Syarah Asma’ul-Husna: Al-Bashiir – Al-Khaabir

12. Al-Bashiir (Yang Maha Melihat)

Penglihatan-Nya meliputi segala yang dilihat di penjuru bumi dan langit, hingga sesuatu yang paling tersembunyi yang ada di sana. Dia melihat gerakan semut hitam di atas batu yang hitam di malam yang gelap gulita, seluruh anggota tubuhnya yang tersembunyi dan yang tampak serta perjalanan makanan dalam anggota tubuhnya yang terkecil. Dia juga melihat perjalanan air di dahan-dahan pohon dan akarnya serta seluruh tumbuhan yang berbeda jenis, kecil, dan halusnya. Dia melihat tubuh semut yang bergantungan, lebah, lalat, dan yang lebih kecil dari itu. Maha Suci Dia yang membuat takjub semua orang pada kebesaran-Nya, luasnya hubungan sifat-Nya, kebesaran-Nya yang sempurna, kelembutan-Nya, pengetahuan-Nya terhadap hal gaib dan nyata. Dia melihat curian mata (mata yang khianat), gerakan kelopak mata, dan gerakan hati.

Allah ta’alaa berfirman,

Yang melihat kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Asy-Syu’araa: 218-220)

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Al-Mu’min: 19)

… Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Buruuj: 9)

Ilmu, penglihatan, dan pendengaran-Nya memperhatikan dan meliputi segala sesuatu.

13. Al-‘Aliim (Yang Maha Mengetahui)
14. Al-Khaabir (Yang Maha Mengenal/Yang Maha Mengetahui)

Allah ta’alaa berfirman,

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah yang Maha bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’aam: 18)

… Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Anfaal: 75)

Dialah al-‘Aalim (Yang Maha Mengetahui) yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, segala yang wajib, yang mustahil, dan yang mungkin. Dia mengetahui diri-Nya Yang Maha Mulia, sifat-sifat-Nya Yang Maha Suci, dan Yang Maha Agung. Inilah yang wajib, yang tidak mungkin, kecuali adanya. Dia mengetahui segala yang mustahil ketika tercegahnya dengan mengetahui yang akibatnya jika diadakan. Allah ta’alaa berfirman,

Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah tentulah keduanya itu sudah rusak binasa…” (Al-Anbiyaa’: 22)

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Ilah (yang lain) beserta-Nya. Jika ada ilah beserta-Nya, masih-masing Ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian Ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain.” (Al-Mu’minuun: 91)

Dalam ayat ini dan yang menyerupainya merupakan penyebutan ilmu-Nya (pengetahuan-Nya) mengenai hal-hal yang mustahil terjadi. Pemberitahuan-Nya dengan sesuatu yang akan terjadi, jika hal (yang mustahil) itu terjadi, sebagai sebuah asumsi dan perumpamaan. Dia juga mengetahui segala yang mungkin, yaitu yang boleh ada dan tiada, juga hal-hal yang sudah ada atau belum diciptakan karena hal tersebut tidak layak ada pada waktu belum diciptakan karena hal tersebut tidak itu. Dia al-‘Aliim yang ilmu-Nya langit dan bumi, meliputi tempat maupun waktu (zaman). Dia mengetahui yang ghaib dan yang Nampak, yang zhahir dan yang bathin. Allah ta’alaa berfirman,

… Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Anfaal: 75)

Nash-nash dalam menyebutkan ilmu Allah dan pengetahuan-Nya yang meliputi segala sesuatu secara mendetail sangat banyak, tidak mungkin menyebutkannya satu persatu. Sesungguhnya tidak ada yang tersembunyi dari-Nya walau hanya sekecil dzarrah, di bumi dan di langit, tiada pula yang lebih kecil dan lebih besar. Dia tidak pernah lalai dan lupa. Sesungguhnya semua ilmu makhluk, bagaimana pun uas dan banyaknya, jika dibandinkan dengan ilmu Allah, niscaya akan sirna dan pudar, sebagaimana kemampuan mereka dibandingkan dengan kemampuan Allah, niscaya tidak ada apa-apanya. Dia yang mengajarkan kepada mereka apa yang tidak mereka ketahui. Memberikan kemampuan terhadap apa yang sebelumnya tidak mampu mereka lakukan. Sebagaimana ilmu-Nya meliputi seluruh alam, baik yang di langit atau di bumi, juga seluruh makhluk yang ada padanya, baik dzat, sifat, perbuatan, dan seluruh perkara mereka. Dia mengetahui yang telah terjadi dan yang akan terjadi pada masa yang akan datang, yang tidak ada akhirnya. Demikian pula sesuatu yang belum pernah ada, jika ada, bagaimana nanti wujudnya. Dia mengetahui keadaan orang-orang yang mukallaf (baligh dan berakal) sejak menumbuhkan sampai mematikan mereka dan juga sesudah menghidupkan mereka kembali (hari Kiamat). Ilmu-Nya meliputi semua perbuatan mereka, yang baik dan yang buruk, balasan bagi semua perbuatan dan perinciaannya pada hari yang tetap (hari Kiamat).

Kesimpulan, bahwasanya ilmu Allah meliputi segala yang tampak dan tersembunyi, rahasia dan terang-terangan. Mengetahui segala yang wajib, mustahil, dan yang mungkin. Mengetahui segala yang di langit dan di bumi, masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, tiada sesuatu yang samar dari pengetahuan Allah.

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.