Syarah Asmaul-Husna: Ar-Rabb, Allah, Al-Malik, Al-Maliik , Maalikul Mulki

60. Ar-Rabb

Allah ta’alaa berfirman,

Katakanlah, ‘Apakah aku akan mencari rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu.’” (Al-An’aam: 164)

Dia Yang memelihara semua hamba-Nya dengan mengatur dan memberikan berbagai macam nikmat. Yang lebih istimewa dari itu adalah pemeliharan (yang diberikan)-Nya kepada kekasih-kekasih-Nya dengan memperbaiki hati, jiwa, dan akhlak mereka. Karena itulah banyak doa mereka kepada-Nya dengan nama yang agung ini. Mereka memohon dari-Nya pemeliharaan yang istimewa ini.

61. Allah

Dia-lah yang dipatuhi dan diibadahi, yang memiliki sifat ketuhanan dan sesembahan segala makhluk-Nya, karena Dia memiliki segala sifat ketuhanan yang merupakan sifat kesempurnaan.

62. Al-Malik (Yang Maha Memiliki, Yang Menguasai)
63. Al-Maliik (Pemilik Kerajaan)
64. Maalikul mulki (Raja dari semua raja).

Allah ta’alaa berfirman,

Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak ada Ilah (yang behak diibadahi) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minuun: 116)

Di tempat yang disenangi di sisi (Rabb) Yang Maha Berkuasa.” (Al-Qamar: 55)

Katakanlah, ‘Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan engkau cabut kerjaan dari orang yang Engaku kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaijikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ali ‘imran: 26)

Dia-lah yang disifati dengan sifat mulk, yaitu sifat kebesaran dan keagungan, menguasai dan mengatur, Dia punya hal memperlakukan secara mutlak dalam menciptakan, memerintahkan, dan membalas.

Milik-Nya seluruh alam, yang di langit dan yang di bumi, semuanya adalah hamba-Nya dan butuh kepada-Nya. Dia-lah Rabb, Ilah Yang Haq. Dia menciptakan mereka (makhluk) dengan ketuhanan-Nya, menguasai mereka dengan kerajaan-Nya, dan menjadikan mereka hamba dengan Uluhiyyah-Nya. Maka renungkanlah kebesaran dan keagungan ini yang terkandung dalam tiga lafazh di atas dengan sebaik-baiknya. Rabb manusia, Raja manusia, Ilah manusia. Adapun kandungan terhadap Asma’ul-Husna, sesungguhnya ar-Rabb, adalah Yang berkuasa, menciptakan, mengadakan, Yang memberi bentuk dan rupa Yang Maha Hidup, Yang menegakkan segala urusan makhluk-Nya, Yang Maha Tahu, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat, Yang berbuat kebaikan, Yang memberi nikmat, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Memberi, Yang mendatangkan mudharat dan memberi manfaat, Yang mendahulukan, Yang mengakhirkan, Yang menyesatkan dan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, memberikan keberuntungan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan mencelakakan, memuliakan dan menjadikan hina orang yang dikehendaki-Nya dan seterusnya dari makna Rububiyyah-Nya yang dari itulah Dia memiliki Asmaul-Husna.

Adapun sifat mulk, Dia-lah yang memerintah, melarang, memuliakan, menghinakan, yang melaksanakan segala urusan hamba-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki, dan membalikkan (keadaan) mereka seperti yang dikehendaki-Nya, dan bagi-Nya dari makna mulk yang dimiliki-Nya dari Asma’ul-Husna seperti;

Al-‘Aziiz (Yang Maha Perkasa), al-Jabbaar (Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa memaksakan kehendak-Nya kepada semua makhluk), al-Mutakabbir (Yang mempunyai segala kebesaran dan keagungan), al-Hakam (Yang menetapkan keputusan atas segala ciptaan-Nya), al-‘Adl (Yang Maha Adil), al-Khaafidh (Yang Merendahkan), ar-Raafi’ (Yang mengangkat hamba-Nya), al-Mu’izz (Yang memuliakan), al-Mudzill (Yang menghinakan), al-‘Azhiim (Yang Maha Agung), al-Jaliil (Yang Maha Besar), al-Kabiir (Yang Maha Besar), al-Hasiib (Yang memberi kecukupan dengan kadar yang tepat), al-Majiid (Yang Maha Mulia, Yang Maha Terpuji), al-Waliy (Yang Melindungi), al-Muta’aali (Yang Maha Tinggi), Maalikul mulki (Raja dari segala raja), al-Muqsith (Yang Maha Adil), al-Jaami’ (Yang mengumpulkan), dan seterusnya dari nama-nama yang kembali kepada kekuasaan.

Adapun nama (Ilah) menghimpun seluruh sifat kesempurnaan dan sifat kebesaran, terkandung dalam nama ini seluruh Asma’ul-Husna. Oleh karena itu, pendapat yang paling shahih bahwasanya lafazh Allah berasal dari lafazh al-Ilaah sebagaimana yang dikatakan Sibawaihi dan mayoritas pengikutnya, dan bahwasanya nama Allah menghimpun segala makna Asma’ul Husna dan Shifaatul ‘Ulaa (sifat-sifat yang tinggi). Sesungguhnya tiga nama ini telah mencakup seluruh nama-Nya Yang Indah. Maka orang yang berlindung dengan-Nya pasti dilindungi, dipelihara, dan dicegah dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, serta setan tidak akan dapat menguasai.

Apabilah hanya Dia-lah Rabb, Raja, dan Ilah kita, maka tidak ada tempat mengadu bagi kita dalam kesusahan, kecuali hanya kepada-Nya dan tidak ada tempat berlindung bagi kita dari padanya, kecuali kepada-Nya, serta tiada bagi kita yang diibadhi selain Dia. Maka tidak sepantasnya yang dipanggil, yang ditakuti, yang diharapkan, dan yang dicintai selain Dia. Tiada tempat untuk menghinakan diri kepada selain-Nya, tiada yang menjadikan tunduk bagi selain Dia, dan tidak ada yang dijadikan tempat bertawakkal kecuali kepada-Nya.

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.