudhillin, mengugkapkan sejumlah prinsip Ahlul-Hadits dan Ahlus-Sunnah berupa keyakinan adanya Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan apa yang diturunkan Allah dari apa yang diriwayatkan para perawi yang jujur dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua menyepakati bahwa Allah Maha Esa dan Berdiri Sendiri serta tidak mempunyai istri dan anak. Bahwa Muhammad adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya. Surga benar adanya dan neraka adalah benar adanya. Hari Kiamat akan datang pada harinya tanpa adanya keragu-raguan di dalamnya. Bahwa Allah membangkitkan orang-orang yang ada dalam kubur dan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy-nya seperti yang Ia firmankan,

Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Thaahaa:5)

Bahwa Allah mempunyai dua tangan tanpat pertanyaan bagaimana bentuk kedua tangan-Nya tersebut, seperti yang Ia firmankan,

Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku.” (Shaad: 75)

(TIdakkah demikian), tetapi kedua Tangan Allah terbuka.” (Al-Maidah: 64)

Bahwa Allah mempunyai dua mata, dan tidak perlu ditanyakan bagaimana bentuk Mata-Nya, seperti yang Ia firmankan,

Perahu tersebut berlayar dengan kedua Mata-Ku.” (Al-Qamar: 14)

Bahwa Allah juga mempunyai wajah, seperti yang difirmankan-Nya,

Dan tetap kekal Wajah Tuhan-mu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahmaan: 27)

Bahwa asma’-asma’ (nama-nama) Allah tidak bisa dinisbatkan kepada selain Allah seperti yang dikatakan oleh sekte Mu’tazilah dan Khawarij. Ahlus-Sunnah dan Ahlul-Hadits juga menegaskan bahwa Allah mempunyai ilmu seperti yang Allah firmankan,

Dan tidak seorang perempuan pun mengandung dan tidak pula melahirkan melainkan dengan ilmu-Nya.” (Faathir: 11)

Ahlus-Sunnah dan Ahlul-Hadits juga meyakini bahwa Allah mempunyai telinga dan mata. Mereka tidak menafikan bahwa keduanya juga dimiliki selain Allah seperti diyakini Sekte Mu’tazilah. Ahlus-Sunnah dan Ahlul Hadits juga meyakini bahwa Allah mempunyai kekuatan seperti yang ia firmankan,

Ia menurunkannya dengan ilmu-Nya.” (An-Nisaa: 166)

Apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka itu lebih kuat daripada mereka.” (Fushshilat: 15)

Ahlus-Sunnah dan Ahlul-Hadits menegaskan bahwa di bumi ini tidak ada kebaikan dan kejelekan kecuali seperti yang telah dikehendaki Allah dan bahwa segala sesuatu yang dasarnya adalah atas kehendak Allah, seperti yang Allah firmankan,

Dan kalian tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bia dikehendaki Allah.” (Al-Insan: 30)

Atau seperti yang dikatakan kaum muslimin bahwa apa yang dikehendaki Allah, pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya mustahil terjadi.

Mereka berkata bahwa orang tidak mungkin mampu mengerjakan sesuatu sebelum Ia mengerjakannya. Atau ia sanggup keluar dari ilmu Allah. Atau ia bisa mengerjakan sesuatu yang telah diketahui oleh Allah bahwa ia tidak akan mampu mengerjakannya. Mereka menandaskan bahwa tidak ada Pencipta selain Allah dan bahwa segala perbuatan manusia, Allah yang menciptakannya dan bahwa manusia tidak sanggup menciptakan sesuatu. Bahwa Allah memberi hidayah kepada kaum mukminin sehingga mereka taat kepada-Nya dan Allah membuat hina kaum kafir. Allah lembut dan ramah terhadap kaum Mukminin, mengawasi mereka dan meluruskan mereka dan bahwa Allah tidak bersikap lembut terhadap kaum kafir, tidak memberi petunjuk kepada mereka dan tidak meluruskan mereka. Jika Allah meluruskan kaum kafir, maka pasti mereka menjadi orang-orang shalih. Apabila Allah memberi hidayah kepada mereka, maka mereka menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk. Allah mampu memperbaiki kaum kafir dan bersikap lembut terhadap mereka hingga mereka menjadi orang-orang mukmin. Namun Allah berkehendak menjadikan mereka sebagai orang-orang kafir seperti yang Ia ketahui dan Allah membuat hina mereka, menyesatkan mereka mereka dan mengunci hati mereka. Kebaikan dan kejelekan adalah Qadha’ dan Qadar Allah.

