Syarah Asma’ul-Husna: Al-Haliim – Al-Ghaffaar

23. Al-Haliim (Yang Maha Penyantun)

Allah ta’alaa berfirman,

… Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 235)

Yang mencurahkan segala nikmat yang zhahir dan bathin, kepada para makhluk-Nya, padahal mereka banyak berbuat maksiat dan kesalahan. Dia bermurah hati menghadapi orang-orang yang durhaka dengan kedurhakaan mereka. Dia menegur mereka agar bertaubat dan menangguhkan (adzab) kepada mereka agar mereka kembali. Dialah yang bagi-Nya sifat santun yang sempurna, yang meliputi orang kafir, fasik, dan durhaka, Dia menangguhkan (adzab) bagi merek dan tidak menyiksa mereka secara langsung (setelah mereka berbuat maksiat) agar mereka bertaubat. Jika Dia menghendaki, Ia bisa menurunkan adzab dikarenakan dosa yang mereka lakukan dengan segera. Sesungguhnya dosa mendatangkan berbagai macam siksa yang segera, namun sifat santun-Nya menuntut penangguhan (adzab) kepada mereka. Seperti firman Allah ta’alaa,

Dan jika sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun. Akan tetapi, Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Faathir: 45)

Jikalau Allah menghukum manusia karena kezhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)

24. Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf)
25. Al-Ghafuur (Yang Maha Pengampun)
26. Al-Ghaffaar (Yang Maha Pengampun)

Allah ta’alaa berfirman,

… Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (Al-Hajj: 60)

Yang senantiasa dan selalu dikenal bersifat maaf, senantiasa bersifat pengampun dan pemaaf kepada hamba-hamba-Nya.
Setiap orang butuh kepada maaf dan ampunan-Nya, seperti ia butuh kepada rahmat dan kemurahan-Nya. Dia menjanjikan ampunan dan maaf-Nya bagi orang yang bertaubat dengan melaksanan syarat-syaratnya. Allah ta’alaa berfirman,

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaahaa: 82)

Sifat maaf Allah adalah maaf yang lengkap, lebih luas dari dosa-dosa yang dilakukan hamba-Nya. Apalagi jika mereka datang dengan istighfar, taubat, iman, dan amal-amal shalih yang menyebabkan mendapatkan maaf dari dosa mereka. Dialah yang menerima taubat hamba-Nya dan memaafkan kesalahan. Dia Yang Maha Pengampun dan menyukai ampunan. Dia menyukai hamba-Nya yang berusaha mendapatkan maaf-Nya, baik berupa usaha untuk mendapatkan keridhaan-Nya maupun berbuat baik kepada hamba-Nya.

Termasuk kesempurnaan maaf-Nya jika seorang hamba menzhalimi dirinya sendiri kemudian bertaubat dan kembali kepada-Nya, niscaya Ia mengampuni semua dosanya, yang kecil dan yang besar. Dia menjadikan islam menghapus dosa sebelumnya dan taubat menghapus dosa sebelumnya. Allah ta’alaa berfirman,

Katakanlah, ‘Wahai, hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)

Dalam sebuah hadits Allah berfirman,

Wahai manusia, jika kamu datang kepada-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, niscaya Aku akan datang dengan ampunan sepenuh bumi pula.”

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

… Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya.” (An-Najm: 32)

Allah telah membuka segala sebab untuk mendapatkan ampunan dengan taubat, istighfar, iman, amal shalih, berbuat baik kepada hamba Allah dan memaafkan mereka, keinginan yang kuat untuk mendapatkan karunia Allah, baik sangka kepada Allah dan perkara-perkara lain yang dijadikan Allah sebagai pendekat kepada ampunan-Nya.

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.