Syarah Asmaul-Husna: Al-Muqaddim & Al-Muaakhkhir

92. Al-Muqaddim (Yang Mendahulukan)
93. Al-Muaakhkhir (Yang mengakhirkan)

Sebagiamana yang dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam antara tasyahhud dan salam adalah,

Ya Allah, ampunilah aku, (dosa) yang aku dahulukan dan dosa yang aku akhirkan. Dosa yang aku sembunyikan dan dosa yang aku nampakkan, dan dosa yang aku melewati batas. Engkau lebih mengetahui dengan hal itu dariku. Engkau Yang mendahulukan dan Engkau Yang Mengakhirkan, tidak ada Ilah selain Engkau.”

Al-Muqaddim dan al-Muakhkhir adalah dua nama seperti yang terdahulu, termasuk asma’ yang berpasangan lagi berlawanan. Yang tidak bisa disebutkan salah satunya, kecuali kesamaan dengan yang satunya. Sesungguhnya kesempurnaan ada dalam penggabungan kedua nama tersebut. Dia yang mendahulukan dan mengakhirkan yang dikehendaki-Nya dengan hikmah-Nya.

Mendahulukan ini bersifat hukum alam (kauniy), seperti mendahulukan dalam menciptakan sebagian manusia terhadap yang lain dan mengakhirkan yang lain terhadap yang lain. Seperti juga mendahulukan sebab terhadap akibat, dan mendahulukan syarat terhadap yang disyaratkan. Berbagai macam mendahulukan dan mengakhirkan di dalam makhluk dan takdir adalah lautan luas yang tidak bisa diarungi.

Dalam pada itu, ada yang bersifat syar’i, seperti Dia memberikan kelebihan kepada pada Nabi dibandingkan manusia lainnya, memberikan kelebihan kepada sebagian yang lain terhadap yang lainnya, dan melebihkan sebagian hamba-Nya terhadap yang lain. Dia mendahulukan mereka dalam ilmu, iman, akhlak, dan semua sifat. Dia mengakhirkan orang yang dikehendaki-Nya dari mereka, semua itu menurut hikmah-Nya.

Dua sifat ini dan yang menyerupainya termasuk sifat dzatiyyah, karena keduanya ada pada Allah. Allah bersifat dengan keduanya dan termasuk sifat perbuatan karena mendahulukan dan mengakhirkan berhubungan dengan makhluk, baik dzat, perbuatan, makna, maupun sifat. Sifat ini berasal dari kehendak Allah dan kemampuan-Nya. Maka inilah pembagian yang besar bagi sifat Allah. Sesungguhnya sifat dzat berhubungan dengan dzat dan sifat perbuatan-Nya merupakan sifat dzat dan berhubungan dengan yang berasal darinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Allah ta’alaa berfirman,

Jika Allah menimpakan seuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Al-An’aam: 17)

Katakanlah, ‘Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia mengendaki kemudharatan bagimu atau jika ia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Fath: 11)

Sifat mudharat (kerusakan) dan manfaat, seperti yang terdahulu, merupakan sifat yang berpasangan berlawanan. Allah memberikan manfaat kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-Nya dengan segala manfaat agama dan dunia. memberikan mudharat bagi orang yang melakukan sebab-sebab yang mengakibatkan mudharat tersebut. Semua itu mengikuti hikmah dan Sunnah-Nya dan bagi sebab-sebab yang membawa kepada akibat-akibatnya. Sesungguhnya Allah menjadikan tujuan-tujuan dan perkara-perkara bagi makhluk yang dicintai-Nya dalam urusan agama dan dunia. Dia menjadikan beberapa sebab dan jalan untuk mendapatkan hal itu. Dia memerintahkan untuk menjalaninya dan memudahkan bagi hamba-Nya dengan segala kemudahan. Siapa yang menjalaninya, niscaya akan menyampaikannya kepada tujuan yang bermanfaat. Siapa yang meninggalkannya atau meninggalkan sebagiannya atau tidak menyempurnakannya atau menjalani jalan yang kurang sempurna, sehingga ia tidak mendapatkan kesempurnaan yang dicari, maka janganlah ia mencela, kecuali dirinya sendiri.
Tidak ada hujjah baginya terhadap Allah. Allah telah memberikan kepadanya penglihatan, pendengaran, hati, kekuatan, dan kemampuan. Allah juga menunjukkan kepadanya dua jalan, menjelaskan kepadanya segala sebab dan akibatnya, serta Dia tidak menahan jalan baginya untuk mendapatkan kebaikan agama dan dunia. Maka jika dia menyalahinya dalam semua perkara ini, sudah menjadi keniscayaan jika dialah yang dicela dan dicaci atas kelalaiannya.

Bahwasanya seluruh perbuatan berhubungan dan berasal dari tiga sifat ini, kudrah yang sempurna, keinginan yang terlaksana, dan hikmah yang mencakup segala hal. Semuanya ada pada Dzat Allah dan Dia memiliki sifat tersebut. Pengaruh dan konsekuensinya adalah semua yang berasal dari-Nya di alam ini dalam bentuk mendahulukan dan mengakhirkan, manfaat dan mudharat, memberi dan menahan, merendahkan dan meninggikan. Tiada perbedaan antara yang dirasa dan dipikirkan, tiada perbedaan antara agama dan dunianya. Inilah makna sifat-sifat perbuatan, bukan seperti yang disangka ahli kalam yang bathil.

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.