Mereka beriman kepada Qadha’ dan Qadar Allah baik buruknya dan pahit manisnya. Mereka meyakini bahwa mereka tidak dapt mendatangkan manfaat dan mudharat bagi diri mereka kecuali atas kehendak Allah. Mereka mengembalikan segala permasalahan kepada Allah amat, membutuhkan Allah dalam setiap saat dan merasa perlu kepada Allah dalam setiap kondisi.

Mereka berkata bahwa al-Qur’an adalah firman Allah dan bukan makhluk-Nya. Bahwa Allah bisa dilihat dengan mata kepala pada Hari Kiamat, seperti halnya bulan bisa dilihat pada saat bulan purnama. Bahwa Allah bisa dilihat oleh kaum mukminin dan tidak bisa dilihat oleh kaum kafir karena ereka terhalang dari melihat Allah seperti yang difirmankan Allah.

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” (Al-Muthaffiffin: 15)

Bahwa Musa ‘Alaihis-Salaam memohon bisa melihat Allah di dunia kemudian Allah menampakkan diri-Nya kepada gunung, dan menjadikan gunung tersebut hancur berkeping-keping. Lalu Allah mengatakan kepada Nabi Musa ‘Alaihis-Salaam bahwa Ia tidak bisa dilihat di dunia dan hanya bisa dilihat di akhirat kelak.

Mereka tidak mengkafirkan seorang pun dari Ahlul-Qiblat hanya karena dosa yang diperbuatnya, seperi; zina, mencuri, dan dosa-dosa besar lainnya. Status mereka tetap sebagai orang-orang yang beriman meskipun mengerjakan dosa-dosa besar. Keimanan yang mereka maksudkan adalah keimanan kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan takdir-Nya; baik dan buruknya atau manis dan pahitnya. Kesalahan mereka bukan berarti musibah bagi mereka dan musibah yang ditimpakan kepada mereka tidak berarti untuk menyengsarakan mereka. Masuk Islam adalah dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah bahwa Muhammad adalah utusan Allah sepertiyang disinyalir dalam hadits dan bahwa Islam berbeda dengan keimanan. Mereka menegaskan bahwa Allah membolak-balik hati manusia dan menegaskan syafa’at bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa syafa’at tersebut diperuntukkan bagi umatnya yang telah mengerjakan dosa-dosa besar. Mereka mengimani adanya siksa kubur. Bahwa kolam al-haudhu (kolam) adalah benar adanya. Shirat adalah benar adanya. Hari kebangkitan setelah kematian adalah benar adanya. Hisab oleh Allah terhadap hamba-hamba-Nya adalah benar adanya dan berdiri di hadapan Allah adalah benar adanya. Mereka menegaskan bahwa iman adalah ucapan dan tindakan. Bahwa iman itu bertambah dan berkurang dan tidak mengatakannya sebagai makhluk Allah atau bukan makhluk Allah.

Mereka mengatakan bahwa asma’-asma’ Allah adaah Allah itu sendiri. Mereka tidak memvonis orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa besar sebagai penghuni neraka dan tidak memvonis orang-orang yang bertauhid sebagai penghuni surga hingga Allah sendiri yang berwenang menempatkan mereka di tempat mana yang dikehendaki-Nya. Mereka mengatakan bahwa segala urusan adalah milik Allah. Jika Allah menghendaki, maka Ia menghukum mereka atau memberi ampunan kepada mereka. Mereka yakin sepenuhnya bahwa Allah akan mengeluarkan kaum mereka atau memberi ampunan kepada mereka. Mereka yakin sepenuhnya bahwa Allah akan mengeluarkan kaum yang bertauhid dari neraka sesuai dengan riwayat yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alahihi wa sallam. Mereka menolak debat dan berbantah-bantahan dalam masalah agama dan silang pendapat dalam masalah takdir. Mereka tidak hanyut dalam debat seperti hanya pecandu debat dan berselisih pahan tentang agamanya. Mereka lebih suka menerima riwayat-riwayat yang shahih dan atsar yang diriwayatkan kepada perawi-perawi yang tsiqah hingga mata rantainya (sanad) sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bertanya bagaiamana ini dan kenapa ini? Karena pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah bid’ah.

