Ya’juj dan Ma’juj

Ya’juj dan Ma’juj

Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Pada hari ini dibuka sebagian dari dinding Ya’juj Ma’juj seperti ini. Sambil membuat Sembilan puluh ikatan.”

Menurut riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj setiap hari berusaha keras melubangi dinding itu, sehingga apabila mereka melihat cahaya matahari, berkatalah pemimpin mereka, ‘Pulanglah, besok kalian akan teruskan) melubangi lagi.’ Maka (esok harinya) mereka pun kembali (melubangi) dinding itu lebih giat lagi. Sehingga, manakala telah sampai saatnya Allah hendak membangkitkan mereka kepada manusia, mereka (terus) melubangi. Sehngga apabila mereka melihat cahaya matahari, berkatalah pemimpin mereka, ‘Pergilah, besok kalian akan (teruskan) melubangi lagi, In sya Allah.’ (Namun ketika) mereka kembali hendak (melubangi)nya, ternyata dinding itu sudah seperti keaddan semula saat mereka tinggalkan (kemarin). Tapi mereka teruskan juga melubanginya, dan (akhirnya) berhasillah mereka keluar menyerbu orang-orang. Lalu mereka meminum habis air (yang ada). Sementara sebagian orang ada yang bersembunyi dalam benteng-benteng mereka. Oleh karena itu Ya’juj dan Ma’juj melemparkan anak-anak panah mereka ke langit. (Akhirnya) Allah mengirim ulat-ulat ke tengkuk mereka. Dengan ulat-ulat itulah Allah membinasakan mereka.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Demi Allah yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya binatang-binatang di bumi benar-benar menjadi kenyang dan berterima kasih, karena (dapat memakan) daging dan darah mereka.”

Imam Ahmad meriwayatkan pula dari Abu Sa’id al-Khudri Radliyallahu ‘anhu, dia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(Kelak bila dinding) Ya’juj dan Ma’juj dibuka, maka mereka pun keluar, sebgaimana difirmankan Allah ta’alaa, ‘Mereka berjalan cepat dari segala tempat yang tinggi.’ Maka manusia lari ketakutan mengindari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng sambil menggiring ternak.
Sementara Ya’juj dan Ma’juj menjelajah dan meminum air di mana-mana, sehingga ketika seseorang dari mereka melewati sungai yang tadi diminum, dia berkata, ‘Di sini tadi ada airnya.’
Dan akhirnya ketika semua orang sudah mengungsi ke kota-kota dan benteng-benteng, maka berkatalah seorang dari mereka, ‘Penduduk bumi ini sudah habis kita binasakan. Sekarang tinggal penduduk langit.’”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan ceritanya, “Sesudah itu seorang dari mereka menggoyang-goyangkan tombaknya kemudian dia lemparkan ke angkasa, maka tombak itu kembali lagi kepada mereka berlumuran darah, sebagai kecohan dan tipuan (terhadap mereka).
Ketika mereka dalam keadaan demikian. Allah subhanahu wa ta’alaa mengirim suatu penyakit kepada mereka bagaikan ulat belalang yang menyerang ke dalam leher mereka. Pagi harinya, mereka sudah mati. Karena tidak terdengar lagi gerakan mereka, maka kaum muslimin berkata, ‘Tidakkah seseorang berani mengorbankan dirinya untuk melihat apa yang dilakukan musuh ini?
’”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Maka seseorang tampil merelakan dirinya. Dia yakin dirinya akan terbunuh, tetapi dia turun juga. Ternyata dia dapati mereka sudah mati. Tindih-menindih satu sama lain. Maka orang itu pun berseru, ‘Hai semua kaum muslimin, ketahuilah kabar gembira. Sesungguhnya Allah telah membela kamu sekalian terhadap musuhmu!’ Mereka pun keluar dari kota-kota dan benteng-benteng mereka. Dan mereka melepaskan kembali ternak mereka hendak digembalakan, tetapi tidak ada tempat untuk menggembala. Semuanya penuh dengan bangkai Ya’juj dan Ma’juj. Sedang binatang-binatang itu sendiri bersyukur sekali memakan daging mereka, sama sekali tidak mau memakan tumbuhan yang mereka dapatkan.”

