Hidangan Penghuni Surga

Makanan dan Minuman Penghuni Surga

Allah ta’alaa berfirman,

(Kepada penghuni surga dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan nikmat, disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang lalu.” (Al-Haqqah: 24).

Di ayat lain Allah menjelaskan,

Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kaca, (piala-piala itu terbuat) dari perak, yang telah diukur oleh-Nya dengan sebaik-baiknya.” (Al-Insan: 15-16).

Maksudnya adalah, minuman itu ada dalam piala-piala sebening kaca. Piala-piala itu terbuat dari perak. Jenis perak seperti ini tentu saja tidak ada padanannya di dunia. Isi piala-piala itu telah diukur oleh Allah secukupnya untuk minum, tidak lebih dan tidak kurang. Dan ini menunjukkan betapa perhatian dan kemuliaan yang diberikan Allah kepada mereka.

Allah ta’alaa berfirman,

Setiap kali mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Dan mereka (memang) diberi buah-buahan yang serupa.”

Maksudnya adalah, ketika para pelayan membawa buah atau lainnya mereka mengira buah itu sama seperti yang sudah pernah disajikan kepada mereka, karena rupanya memang sama, padahal sebenarnya tidak. Jadi, sama bentuknya, tetapi berbeda hakikatnya, rasanya maupun aromanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid bin Arqam, dia bercerita, Ada seorang Yahudi datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Hai Abul-Qasim, bukankah kamu beranggapan penghuni surga itu makan dan minum?”
Sebelumnya Yahudi itu berkata kepada teman-temannya, “Jika Muhammad mengiyakan pertanyaanku, maka aku akan mendebatnya.”

Zaid berkata, Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar, demi Allah yang menggenggam jiwaku, sesungguhnya tiap orang dari mereka benar-benar diberi kekuatan seratus orang dalam makan, minum, syahwat dan berhubungan seksual.”

Zaid berkata, Maka Yahudi itu berkata, “Sesungguhnya orang yang makan dan minum pasti membuang hajat.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cara membuang hajat tiap orang dari mereka dengan mengeluarkan keringat yang mengucur dari kulit, baunya (harum) seperti minyak kesturi. Dan tiba-tiba perut mereka menjadi kosong kembali.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Penghuni surga itu makan dan minum di sana, tanpa berak, kencing, beringus maupun meludah. Makanan mereka menjadi sendawa dan keringat yang merembes keluar bagaikan minyak kesturi.”

Demikian pula Imam Muslim mengeluarkan hadits serupa dari Jabir dimana setelah hadits itu dia sebutkan, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Makanan mereka itu menjadi sendawa, (baunya) seperti minyak kesturi. Dan mereka diilhami tasbih dan takbir, seperti halnya mereka diilhami nafas.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita. Saat itu di sisi beliau ada seorang Badui, Beliau bersabda,

Sesungguhnya ada seorang penghuni surga meminta izin kepada Tuhan-nya Azza wa Jalla untuk bercocok tanam. Maka Tuhan bertanya kepadanya, ‘Bukankah sudah tersedia aoa saja yang kamu inginkah?

‘Benar.’ Jawab laki-laki itu, ‘Tetapi saya gemar bercocok tanam.’”

Rasulullah kemudian melanjutkan ceritanya, “Orang itu pun menanam. Maka tanamannya ternyata cepat sekali tumbuh, tegak, dan berbuah. Tanaman itu menjadi bergunung-gunung.”

Rasul bersabda, “Oleh karena itu, Rabb Azza wa Jalla berfirman kepada orang itu,’Ambillah, wahai anak Adam. Sesunggunya tidak ada lagi apa pun yang membuatmu kenyang.’”

Abu Hurairah berkata, Mendengar cerita itu, maka berkatalah orang Badui itu, “Kami mengira penghuni surga itu pasti orang Quraisy atau orang Anshar, karena mereka adalah petani, gemar bercocok tanam. Sedangkan kami bukan petani.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa.

Dalam Shahihain terdapat riwayat dari Abu Sa’id, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Pada hari Kiamat bumi ini menjadi seperti sebongkah roti, digenggam oleh Yang Maha Kuasa dengan tangan-Nya, seperti seorang dari kalian menggenggam rotinya dalam perjalanan, sebagai suguhan pertama bagi penghuni surga.”

