Syarah Asmaul-Husna: Al-Fattaah – Ar-Raaziq

54. Al-Fattaah (Yang Maha Pemberi keputusan)

Allah ta’alaa berfirman,

Katakanlah, ‘Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (Saba’: 26)

Al-Faatih ialah keputusan Yang Maha Baik lagi Maha Pemurah, keputusan-Nya terbagi dua;
1. Keputusan-Nya dengan hukum-Nya dalam masalah agama dan keputusan-Nya dalam persoalan pembalasan.
2. Yang Maha Pemberi keputusan dengan hukum-Nya yang bersifat qadar.
Keputusan-Nya dalam hukum agama-Nya adalah syari’at-Nya kepada apa yang diperlukan oleh orang-orang yang diberi beban yang disampaikan lewat lisan para Rasul dan mereka tetap konsisten di jalan yang lurus. Adapun keputusan-Nya dengan pembalasan-Nya, yaitu keputusan-Nya di antara para Nabi dan penentang mereka, di antara kekasih dan musuh-musuh-Nya dengan memuliakan para Nabi, pengikutnya dan menyelamatkan mereka. Allah menjadikan hina musuh-musuh mereka serta menyiksa mereka.

Demikian pula keputusan-Nya pada hari Kiamat dan keputusan-Nya terhadap semua makhluk ketika diberi balasan orang yang beramal sesuai dengan amalnya. Adapun keputusan-Nya yang bersifat qadar, yaitu apa yang diputuskan-Nya terhadap hamba-Nya, yang baik dan buruk, manfaat dan mudharat, pemberian dan pencegahan. Allah ta’alaa berfirman,

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Faathir: 2)

Rabb, Dia-lah Yang Maha Pemberi Keputusan, Yang Maha Tahu, Yang membuka perbendaharan kemurahan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan membuka kepada musuh-musuh-Nya lawan yang demikian itu. Hal itu menunjukkan keutamaan dan keadilan-Nya.

55. Ar-Razzaaq (Yang Maha Pemberi Rizki).
56. Ar-Raaziq (Yang Memberi Rizki).

Allah ta’alaa berfirman,

Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rizki.” (Adz-Dzariyaat: 58)

… Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rizkinya.” (Huud: 6)

Rizki-Nya kepada hamba-hamba-Nya ada dua bagian, secara umum dan khusus;

1. Rizki umum, yaitu Dia menyampaikan kepada sekalian makhluk semua yang diperlukannya dalam kehidupan dan menjalaninya. Dia memudahkan rizki baginya dan mengatur dalam tubuhnya, menyalurkan kepada semua anggota tubuh yang kecil dan besar sesuatu yang diperlukan sebagai gizi. Rizki ini berlaku umum bagi orang yang baik dan jahat, muslim dan kafir, bahkan bagi semua anak Adam, jin, Malaikat, dan hewan seluruhnya. Rizki ini umum pula dari sisi yang lain pada diri orang-orang yang mukallaf.

Sesungguhnya rizki itu terkadang berasal dari yang halal, yang tidak ada tanggung jawab terhadap hamba di dalamnya. Sebaliknya, terkadang rizki itu berasal dari yang haram dan diberi nama rizki dan nikmat dengan dilihat dari sudut pandang ini, dan dikatakan, “Allah memberi rizki kepadanya.” Tidak ada perbedaan, apakah ia mendapatkan harta itu dari yang halal atau haram, yang demikian itu semata-mata merupakan rizki.

2. Adapun rizki yang mutlak, ia merupakan bagian yang kedua yang itulah rizki yang khusus. Ia adalah rizki yang memberi manfaat terus-menerus di dunia dan akhirat. Rizki inilah yang ada di tangan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang terbagi dua;
a. Rizki hati dengan ilmu, iman dan segala hakikat yang demikian itu. Sesungguhnya hati sangat mengharapkan agar mengetahui serta menginginkan kebenaran, juga menghamba kepada Allah dan beribadah. Dengan demikian, kekayaan akan didapatnya dan hilanglah kefakirannya.
b. Rizki fisik dengan mendapatkan rizki yang halal yang tidak ada tanggung jawab padanya. Sesungguhnya rizki yang dikhususkan kepada orang-orang yang beriman dan yang mereka minta dari-Nya itu mengandung dua perkara. Maka sepatutnya bagi seorang hamba apabila ia berdoa kepada Rabb-nya untuk mendapatkan rizki agar menghadirkan dengan hatinya dua perkara ini. Dengan demikian, pengertian, “Ya Allah, berilah rizki kepadaku.” Artinya sesuatu yang memperbaiki hatiku baik berupa ilmu, petunjuk, maupun ma’rifat; baik berupa keimanan yang mencakup semua amal shalih maupun akhlak yang baik. Selain itu yang memperbaiki tubuhku dengan mendapatkan rizki yang halal lagi mudah, yang tidak ada kesulitan dalam mendapatkannya dan tiada keletihan merintangi-Nya.

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.