Ya’juj dan Ma’juj adalah dua golongan dari bangsa Turki, keturunan Nabi Adam ‘Alaihissalaam juga.
Demikianlah, sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadits shahih bahwa pada Hari Kiamat kelak Allah Subhanahu wa ta’alaa berfirman,

Wahai Adam!”
Labbaika wa sa’adika.” Jawab Adam.
Lalu Allah memerintahkan dengan suatu seruan, “Masukkan ahli neraka.
Maka terdengarlah suatu pertanyaan, “Berapa?”
Allah menjawab, “Dari setiap seribu orang, masukkan Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan orang ke neraka, dan masukkan seorang ke dalam Surga.”

Pada saat itulah anak kecil menjadi beruban dan setiap wanita hamil melahirkan kandungannya. Namun kemudian terdengar seruan, “Bergembiralah, karena diantara Ya’juj dan Ma’juj ada yang menjadi tebusan bagimu.” Menurut riwayat lain dikatakan, “Diantara kamu sekalian ada dua umat, dimanapun mereka berada pasti berkembang biak begitu pesat, itulah Ya’juj dan Ma’juj.”

Selain itu ada riwayat yang menceritakan bahwa Ya’juj dan Ma’juj itu berasal dari Hawa ‘Alaihassalaam. Sedang menurut riwayat lainnya, mereka berasal dari Adam ‘Alaihissalaam, tanpa Hawa. Ceritanya, hal itu dikarenakan pada suatu ketika Adam ‘Alaihissalaam bermimpi dan keluar mani, lalu maninya itu bercampur dengan tanah. Dan dari mani itu Allah menciptakan Ya’juj dan Ma’juj. Cerita ini tentu saja tidak ada dalilnya. Dan Allah tentu lebih tahu.

Yang lebih tepat, Ya’juj dan Ma’juj adalah keturunan Nabi Nuh ‘Alaihissalaam. Mereka adalah cucu Yafits bin Nuh, nenek moyang bangsa Turki. Dulu mereka hidup di muka bumi seperti layaknya manusia biasa, namun selalu membuat keonaran. Oleh karena itu kemudian mereka dikurung oleh Dzulqarnain di balik dinding penghalang yang dibuatnya, sampai Allah mengizinkan mereka keluar dari sana kelak untuk menyerbu bangsa-bangsa disekitarnya.

Ya’juj dan Ma’juj manusia biasa

Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia biasa seperti layaknya manusia yang lain. Mereka mirip orang-orang yang sebangsa dengan mereka, yaitu bangsa Turki, dengan mata cekung, berhidung pesek berambut pirang, sekalipun bentuk dan warna kulit mereka bervariasi.

Jika ada orang yang beranggapan, bahwa Ya’juj dan Ma’juj itu diantaranya ada yang badannya tinggi seperti pohon kurma, ada pula yang sangat pendek, dan ada lagi bertelinga lebar. Telinga yang sebelah bisa untuk berselimut, dan yang sebelah lagi sebagai tikar, itu semua adalah mengada-ada tanpa didasarkan pada ilmu. Dan orang yang berkata seperti itu pasti tidak bisa mendatangkan dalil. Sekalipun ada dinyatakan dalam sebuah hadits, bahwa ada diantara Ya’juj dan Ma’juj yang tidak mati-mati sebelum melihat anak-cucunya berjumlah seribu orang. Namun Allah jualah yang lebih tahu benar-tidaknya hadits itu
Pada suatu saat nanti Ka’bah akan dirobohkan oleh seorang manusia terkutuk bernama Dzusuwaiqatain.

Demikianlah, sebagaimana diriwayatkan dari Ka’ab al-Ahbar ketika membahas tentang firman Allah ta’alaa,

Sehingga apabila telah dibukakan (pintu) Ya’juj dan Ma’juj……”

bahwa munculnya Dzusuwaiqatain bermula pada masa turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalaam, setelah dibinasakannya Ya’juj dan Ma’juj.
Ketika itu Nabi Isa ‘Alaihissalaam mengirim pasukannya untuk memerangi balatentara Dzusuwaiqatain, mereka berkekuatan antara 700 sampai 800 orang. Namun ketika mereka berjalan. Allah mengirimkan angin sejuk dari arah negeri Yaman. Angin ini mencabut nyawa setiap orang yang beriman. Dan sisanya tinggal manusia-manusia jahat. Mereka bersetubuh bebas seperti binatang.
Ka’ab al-Ahbar mengatakan, pada saat itu Kiamat sudah dekat.

Sumber: Ibnu Katsir. Huru-Hara Hari Kiamat “An-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zamaan”. Terj. Anshari Umar Sitanggal, H. Imron Hasan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2002.