Mereka mengatakan bahwa Allah tidak memerintahkan tindak kejahatan. Justru Allah melarang segala bentuk kriminalitas dan memerintahkan perbuatan yang baik dan tidak meridhai segala bentuk kesyirikan meskipun Ia menghendakinya. Mereka mengetahui hak-hak mereka terhadap Salafush-Shalih yang dipilih Alah sebagai sahabat Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengambil kebaikan generasi Salafush-Shalih dan tidak mengambil masalah-masalah yang mereka perselisihkan; baik masalah-masalah besar dan kecil. Mereka mendahulukan Abu Bakar kemudian Umar bin Khatthab, kemudian Utsman bin Affan, kemudian Ali bin Abu Thalib Radliyallahu ‘anhum dan menegaskan bahwa keempat sahabat di atas adalah khalifah yang rasyidin dan mahdiyyin. Bahwa generasi shahabat adaah manusia terbaik sepeninggal Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membenarkan hadits-hadits yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Bahwa Allah turun ke langit dunia kemudian berkata, ‘Adakah orang yang meminta ampunan kepada-Ku?’” (Riwayat al-Bukhari, Muslim, Ahmad)

Mereka berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah sebagaimana yang difirmankan Allah,

Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang suatu masalah, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (sunnahnya).” (An-Nisaa’: 59)

Mereka patuh dan mengikuti ulama generasi salaf dan tidak mengikuti masalah-masalah keagamaan yang tidak pernah diizinkah Allah. Mereka menegaskan bahwa Allah akan datang pada Hari Kiamat seperti yang Ia firmankan,

Dan datanglah Tuhan-mu, sedang para malaikat berbaris-baris.” (Al-Fajr: 22)

Dan bahwa Allah sangat dekat dengan makhluk-Nya dalam kondisi apa pun,

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaaf: 16)

Mereka mengerjakan shalat hari raya, shalat Jum’at dan shalat berjamaa’ah di belakang setiap imam; baik imam yang shalih atau imam yang fasik. Mereka menganggap mengusap dua sepatu sebagai ibadah Sunnah dan melakukannya selama dalam perjalanan (safat) atau mukim di rumah. Mereka meyakini bahwa jihad melawan orang-orang musyrik hukumnya wajib semenjak Allah mengutus Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai munculnya kaum Muslimin yang berperang melawan Dajjal. Bahwa kewajiban mereka adalah mendoakan kebaikan untuk pemimpin mereka dan tidak mengangkat senjata melawan mereka serta tidak saling memerangi pada saat terjadinya fitnah. Mereka meyakini keluarnya Dajjal dan bahwa Isa ‘Alaihis-Salaam yang membunuhnya. Mereka beriman kepada Munkar dan Nakir, Mi’raj dan mimpi pada waktu tidu. Mereka mendoakan kaum Muslimin yang telah meninggal dunia dan bershadaqah mewakili mereka, karena pahalanya sampai kepada mereka. Mereka mengakui bahwa di dunia ini ada praktek sihir dan bahwa penyihir adalah kafir sebagaimana yang difirmankan Allah. Bahwa sihir ini selalu ada dalam kehidupan manusia.

