Neraka

Allah ta’alaa berfirman,

Jika kamu tidak dapat membuat (yang serupa al-Qur’an) dan pasti tidak akan dapat membuat(nya), maka peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 24).

Allah ta’alaa berfirman,

Di dalam neraka, mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan (merintih). Mereka kekal di dalamnya selagi ada langit dan bumi, kecuali jika Rabb-mu menghendaki yang (lain). Sesungguhnya Rabb-mu Maha Perkasa terhadap apa yang Dia kehendaki.” (Hud: 106-107).

Dan Allah ta’alaa berfirman,

Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya, dan dikatakan kepada mereka, ‘Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.’ Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian adzab yang dekat (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (As-Sajdah: 20-21).

Allah ta’alaa juga berfirman,

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berduyun-duyun. Sehingga, apabila mereka telah sampai ke neraka itu, maka dibukakan pintu-pintunya, dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antara kamu, yang membacakan kepadamu ayat-ayat Rabb-mu dan memperingatkan kepadamu tentang pertemuan di hari ini?’ Mereka menjawab, ‘Benar (telah datang).’ Tetapi telah pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka), ‘Masukilah pintu-pintu nereka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (Az-Zumar: 71-72).

Allah ta’ala berfirman,

Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu adalah neraka. Dialah tempat berlindung. Dan dia adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Hadid: 15).

Allah ta’alaa berfirman,

(Dikatakan kepada orang-orang kafir pada Hari Kiamat), ‘Pergilah kamu mendapatkan adzab yang dahulu kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak api neraka.’ Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning. Kecelakaan yang besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (Al-Mursalat; 29-34).

Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Api untuk Bani Adam yang kamu nyalakan ini adalah sepertujuh puluh dari api Jahannam.”

Para shahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya api ini benar-benar sudah cukup (panas).”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya api Jahannam melebihinya dengan enam puluh Sembilan kali lipatnya.”

Dan menurut riwayat Ahmad dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya apimu ini adalah sepertujuh puluh dari api Jahannam. Ia telah dicuci dua kali di laut. Jika tidak, maka Allah tidak memberi manfaat apa-apa darinya kepada siapa pun.”

Hadits ini sesuai dengan syarat Imam al-Bukhari.
Diriwayatkan dalam Shahihain bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jahannam tak henti-hentinya diisi, tetapi dia berkata,’Masih adakah tambahan?’ Sehingga Tuhan Yang Maha Perkasa meletakkan kedua telapak kaki-Nya ke dalam neraka itu. Barulah kemudian sebagiannya menyusut kepada bagian yang lain, dan berkata, ‘Cukup-cukup, demi keperkasaan-Mu dan kemuliaan-Mu.”

Dan Muslim meriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya seseorang mengucapkan kata-kata yang tidak jelas apa artinya, maka kata-kata itu menyebabkan dia masuk ke neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.”

Dan dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Uthbah bin Ghazwan bahwa dia berkata dalam khutbah, ‘Sesungguhnya batu dilempar dari tepi Jahannam, maka batu itu jatuh selama tujuh puluh tahun namun belum juga sampai ke dasarnya. Demi Allah, sesungguhnya Jahannam pasti akan penuh.”

Allah ta’alaa berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, maka Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa: 56)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang ahli neraka,

Sesungguhnya air amat panas benar-benar akan dituangkan ke kepala salah seorang dari mereka. Maka air itu menembus dari batok kepalanya sampai ke rongga perut, maka meluluh-lantakkan apa pun yang ada dalam perut, kemudian keluar lewat kedua telapak kaki.”

Sedang at-Tirmidzi dan ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Darda’, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ahli neraka kelak akan didera rasa lapar sampai menyamai adzab yang tengah mereka rasakan. Lalu mereka meminta makanan. Maka mereka diberi makan yang menyumbat kerongkongan mereka. Maka teringatlah mereka, bahwa semasa di dunia (bila kerongkongan tersumbat makanan) maka perlu minum. Oleh karena itu mereka pun meminta minuman. Tapi ternyata mereka diberi air yang amat panas dalam gelas dari api. Bila gelas itu didekatkan kepada wajah mereka, maka wajah mereka pun mengelupas. Bila telah masuk ke perut, maka perut mereka terkoyak-koyak. Di kala itulah mereka melolong-lolong minta tolong. Tetapi dijawab oleh para penjaga neraka,

‘Apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dengan membawa keterangan-keterangan?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang.’ Para penjaga neraka berkata, ‘Berdoalah kalian. Tapi, doa orang-orang kafir itu hanya sia-sia belaka.’ (Al-Mukmin: 50).

Lalu mereka mengatakan pula, ‘Panggilkan kami malaikat Malik.’ Dan setelah datang,maka mereka berkata,
‘Hai Malik, biarlah Rabb-mu membunuh kami saja’ Malik menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).’ (Az-Zukhruf: 77).

