Gambaran Hari Kiamat Dalam Al-Qur’an

Jasad Para Nabi tidak hancur oleh tanah

Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Aus bin Aus Ats-Tsaqafi Radliyallahu ‘anhu, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Sebaik-baik harimu adalah hari Jum’at. Pada hari itu Allah menciptakan Adam, pada hari itu dia dicabut nyawanya. Pada hari itu sangkakala (Nafkhatul Faza’) ditiup, dan pada hari itu pula (sangkakala kematian) ditiupkan. Maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at, karena shalawat kamu sekalian diperlihatkan kepadaku.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami diperlihatkan, jika engkau telah hancur?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi Shallawatullah ‘alaihim.”

Gambaran Hari Kiamat Dalam Al-Qur’an

Allah ta’alaa berfirman,

Maka pada hari itu terjadilah Kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu ada delapan orang malaikat pembawa ‘Arsy Tuhan-mu di atas (kepala) mereka. Para hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhan-mu), tiada sesuatu pun dari kejadian-kejadian yang tersembunyi (bagi Allah).” (Al-Haqqah: 15-18).

Allah ta’alaa berfirman,

Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu, jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. Langit (pun) menjadi pecah-belah pada hari itu, karena (kehendak) Allah. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana.” (Al-Muzammil: 17).

Dan Allah berfirman,

Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak pula pada hari itu berseri-seri, tertawa gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang yang kafir lagi durhaka.” (‘Abasaa: 33-42).

Dalam ayat lain Allah berfirman,

Apabila terjadi Hari Kiamat, maka terjadinya Kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung diluluhlantakkan sehancur-hancurnya, maka ia menjadi debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan, yaitu: golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan golongan orang-orang yang paling dahulu beriman. Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga-Surga kenikmatan.” (Al-Waqi’ah: 1-12).

Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (Rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri), dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta maaf. Dan apabila orang-orang zhalim telah menyaksikan adzab maka tidaklah diringankan adzab bagi mereka, dan tidak pula mereka diberi tangguh. Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami, yang dahulu kami sembah selain dari Engkau.’ Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta.’ Dan sekutu-sekutu itu menyatakan ketundukannya kepada Allah, dan pada hari itu hilanglah dari orang-orang musyrik itu apa yang selalu mereka ada-adakan. Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan, disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (An-Nahl: 84-88).

“Dan (ingatlah) hari dimana Allah menghimpun mereka (orang-orang musyrik) beserta apa yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah), ‘Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?’ Mereka (yang disembah itu) menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain Engkau menjadi pelindung. Akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup sampai mereka lupa mengingat (Engkau), dan mereka adalah kaum yang binasa. Dengan demikian, sesungguhnya mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kamu tentang apa yang kamu katakan. Oleh karena itu, kamu tidak akan menolak (adzab), dan tidak akan dapat menolong (dirimu). Dan barangsiapa di antara kamu yang berbuat zhalim, niscaya Kami rasakan kepadanya adzab yang pedih.” (Al-Furqan: 17-19).

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (At-Takwir: 1-14).

Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa perawi hadits ini telah mendengar Ibnu Umar berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang ingin menyaksikan Hari Kiamat jelas-jelas seperti melihat dengan mata kepala, maka bacalah surat, ‘Idzasy-Syamsu kuwwirat, wa Idzas-samaa’ unfatharaat, wa idzas-samaa unsyaqqat.” Dan saya kira beliau juga mengatakan, “Dan surat Hud.”

Sumber: Ibnu Katsir. Huru-Hara Hari Kiamat “An-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zamaan”. Terj. Anshari Umar Sitanggal, H. Imron Hasan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2002.