Syarah Asmaul-Husna: Ar-Rafiiq, Al-Hayiy, As-Sittir

85. Ar-Rafiiq (Yang Maha Lembut, Maha Halus, Yang Menyertai)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah Maha Lembut, menyukai orang yang lembut, dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada kekerasan.”

Allah Maha Lembut dalam perbuatan-Nya. Dia menciptakan segala makhluk sedikit demi sedikit secara berangsur-angsur sesuai dengan hikmah dan kelembutan-Nya, padahal Dia mampu mencipakan-Nya sekaligus dalam waktu sekejap. Siapa yang berfikir tentang segala makhluk dan merenungkan tentang syari’at bagaimana Allah mendatangkannya sedikit demi sedikit, niscaya ia akan merasakan kekaguman sebagai hasil dari renungannya. Orang yang bersabar dalam perbuatan, menyelesaikan segala urusan dengan lembut, tenang, dan sabar karena mengikuti sunnatullah dan mengikuti Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya hal ini merupakan petunjuk dan jalan-Nya, niscaya mudahlah baginya segala perkara. Lebih utama lagi orang yang berseru dan menyuruh, melarang, dan memberi nasihat kepada orang banyak, dia harus bersikap lembut dan halus; seperti itu pula orang yang disakiti dengan perkataan yang kasar dan dia menjaga lidah dari mencela mereka serta membela dirinya dengan halus dan lembut, niscaya dia terhindar dari segala kejahatan mereka. Dia tidak bisa terhindar jika membalas kejahatan mereka dengan perbuatan yang sama dalam perkataan dan perbuatan, lebih dari itu, ia telah mendapatkan ketenangan, ketentraman, kedamaian, dan sifat santun.

Allah menolong dan membantu hamba-Nya apabila mereka meminta pertolongan kepada-Nya. Dari Anas Radliyallahu ‘anhu bahwasanya seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari Jum’at dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah kemudian, ia berkata, “Ya Rasulullah, harta-harta kami telah sirna dan terputuslah jalan. Karena itu berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan untuk kami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya kemudian berdoa,

Ya Allah, turunkan hujan untuk kami.” (3X)

Allah menolong hamba-Nya dalam keadaan susah dan terdesar. Dia menolong semua hamba-Nya ketika rumit segala perkara mereka dan berada dalam kesusahan dan duka cita. Dia memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang tidak memiliki pakaian, menghilangkan duka cita mereka. Demikian juga, ia mengabulkan doa prang yang dalam keadaan duka cita, susah, dan darurat. Siapa yang meminta tolong kepada-Nya niscaya Ia akan menolongnya. Banyak sekali kisah al-Qur’an dan as-Sunnah tentang pertolongan-Nya dalam melapangkan sakit hati dan duka cita, menghilangkan kesusahan, dan memudahkan yang susah.

86. Al-Hayiy (Yang Maha memiliki sifat malu)
87. As-Sittir (Yang Maha Menutupi)

Nama ini diambil dari hadits,

Sesungguhnya Allah bersifat malu, merasa malu dari hamba-Nya apabila ia menadahkan kedua tangannya lalu hamba-Nya mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

Sesungguhnya Allah Maha Penyantun, malu, lagi menutupi (kesalahan hamba). Dia menyukai sifat malu dan menutup aib. Apabila seseorang di antara kalian mandi, hendaklah ia menutup diri (dari orang lain).”

Ini termasuk bagian dari rahmat, kemuliaan, kesempurnaan, dan santun-Nya. Sesungguhny hamba menampakkan diri kepada-Nya dengan perbuatan maksiat, padahal ia sangat berhajat kepada-Nya, hingga ia tidak mungkin berbuat maksiat, kecuali dengan mendapat kekuatan atasnya dengan nikmat Rabb-Nya. Ar-Rabb, dengan kesempurnaan kekayaan-Nya dari semua makhluk, sebagian dari kemuliaan-Nya adalah merasa malu untuk membuka (dosa hamba), merasa malu menjadikannya (ketahuan orang), dan merasa malu memberikan siksa dengannya. Maka Dia menutupi dosa tersebut dengan segala sebab yang menyebabkan dosa itu tertutup, memaafkan, dan mengampuninya.

Dia melakukan hal yang menjadikan-Nya dicintai oleh hamba-Nya dengan segala nikmat (yang diberikan-Nya), sedangkan mereka melakukan hal yang dibenci oleh Allah dengan bermaksiat kepada-Nya. Kebaikan-Nya kepada mereka setiap saat, sedangkan kejahatan mereka kepada-Nya meningkat. Malaikat yag mulia senantiasa naik kepada-Nya menyampaikan hasil perbuatan makhluk dengan perbuatan maksiat dan setiap yang jahat. Allah merasa malu menyiksa orang yang tumbuh di dalam Islam dan juga merasa malu dari orang yang menadahkan kedua tangannya kembali dengan tangan kososng. Dia menyuruh hamba-Nya berdoa kepada-Nya dan berjanji akan mengabulkannya.

Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Karena sebab ini, ia membenci hamba-Nya yang melakukan maksiat dan menyebarkannya, bahkan ia memberi taubat yang ada di antara seorang hamba dengan-Nya, dosa yang tidak diketahui orang lain. Sesungguhnya orang yang paling dibenci-Nya adalah orang yang berbuat maksiat pada malam hari (kemudian Allah menutupinya) lalu pada pagi harinya ia membuka tabir (yang dengannya Allah tutupi dosa-dosanya pada malam itu) dengan menceritakannya kepada orang lain. Allah ta’alaa berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat…” (An-Nuur: 19)

Semua ini adalah sebagian dari nama-Nya al-Haliim (Yang Maha Penyantun), santun-Nya yang meliputi orang kafir, orang fasik, dan ahli maksiat. Dia menahan siksa-Nya yang cepat kepada orang yang zhalim. Dia memberikan tenggang waktu kepada mereka agar bertaubat, tetapi tidak akan memberikan tenggang waktu jika mereka terus-menerus berada dalam kezhaliman dan tidak mau kembali (tidak bertaubat).

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.