Syarah Asmaul-Husna: Al-Ilaah, Al-Qaabidh, Al-Baasith, Al-Mu’thi

88. Al-Ilaah

Nama ini menghimpun segala sifat kesempurnaan dan kebesaran. Termasuk dalam nama ini seluruh Asmaul Husna. Oleh karena itu, lafazh Allah berasal dari kata al-Ilaah dan bahwasanya nama Allah, Dialah yang mencakup seluruh Asmaul Husna dan Shifatul-Ulaa.

Allah ta’alaa berfirman,

Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai pemelihara.” (An-Nisaa: 171)

89. Al-Qaabidh (Yang menyempitkan rizki)
90. Al-Baasith (Yang melapangkan rizki)
91. Al-Mu’thi (Yang memberi)

Allah ta’alaa berfirman,

… Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah: 245)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang dikehendaki Allah untuk mendapat kebaikan niscaya Allah akan memberi kepadanya kepahaman dalam (masalah) agama. Allah yang memberi dan aku yang membagi…

Dalam hadits lain beliau bersabda,

Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak sepantasnya Dia tidur; merendahkan keadilan dan meninggikannya; diangkat kepada-Nya amal pada malam hari sebelum amal siang hari dan amal siang hari sebelum amal malam hari.”

Allah ta’alaa berfirman,

Katakanlah, ‘Wahai Rabb Yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah mengangkat beberapa golongan dengan al-Qur’an ini dan merendahkan yang lain.”

Beliau juga bersabda setelah salam dari suatu shalat, ketika beliau berpaling menghadap kepada jama’ah,

Tidak ada Ilah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan, milik-Nya pujian, dan Dia Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tiada yang bisa mencegah sesuatu yang Engkau berikan dan tiada yang bisa memberi bagi sesuatu yang Engkau cegah, dan tidak ada manfaat kekayaan seorang yag memiliki kekayaan dari (siksa)-Mu.”

Sifat-sifat mulia ini sebagian adalah asma’ yang saling berlawanan, yang tidak sepantasnya Allah dipuji dengannya. Kecuali bersama yang lainnya karena kesempurnaan yang mutlak terdapat pada pertemuan kedua sifat ini. Dia-lah yang menyempitkan rizki, ruh, dan jiwa. Yang melapangkan rizki, rahmat, dan hati. Dia yeng mangangkat derajat golongan yang memiliki ilmu dan iman, yang merendahkan musuh-musuh-Nya. Dia yang memuliakan orang yang taat dan inilah kemuliaan yang hakiki. Sesungguhnya orang yang taat itu mulia sekalipun ia seorang fakir yang tidak memiliki penolong selain Dia. Dia menghinakan orang-orang yang durhaka dan musuh-musuh-Nya, hina di dunia dan di akhirat.

Orang yang durhaka, sekalipun tampaknya adalah orang yang mulia, namun hatinya penuh dengan kehinaan sekalipun ia tidak merasakannya karena tenggelam dalam nafsu syahwat kesenangan dunia. kemuliaan yang sesungguhnya adalah taat kepada Allah dan kehinaan yang sesungguhnya adalah durhakan kepada Allah.

Dan barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya.” (Al-Hajj: 18)

Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya.” (Faathir: 10)

…Padahal, kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin.” (Al-Munaafiquun: 8)

Dia yang menahan dan memberi, maka tidak ada yang bisa memberikan sesuatu yang dicegah-Nya dan tidak ada yang bisa mencegah sesuatu yang diberikan-Nya. Semua ini mengikuti keadilan, hikmah, dan pujian-Nya. Sesungguhnya terdapat hikmah dalam perbuatan-perbuatan-Nya seperti merendahkan orang yang direndahkan, dihinakan, dan dicegah-Nya (untuk mendapat kebaikan).

Tidak ada hujjah bagi seseorang terhadap Allah. Sebagaimana Dia memiliki karunia yang mutlak terhadap orang yang diangkat (ditinggikan), diberi, dan diluaskan baginya segala kebaikan. Setiap hamba harus meyakini hikmah Allah, sebagaimana ia harus meyakini karunia-Nya serta bersyukur kepada-Nya dengan lidah, hati, dan anggota tubuh. Sebagaimana hanya Dia sendiri yang memiliki semua perkara ini dan semuanya berlaku di bawah ketentuan-Nya. Sesungguhnya Allah menjadikan beberapa sebab terangkatnya derajat dan kemulian seorang hamba dan memberikan kemulian (kepada hamba-Nya yang terpilih).

Dia menjadikan pula sebab-sebab bagi hal yang sebaliknya. Orang yang melaksanakan (mengerjakannya) akan merasakan akibatnya. Segala sesuatu dimudahkan kepada apa yang dia ciptakan. Adapun orang-orang yang beruntung, mereka dimudahkan kepada beramal dengan amalan orang-orang yang beruntung. Sebaliknya, orang-orang yang celaka, mereka dimudahkan untuk berbuat seperti perbuatan orang-orang yang celaka. Karena itu, setiap hamba harus mentauhidkan-Nya dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan hal-hal yang bermanfaat, bahwasanya di sanalah tempatnya hikmah Allah.

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.