Syarah Asmaul-Husna: Al-Hayyu – Nuurus Samaawaati wal Ardhi

57. Al-Hayyu (Yang Maha Hidup)
58. Al-Qayyuum (Yang tegak dan menegakkan segala urusan makhluk-Nya)

Allah ta’alaa berfirman,

Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia Yang hidup bekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)…” (Al-Baqarah: 255)

Alif laam miim. Allah, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi), melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).” (Ali ‘Imran: 1-2)

Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezhaliman.” (Thaahaa: 111)

Yang keduanya termasuk asma’ Allah. Adapun (al-Hayyu al-Qayyuum) mengumpulkan keduanya sangatlah pantas, sebagaimana Allah telah mengumpulkan keduanya pada beberapa tampat dalam kitab-Nya (al-Qur’an). Yang demikian itu karena keduanya mencakup semua sifat kesempurnaan. Al-Hayyu adalah Yang Hidup sempurna, yang mengandung semua sifat dzatiyyah bagi Allah, seperti ilmu, keperkasaan, kekuasaan, keinginan, kebesaran, keagungan, dan yang lainnya dari sifat-sifat dzatiyyah yang suci. Al-Qayyuum, yaitu menegakkan urusan makhluk-Nya dengan sempurna dan hal ini mempunyai dua makna;

1. Dia-lah yang berdiri sendiri, agung sifat-Nya, dan tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Nya.
2. Menegakkan bumi, langit, dan segala makhluk yang ada di antara keduanya. Dia-lah yang mengadakannya dan menolongnya serta menyiapkan bagi segala sesuatu yang membuatnya (makhluk) tetap (ada di bumi), kebaikannya, dan tegaknya. Dia-lah Yang Maha Kaya dari semua makhluk secara mutlak (tidak memerlukan makhluk) dan merekalah yang berhajat kepada-Nya secara mutlak. Maka al-Hayyu dan al-Qayyuum ialah Yang memiliki sifat kesempurnaan dan Dia-lah Yang memperbuat apa yang diinginkan-Nya.

59. Nuurus Samaawaati wal Ardhi (Cahaya langit dan bumi)

Allah ta’alaa berfiman,

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tida disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nuur: 35)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Yaa Allah, hanya milik-MU segala pujian, Engkaulah pemberi cahaya kepada langit dan bumi dan siapa-siapa yang ada padanya…

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak sepantasnya Dia tidur; menurunkan timbangan (keadilan) dan menaikkannya; diangkat kepada-Nya amal (perbuatan) malam hari sebelum amal siang hari dan diangkat amal siang hari sebelum amal malam hari; hijab-Nya (tabir-Nya) adalah cahaya, andaikan Dia membukanya niscaya cahaya dan kebesaran wajah-Nya akan membakar semua makhluk-Nya yang dilihat-Nya.”

Syaikh Abdurrahman Nashi as-Sa’di Rahimahullah berkata, “Sebagian dari asma’ Allah dan sifat-Nya adalah an-Nuur yang merupakan sifat-Nya yang agung. Sesungguhnya Dia memiliki kebesaran dan keagungan, yang memiliki cahaya dan kebesaran yang jika dibuka hijab-Nya dari wajah-Nya yang mulia, niscaya cahaya-cahaya dan kebesaran-Nya akan membakar segala sesuatu yang dilihat-Nya dari makhluk-Nya. Dia-lah yang bercahaya dengan-Nya seluruh alam dan dengan cahaya wajah-Nya teranglah kegelapan, dan dengan-Nya itulah ‘Arsy, Kursi, lapisan yang tujuh, dan seluruh alam menjadi bercahaya.”

An-Nuur ada dua bagian:
1. Secara inderawi, seperti alam semesta ini yang tidak akan mempunyai cahaya, kecuali dari cahaya-Nya.
2. Nuur maknawi, yang didapat dalam hati dan ruh yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya. Maka mengetahui al-Kitab dan as-Sunnah serta mengamalkan keduanya akan menerangi hati, pendengaraan, dan penglihatan, dan ia menjadi cahaya bagi hamba di dunia maupun di akhirat.

… Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nuur: 35)

Karena Dia telah menyebutkan bahwasanya Dia-lah Yang Pemberi cahaya langit dan bumi dan Dia memberikan nama kepada Kitab-Nya nuur dan Rasul-Nya nuur dan wahyu-Nya nuur.

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.