Syarah Asma’ul Husna: Al-Majiid – As-Samii’

9. Al-Majiid (Yang Maha Mulia/Yang Maha Terpuji)

Al-Majiid, artinya, bagi-Nya pujian yang agung, al-Majd adalah kebesaran sifat dan kekuasaannya. Seluruh sifat Allah sangat agung kedudukannya, Dia-lah Yang Maha Mengetahui, yang sempurna ilmu-Nya, Yang Maha Penyayang, dan yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Al-Qadiir (Yang Maha Kuasa), yang tidak ada sesuatu pun dapat melemahkan-Nya, al-Haliim (Yang Maha Penyantun) yang sempurna dalam penyantunan-Nya. Al-Hakiim (Yang Maha Bijaksana) yang sempurna dalam kebijaksanaan-Nya. Demikian juga untuk semua asma’ dan sifat-Nya yang lain. Yang sampai pada puncak kemuliaan, tidak ada sedikit pun kekurangan dari sifat itu.

…Rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Huud: 73)

10. Al-Kabiir (Yang Maha Besar)

Dia memiliki sifat kemuliaan, kebesaran, keagungan, dan kebesaran. Yang paling besar, yang paling agung, dan yang paling tinggi dari segala sesuatu.

Hanya milik-Nya kebesaran dan keagungan dihati wali-wali-Nya dan kekasih-kekasih-Nya.
Hati mereka sepenuhnya mengagungkan, membesarkan, tunduk dan merendahkan diri kepada kebesaran-Nya. Allah ta’alaa berfirman,

Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu peraya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.” (Al-Mu’min: 12)

11. As-Samii’ (Yang Maha Mendengar)

Allah ta’alaa berfirman,

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisaa: 134)

Seringkali Allah menyertakan antara sifat sam’ dan bashar, keduanya meliputi segala sesuatu, yang tampak dan yang tersembunyi. As-Samii’ adalah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu yang didengar. Segala suara yang ada di alam atas (langit) dan yang di bumi, Dia mendengar yang tersembunyi dan yang tidak. Di sisi-Nya semuanya seperti satu suara. Suara itu tidak ada yang tercampur atas-Nya. Semua bahasa tidak ada yang samar bagi-Nya. Suara yang jauh dan dekat, yang rahasia dan nyata, di sisi-Nya semua adalah sama. Allah ta’alaa berfirman,

Sama saja (bagi Rabb), siapa di antara kamu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan berjalan (menampakkan diri) di siang hari.” (Ar-Ra’d: 10)

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Mujaadilah: 1)

Aisyah Radliyallahu ‘anhaa berkata, “Maha Suci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala suara. Sungguh telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan dan mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara saya berada di samping kamar, dan sungguh tidak jelas bagi saya sebagian dari perkataannya. Maka Allah menurunkan ayat:

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya…” (Al-Mujaadilah: 1)

Pendengaran Allah meliputi dua bagian:

Pertama, pendengaran-Nya bagi segala suara, yang nyata dan tersembunyi, yang samar dan jelas. Dia meliputinya dengan sempurna.

Kedua, pendengaran yang berarti pengabulan bagi orang yang meminta, berdoa dan beribadah kepada-Nya. Dia mengabulkan dan memberi pahala kepada mereka. Sebagaimana firman Allah,

…Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (Ibrahim: 39)

Adapun perkataan orang yang shalat “Sami’ Allahu liman hamidah” Maksudnya adalah Allah mengabulkan bagi orang yang memuji-Nya.

Sumber: DR. Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthani. Syarah Asma’ul Husna”. Terj. Abu Fatimah Muhammad Iqbal Ahmad Ghazali. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i. 2005.