Mereka menyalati jenazah Ahlul-Qiblat yang beriman atau fasik dan bahwa surga dan neraka telah diciptakan. Barangsiapa meninggal dunia maka tepat pada waktu ajalnya dan bahwa barangsiapa terbunuh, maka sesuai dengan ajalnya. Rizki adalah dari Allah yang Ia berikan kepada hamba-hamba-Nya, baik dalam keadaan halal atau haram.
Bahwa setan selalu membuat manusia was-was, serba ragu-ragu dan mencelakakannya. Bahwa orang-orang shalih sah-sah saja kalau Allah memberi kelebihan kepada mereka dalam bentuk ayat-ayat yang membuktikan siapa mereka yang sesungguhnya. Bahwa Sunnah tidak menghapus al-Qur’an. Bahwa balasan bagi anak-anak kecul yang meninggal dunia adalah urusan pribadi Allah. Jika Ia menghendaki, maka menyiksa mereka atau memperlakukan mereka seperti yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Tahu terhadap apa saja yang diperbuat hamba-hamba-Nya dan menulisnya bahwa hal ini akan terus terjadi. Bahwa segala sesuatu ada di Tangan Allah.

Mereka bersabar dalam menegakkan hukum Allah, melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, berhenti dari apa saja yang dilarang Allah, ikhlas dalam amal perbuatannya karena Allah semata, memberi nasihat kepada kaum muslimin, bersatu dengan hamba-hamba Allah dalam beribadah kepada-Nya, memberi nasihat kepada jama’ah kaum muslimin, menjauhi dosa-dosa besar; zina, dusta, maksiat, membangga-banggakan, dirinya, sombong, menghina orang lain, dan ujub.

Mereka menjauhi penyeru bid’ah, menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, menulis atsar, mempelajari fiqh dan tawadhu’, tenang, akhlak mulia, memberikan yang terbaik, berhenti dari sikap usil, meninggalkan ghibah dan mengadu domba, menyeleksi makanan dan minuman yang mereka konsumsi.

Abdullah bin Wahhab berkata bahwa Mu’awiyyah bin Shalih pernah bercerita tentang satu hadits dari Isa bin Ashim dari Zur bin Habisy dari Anas bin Malik Radliyallahu ‘anhuyang berkata,

“Pada suatu hari kami pernah shalat subuh dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau shalat agak lama dibandingkan biasanya. Setelah salam, ditanyakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku lihat engkau shalat tidak seperti biasanya?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Sesungguhnya aku sedang melihat surga. Kulihat buah-buahan rendah dengan tanah dan biji-bijinya juga dekat dengan tanah seperti halnya labu. Aku ingin sekali mengambilnya meskipun sedikit saja kemudian diwahyukan kepada buah-buahan dan biji-bijian tersebut agar menunda masa tuanya lalu aku pun menunda (mengakhiri shalat). Setelah itu aku melihat neraka antara aku dengan kalian hingga aku lihat naunganku dan naungan kalian lalu aku memberi isyarat kepada kalian agar kalian mundur dan diwahyukan kepadaku agar aku memberikan kabar gembira kepada mereka. Bahwa engkau menjadi orang Islam begitu juga mereka. Engkau berhijrah begitu juga mereka. Engkau berjihad begitu juga mereka. Aku tidak melihat adanya kelebihan diriku atas kalian kecuali kenabian.’” (Riawayat al-Hakim)

Jika ada orang yang berkata, “Kenapa anda tidak berhujjah dengan kisah Nabi Adam ‘Alaihis-salaam, masuknya Nabi Adam ‘Alaihis-salaam ke dalam surga, keluarnya beliau dari surga dikarenakan ia memakan salah satu buah dari pohon dan dalil tersebut bisa dikatakan sangat kuat?” konon bahwa berhujjah dengan dalil ini kendati dinilai kuat oleh orang awam, pada dasarnya sangat lemah dan tidak jelas arahnya. Ini lantaran manusia berbeda pendapat mengenai surga yang ditempati Nabi Adam ‘Alaihis-salaam. Apakah surga tersebut adalah surga yang akan dimasuki kaum mukminin pada hari Kiamat kelak atau ia surga dunia? Wallahu a’lam bish-Shawaab.

Sumber: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. “Hadil Arwaah ila Bilaadil Afraah” atau “Tamasya ke Surga“. Terj. Fadhil Bahri, Lc. Bekasi: Darul Falah. 2015.