Maka datanglah seorang Yahudi lalu berkata, “Semoga Allah memberkatimu, wahai Abul-Qasim. Benarkah penghuni surga mendapat suguhan pertama pada hari Kiamat?”

Benar.” Tegas beliau. “Perlukah aku ceritakan kepadamu suguhan pertama penghuni surga?”

“Tentu.” Jawab Yahudi itu. Maka beliau bersabda, “Bumi ini akan menjadi seperti sebongkah roti pada hari Kiamat.” Kemudian beliau bertanya, “Perlukah aku ceritakan kepadamu lauk mereka?”

“Tentu.” Jawab Yahudi itu pula, Maka beliau bersabda, “Lauk mereka adalah Lam dan Nun.”

“Apakah itu?” Tanya orang-orang. Maka beliau menerangkan, “Ialah lembu dan ikan Nun. Sari hati seekor dari kedua binatang itu dimakan oleh tujuh puluh ribu orang.”

Dan menurut riwayat Muslim pula, dari Ibnu Mas’ud Radliyallahu ‘anhu, bahwa dalam menafsirkan firman Allah Subhanahu wa ta’alaa,

Mereka diberi minum dari Khamr murni yang (terdapat) ditempatnya, tempatnya adalah kesturi.” (Al-Muthaffiffin: 25-26).

Ibnu Mas’ud berkata, “Ar-Rahiiq adalah khamr (arak), dan Makhtuum, artinya diakhiri. Maksudnya, setelah berakhirnya meminum arak itu, maka mereka merasakan aroma kesturi.”

Ibnu Abbas berkata, “Khamr adalah minuman paling bergengsi penghuni surga, Para Muqarrabun meminum kharmr yang masih murni. Sedang Khamr campuran tersebut menjadi minuman Ahlul Yamin.”

Allah ta’alaa berfirman,

Dalam surga ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa maupun baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari Khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring.” (Muhammad: 15).

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa khamr tersebut berupa sungai yang mengalir, bersumber dari lautan yang luas di sana, dan dari sumber-sumber yang memancar dari bawah gundukan-gundukan kesturi. Dan dari sumber-sumber lainnya yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla, bukan dari bahan-bahan yang diinjak-injak dengan kaki-kaki manusia dalam keadaan hina. Dan Allah menyebutkan pula, bahwa khamr surga itu lezat bagi siapa pun yang meminumnya, tidak seperti halnya arak dunia yang rasanya tidak enak dan berpengaruh buruk terhadap akal dan pencernaan.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir diceritakan dari Abdullah bin Abbas Radliyallahu ‘anhu,

“Bahwasanya ada sekelompok penghuni surga berkumpul untuk minum-minum, sebagaimana yang dilakukan orang di dunia. Maka lewatlah awan melintasi mereka. Dan ternyata apa pun yang mereka minta, maka awan itu menurunkannya kepada mereka. Sampai ada di antara mereka yang berkata, ‘Turunkanlah kepada kami gadis-gadis yang sebaya umurnya.’ Maka awan itu pun menurunkan gadis-gadis yang mereka minta.”

Para penghuni surga juga berkumpul di sekitar pohon Thuba, maka teringatlah mereka hiburan di dunia, yaitu musik. Maka Allah pun mengirimkan angin dari surga menggoyangkan pohon itu, sehingga menimbulkan segala macam hiburan laksana ada di dunia.

Dalam sebuah atsar disebutkan, bahwasanya ada sekelompok penghuni surga melewati pohon-pohon, ketika mengendari kendaraan-kendaraan surga dalam satu barisan. Maka pohon-pohon itu menyingkir ke kanan dan ke kiri, agar barisan mereka tidak terpisah-pisah. Semuanya ini adalah karunia dan rahmat Allah terhadap para penghuni surga. Maka milik Allah-lah segala puji dan karunia.

Sumber: Ibnu Katsir. Huru-Hara Hari Kiamat “An-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zamaan”. Terj. Anshari Umar Sitanggal, H. Imron Hasan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2002.