Syarah Asmaul-Husna: Ar-Rahmaan – Ar-Ra-uuf

49. Ar-Rahmaan (Yang Maha Pengasih).
50. Ar-Rahiim (Yang Maha Penyayang).
51. Al-Kariim (Yang Maha Pemurah).
52. Al-Akram (Yang Paling Pemurah).
53. Ar-Ra-uuf (Yang Maha Belas Kasihan).

Allah ta’alaa berfirman,

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Faatihah: 2-3)

… Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, aka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An-Naml: 40)

… Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah sangat penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (Ali-‘Imran: 30)

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah, “Ar-Rahmaan, ar-Rahiim, al-Barru al-Kariim, al-Jawwaad, ar-Ra-uuf, dan al-Wahhaab, asma’ tersebut maknanya berdekatan dan semuanya menunjukkan bahwasanya Rabb bersifat rahmat, kebaikan (yang melimpah), pemurah, sangat permurah, dan menunjukkan atas rahmat-Nya yang luas dan pemberian-Nya yang menyeluruh terhadap semua yang ada sesuai dengan hikmah-Nya. Dari semua itu, Dia memberikan prioritas kepada orang-orang yang beriman dengan jatah yang lebih banyak dan bagian yang lebih sempurna.” Allah ta’alaa berfirman,

… Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-A’raaf: 156)

Segala nikmat dan kebaikan, seluruhnya berasal dari rahmat dan kemurahan-Nya. Segala kebaikan, baik duniawi maupun ukhrawi, semuanya berasal dari rahmat-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata tentang tafsir firman Allah,

Bacalah, dan Rabb-mu lah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaaq: 3-5)

Dia memberi nama dan mensifati diri-Nya dengan kemurahan. Bahwasanya Dia-lah yang paling pemurah sesudah memberikan kabar bahwa Dia-lah yang menciptakan, agar jelas bahwa hanya Dia-lah yang memberi nikmat kepada semua makhluk dan menyampaikan mereka kepada tujuan yang terpuji, sebagaimana firman-Nya,

Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya). Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (Al-A’laa: 2-3)

(Yaitu, Rabb) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku.” (Asy-Syu’araa: 78)

Penciptaan mengandung makna permulaan dan kemurahan mengandung makna kesudahan. Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Fatihah “Rabbil ‘aalamiin” kemudian firman-Nya “ar-Rahmaan-ar-Rahiim”. Kalimat “al-Karam” mencakup makna segala kebaikan dan pujian, bukanlah yang dimaksud hanya pemberian semata, tetapi pemberian adalah sebagian dari kesempurnaan makna-Nya. Maka sesunggunya kebaikan kepada yang lain merupakan kesempurnaan, sedangkan kebaikan yang bertubi-tubi, dan kemurahan adalah kebaikan yang banyak dan kemudahan-Nya.

Allah mengkhabarkan bahwa Dia-lah Yang paling pemurah (al-Akram) dengan shighat tafdhiil (menunjukkan superlatif/yang paling) dan dengan alif dan lam ma’rifat. Maka hal itu menunjukkan bahwasanya hanya Dia-lah Yang paling pemurah. Hal ini berbeda jika Dia berkata, “Wa Rabbuka Akram” (tanpa alif-lam), maka hal itu tidak menunjukkan hashr (pembatasan bahwa Dia-lah yang paling pemurah). Firman-Nya (al-Akram) menunjukkan hashr dan Dia tidak mengatakan (al-Akram min hadza), tetapi Dia memakai isim yang mutlak supaya nyata bahwa hanya Dia-lah yang paling pemurah tanpa ada yang mengikat-Nya. Hal itu menunjukkan bahwasanya Dia bersifat dengan kemuliaan yang sempurna yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya dan tidak ada kekurangan pada-Nya.

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.