Kemudian mereka mengadu kepada Allah,

‘Ya Tuhan kami, kamu telah dikuasai kejahatan kami, dan kami memang orang-orang yang sesat.’ (Al-Mukminun: 106)
Maka Allah ta’alaa berfirman,

‘Tinggalah kalian dengan hina dalam neraka, dan janganlah kalian berbicara lagi dengan Aku.’”

Allah ta’alaa berfiman,

Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (Al-Ghatsiyyah: 6-7).

Dharii’ adalah pohon berduri yang tumbuh di tanah Hijaz, dan disebut juga Syabraq. Sedang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan secara marfu’ oleh adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘anhu diterangkan,

Dhari’ adalah sesuatu yang ada dalam neraka, yang konon mirip dengan duri, rasanya lebih pahit dari gaharu, baunya lebih busuk dari bangkai, dan suhunya lebih panas dari api. Jika dimakan, tidak masuk perut dan tidak bisa keluar lagi ke mulut, tertinggal di kerongkongan. Makanan ini tidak bisa membuat gemuk dan tidak bisa menghilangkan lapar.” (Hadits ini sangat gharib).

Allah ta’alaa juga berfirman,

(Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik, ataukah pohon zaqqum? Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala-kepala setan. Maka, sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu. Maka, mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu, pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian, sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.” (Ash-Shaffat: 62-68)

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud ath-Thayalisi dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat berikut ini,

Bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102).

Lalu beliau bersabda, “Andaikan ada setetes saja dari pohon Zaqqum itu menetes ke laut di dunia ini, niscaya rusaklah penghidupan seluruh penduduk dunia. Maka, bagaimanakah halnya dengan orang yang memakannya?”

Sungai di Neraka

Sungai dalam neraka berfungsi sebagai tempat pembuangan kotoran, sampah dan segala macam yang busuk-busuk, seperti halnya di dunia. Semoga Allah Subhanahu wa ta’alaa melindungi kita dari sungai itu, atas karunia dan kemurahan-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari Radliyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ada tiga macam manusia yang tidak masuk surga, peminum khamr, pemutus silaturrahim, dan orang yang mempercayai sihir. Barangsiapa mati sebagai peminum khamr, maka Allah memberinya minum dari sungai Ghuthah.” Seseorang bertanya, ‘Apa itu sungai Ghutah?’ Rasul menjawab, ‘Sungai yang mengalir dari kemaluan para pelacur. Para penghuni neraka lainnya merasa terganggu oleh bau kemaluan mereka.”

Ular dan Kalajengking

Semoga Allah melindungi kita dari binatang-binatang itu.

Allah ta’ala berfirman,

Sungguh orang-orang yang bakhil tidak pernah menyangka bahwa apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya adalah sesuatu yang baik bagi mereka. Padahal itu adalah keburukan bagi mereka. Mereka akan dikalungkan dengan sesuatu yang mereka bakhilkan itu pada Hari Kiamat.” (Ali Imran: 180).

Dalam Shahih Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak seorang pun pemilik harta yang tidak menunaikan zakatnya melainkan hartanya kelak akan ditampilkan di hadapannya dalam wujud seekor ular botak. Ular itu memiliki dua titik hitam di atas matanya. Dia mematuk pangkal dagu orang itu seraya ia berkata, ‘Akulah hartamu, akulah simpananmu.’”

Dalam riwayat lain diceritakan,

Orang itu lari menghindarinya, tapi ular itu mengejarnya. Lalu dia berlindung darinya, tapi ular itu mematuk tangannya dan melilitnya.”

Kemudian Rasulullah membacakan ayat tersebut di atas. Dan hadits yang serupa juga telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas secara marfu’.

Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Marwah mengenai firman Allah ta’alaa,

Orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan, disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (An-Nahl: 88)

Abdullah berkata, “Siksaan itu berupa kalajengking-kalajengking berekor seperti pohon-pohon kurma yang panjang.”

Tingkatan-Tingkatan Neraka

Semoga Allah melindungi kita dari siksa neraka. Imam al-Qurthubi berkata, “Menurut para ulama, tingkatan neraka yang tertinggi adalah Jahannam. Tingkatan ini dikhususkan bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mati membawa dosa-dosa. Di sana penghuninya diberi jalan untuk menikmati hembusan angin yang menggoyangkan pintu-pintunya.” Tingkatan berikutnya adalah, Lazha,Huthamah, Sa’ir, Saqar, Jahim, dan terakhir Hawiyah.

Sumber: Ibnu Katsir. Huru-Hara Hari Kiamat “An-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zamaan”. Terj. Anshari Umar Sitanggal, H. Imron Hasan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2002.