Syarah Asma’ul-Husna: Al-Waduud – Asy-Syakuur

34. Al-Waduud (Yang Maha Pengasih)

Allah berfirman,

Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (Huud: 90)

Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih…” (Al-Buruuj: 14)

Al-Wadd berasal dari lafazh al-Wudd, dibaca dengan dhammah waw yang berarti cinta yag murni. Maka al-Waduud adalah yang mencintai dan dicintai. Berarti (Yang Mengasihi) para Nabi, Malaikat, hamba-Nya yang beriman. Dia-lah yang dicintai oleh mereka. Bahkan, tidak ada yang lebih dicintai oleh mereka selain Dia. Cinta para kekasih-Nya kepada-Nya tidak bisa diimbangi dengan kecintaan kepada apa pun juga, baik hakikatnya maupun kaifiyyat-nya, ataupun kaitan-kaitannya. Cinta kepada Allah sepeti ini yang harus ada pada setiap hati hamba, mendahului dan mengalahkan semua cinta, dan segala yang dicintai harus mengikuti kecintaan kepada-Nya.

Cinta kepada Allah adalah ruh ibadah. Semua penghambaan yang zhahir dan bathin berawal dari kecintaan kepada Allah. Kecintaan hamba kepada Rabb-nya adalah karunia dan ihsan dari Allah, bukan berasal dari daya dan kekuatan hamba. Dia yang memberikan kecintaan kepada hamba-Nya dan menjadikan kecintaan tertanam dalam hatinya. Kemudian, tatkala hamba mencintai-Nya dengan taufik-Nya, Allah membalasnya dengan cinta yang lain. Ini adalah ihsan (perbuatan baik) yang sebenar-benarnya sebab berasal dari-Nya dan akibat juga dari-Nya. Bukanlah yang dimaksud dengannya sebagai balas budi. Bahwasanya yang demikian itu kecintaan dari Allah kepada hamba-Nya yang bersyukur dan karena syukur mereka. Semua mashlahat akhirnya berpulang kepada hamba. Maha Suci Allah yang menjadikan dan menitipkan rasa cinta di hati hamba-Nya yang beriman. Kemudian, Ia senantiasa menambahkannya (cinta) dan menguatkannya sehingga sampailah cinta tersebut di hati mereka dalam kondisi ketika semua yang disukai menjadi kecil di sisinya. Cinta itu menjadikan mereka membenci segala yang disukai, musibah terasa mudah, kesusahan melaksanakan ketaatan terasa enak, dan semua itu membuahkan berbagai macam kemuliaan (karamah) yang mereka kehendaki. Yang tertinggi adalah cinta Allah, keberuntungan mendapat ridha-Nya, dan tentang berada di dekat-Nya.

Kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya diliputi dengan dua cinta dari Rabb-nya, cinta sebelumnya sehingga jadilah ia mencintai Rabb-nya dengannya (cinta) dan cinta sesudahnya sebagai syukur dari Allah atas cinta sehingga jadilah ia termasuk kekasih-kekasih-Nya yang ikhlas. Usaha terbesar yang diupayakan seorang hamba untuk mendapat cinta Rabb-nya dan merupakan tuntunan terbesar adalah memperbanyak dzikir dan memuji-Nya, banyak bertaubat kepada-Nya, tawakkal yang kuat dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah wajib dan Sunnah, serta mewujudkan keikhlasan kepada-Nya dalam setiap perkataan dan perbuatan, dan selalu mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik secara zhahir dan bathin. Seperti firman Allah,

Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu…” (Ali ‘Imran: 31)

35. Asy-Syaakir (Yang mensyukuri amal kebaikan hamba-Nya)
36. Asy-Syakuur (Yang Maha Mensyukuri)

Allah ta’alaa berfirman,

… Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 158)

Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun.” (Ath-Thaghaabun: 17)

… Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (An-Nisaa’: 147)

Sebagian dari asma’-Nya adalah asy-Syaakir asy-Syakuur, yang tidak pernah sia-sia usaha orang yang beramal karena mengharapkan wajah-Nya, bahkan Allah akan menggandakannya beberapa kali lipat.

Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang melakukan perbuatan baik. Dia telah menceritakan dalam kitab-Nya (al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya bahwa Dia akan melipatgandakan satu kebaikan dengan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, sampai kepada kelipatan yang banyak. Hal itu sebagai syukur-Nya bagi hamba-Nya. Maka dengan pengawasan-Nya apa yang dipikul oleh orang yang memikul karena-Nya. Siapa yang melakukan (ibadah) karena-Nya, niscaya Ia akan memberinya di atas yang sudah ditambah. Siapa yang meninggalkan sesuatu (yang dilarang) karena-Nya, niscaya Ia akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Dia yang memberi taufik kepada hamba-Nya untuk mendapatkan keridhaan-Nya kemudian mensyukuri dan memberi mereka sebagian dari kemulian-Nya (karamah-Nya), yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terbayang dalam hati manusia. Semua ini bukan hak yang wajib atas-Nya. Hanya saja, Ia mewajibkan hal itu kepada diri-Nya sebagai kemurahan dari-Nya.

Tidak ada paksaan atas-Nya jika ada hamba yang mengharuskan kepada-Nya (untuk melakukan) sesuatu. Allah berfirman,

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan mereka lah yang akan ditanyai.” (Al-Anbiyaa’: 23)

Memberi pahala kepada orang yang taat bukan sebuah keharusan bagi Allah. Demikian pula menyiksa orang yang durhaka (bukan keharusan bai Allah), juga memberi pahala hanya semata-mata karunia dan ihsan-Nya, dan menyiksa itu semata-mata keadilan dan hikmah-Nya (kebijaksanaan-Nya). Allah mewajibkan kepada diri-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Maka hal itu menjadi wajib kepada-Nya karena tuntutan janji-Nya yang pasti ditepati. Seperti firman Allah,

… Rabb-mu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-An’aam: 54)

… Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Ar-Ruum: 47)

Bahwasanya madzhab Ahlus Sunnah meyakini bahwa seorang hamba tidak memiliki hak untuk mewajibkan sesuatu terhadap Allah. Apabila ada sesuatu yang hak, maka Dia-lah yang mewajibkannya (menjadikan hal itu wajib atas-Nya). Karena itu, tidak ada ibadah yang sia-sia di sisi-Nya, yaitu ibadah yang terlaksana atas dasar ikhlas dan mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab keduanya adalah syarat yang sangat mendasar untuk diterimanya semua ibadah.

Apapun yang menimpa seorang hamba, baik nikmat (yang diperoleh) atau terhindar dari bahaya, semua itu berasal dari Allah sebagai karunia dan kemurahan dari-Nya. Jika Ia memberikan nikmat, hal itu dari karunia dan ihsan-Nya. Jika Ia menyiksa mereka maka itu dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Dia-lah Yang dipuji atas semua itu.

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.