Kebangkitan

Langit digulung

Dalam haditsnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai sangkakala. Bahwa apabila tidak ada lagi yang hidup kecuali Allah. Maka Allah menggulung langit dan bumi bagaikan menggulung lembaran-lembaran kertas. Kemudian menghamparkannya kembali, kemudian melipatnya tiga kali seraya berfirman,

Akulah Yang Mahakuasa.” Tiga kali, kemudian berseru,
“Milik siapakah seluruh kekuasaan pada hari ini?” tiga kali. Namun tidak ada seorang pun yang menjawab. Kemudian Dia berfirman,
“Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa.”
Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Allah menggenggam bumi dan menggulung langit dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman, ‘Aku-lah Raja, Aku-lah Yang Maha Kuasa, manakah raja-raja di bumi? Manakah para penguasa? Manakah manusia-manusia sombong?”

Sedang dalam Musnad Imam Ahmad dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Ibnu Umar Radliyallahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat berikut ini di atas mimbar.

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (Az-Zumar: 67).

Demikianlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menggerakkan tangan beliau, yakni mendorongnya ke depan dan ke belakang seraya berkata,

Allah memuji Diri-Nya (seraya berfirman), ‘Akulah Yang Maha Kuasa, Akulah Yang patut menyombongkan diri, Aku-lah Raja, Akulah Yang Maha Mulia, Akulah Yang Maha Pemurah.’ Begitu kerasnya gerakan tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga mimbar berguncang keras, dan kami pun berkata, ‘Mimbar pasti roboh bersama beliau.’
Lafadz hadits ini menurut Imam Ahmad.

Bumi berganti

Dalam hadits tentang sangkakala, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, bahwa Allah kelak akan mengganti bumi ini dengan bumi lain, lalu menghamparkan dan membentangkannya bagaikan membentangkan kulit yang telah disamak.
Allah ta’alaa berfirman,

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain, dan (demikian pula) langit. Dan mereka semuanya (berkumpul di padang Mahsyar) menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ibrahim: 48).

Allah ta’alaa juga berfirman,

Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung. Maka katakanlah, ‘Tuhan-ku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kami lihat padanya tempat yang rendah maupun yang tinggi.’” (Thaha: 105-107).

Jasad-jasad tumbuh

Selanjutnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menceritakan, “Allah ta’alaa kemudian menurunkan air dari bawah ‘Arsy. Maka hujan pun turun selama empat puluh hari, sehingga air berada pada ketinggian dua belas hasta di atas kamu. Kemudian Allah menyuruh jasad-jasad tumbuh. Maka jasad-jasad itu pun tumbuh tharatsits (yaitu mentimun kecil) atau sayuran lainnya.”’

Begitu pula, telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Muslim dari Abdullah bin Umar Radliyallahu ‘anhumaa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Kemudian Israfil meniup sangkakala. Maka tidak seorang pun mendengar melainkan menundukkan batang lehernya lalu mendongakkannya. Adapun yang pertama-tama mendengar adalah seseorang yang tengah melepa kolamnya, maka dia pun mati. Tidak seorang pun yang mendengar melainkan mati. Kemudian Allah mengirimkan hujan bagaikan kabut tebal atau naungan, maka tumbuhlah jasad seluruh makhluk. Kemudian Israfil meniupkan lagi sangkakalanya, maka mereka pun bangkit menunggu. Kemudian diserulah, ‘Hai manusia, kemarilah menghadap Tuhan-mu.”

Tiupan Kebangkitan

Allah ta’alaa berfirman,

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapapun yang ada di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (keputusannya masing-masing). Dan terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhan-nya. Dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi, lalu diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan atas) yang telah dikerjakannya, dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Az-Zumar: 68-70).

Dalam hadits tentang sangkakala disebutkan, setelah tiupan mematikan (Nafkhatus-Sha’iq), maka bangkitlah seluruh makhluk. Sementara itu Allah Yang Maha Hidup dan tak pernah mati tetap kekal abadi. Dia memang telah ada sebelum adanya apa-apa, dan adalah Dia Yang Maha Akhir setelah berakhirnya segala yang ada.

Lalu, digantilah langit dan bumi pada rentang waktu antara dua tiupan. Kemudian Allah ta’alaa menyuruh turunkan hujan. Dan dari air hujan itulah jasad-jasad makhluk terbentuk kembali, tersusun dalam kubur mereka seperti sediakala ketika masih hidup di dunia, tapi belum lagi bernyawa.

Sesudah itu, Allah ta’alaa berfirman, “Hiduplah para malaikat pembawa ‘Arsy.” Maka mereka pun hidup kembali.
Dan Allah memerintahkan Israfil mengambil sangkakala. Maka dia letakkan benda itu di mulutnya.
Kemudian Allah berfirman, “Hiduplah Jibril dan Mikail.” Maka mereka berdua pun hidup kembali.
Dan selanjutnya Allah ta’ala memerintahkan mengambil ruh-ruh. Maka ruh-ruh pun didatangkan. Ruh kaum mukminin tampak berkilauan cahaya. Sedang ruh-ruh yang lain Nampak gelap. Ruh-ruh itu semua kemudian digenggam-Nya lalu dimasukkan ke dalam sangkakala. Kemudian Allah ta’alaa memerintahkan Israfil meniup sangkakalanya dengan tiupan kebangkitan. Israil pun meniupnya, dan keluarlah ruh-ruh bagaikan lebah memenuhi ruang antara langit dan bumi.
Allah ta’alaa berfirman, “Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, kembalilah semua ruh ke jasad yang pernah ditempatinya di dunia.” Maka ruh-ruh mendatangi jasad masing-masing dan masuk lewat pangkal hidung. Lalu merambat ke seluruh tubuh seperti merambatnya racun ke sekujur tubuh orang yang digigit binatang berbisa.
Sesudah itu, bumi pun merekah bagimu.” Demikian sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan aku adalah orang yang pertama-tama bangkit dari rekahan bumi itu.”
Selanjutnya kamu sekalian cepat-cepat kelaur menuju kepada Tuhan-mu, dan bergegas memnuhi panggilan malaikat penyeru. Sementara orang-orang kafir berkata, “Inilah hari yang berat.” Semuanya tanpa alas kaki, telanjang dan tidak berkhitan.

Bangkit dari kubur

Tiupan sangkakala untuk membangkitkan jasad-jasad yang telah terkubur, terjadi pada hari Jum’at.
Imam Malik bin Anas meriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Sebaik-baik hari yang disinari matahari adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia diturunkan, pada hari itu dia diterima taubatnya, pada hari itu dia meninggal, dan pada hari itu pula terjadinya Kiamat. Dan tidak seekor pun binatang melata di bumi melainkan terlelap pada hari Jum’at, sejak mulainya waktu Shubuh sampai terbitnya matahari, karena takut kepada Hari Kiamat, selain manusia dan jin. Dan pada hari Jum’at itu ada suatu waktu, dimana tidak ada seorang pun hamba Allah yang muslim, yang kebetulan melakukan shalat dan meminta sesuatu kepada Allah saat itu, melainkan Allah pasti memberinya.”

Sumber: Ibnu Katsir. Huru-Hara Hari Kiamat “An-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zamaan”. Terj. Anshari Umar Sitanggal, H. Imron Hasan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2002.