Fitnah Akhir Zaman yang Telah dan Akan Muncul

Dekatnya Hari Kiamat

Menurut suatu riwayat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Kiamat itu hampir saja mendahului aku.”

Ini menunjukkan betapa sudah demikian dekatnya Hari Kiamat dibandingkan umur dunia yang sudah lewat.
Allah berfirman,

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari padanya).” (Al-Anbiya: 1).

Munculnya api di tanah Hijaz

Imam al-Bukhari meriwayatkan, bahwa perawi hadits ini (Sa’id bin al-Musayyab) berkata, Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu mengabarkan kepadaku, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Kiamat takkan terjadi sebelum munculnya api dari Tanah Hijaz yang menyinari leher-leher unta di Bushra.”

Syaikh Syihabuddin Abu Syamah, seorang pakar hadits dan guru besar sejarah pada zamannya menyebutkan, bahwa pada tahun 654 H, hari Jum’at, 5 Jumadil Akhir muncul api di wilayah Madinah, di suatu lembah sepanjang 4 farsakh dan lebar 4 mil. Api itu melelehkan batu-batu karang bagaikan timah, dan akhirnya berubah menjadi seperti arang hitam. Cahaya api itu menerangi para musafir yang melakukan perjalanan di malam hari sampai ke Taima. Peristiwa itu berlangsung selama sebulan.
Berita itu masih tertanam dalam benak semua penduduk Madinah. Mereka membuat syair-syair berkenaan dengan kejadian itu. Sementara itu Qadhil-Qudat Shadruddin Ali bin Qasim al-Hanafi, hakim agung di Damaskus, menceritakan kepada kami dari ayahnya Syaikh Syafiyudin, yang waktu itu menjadi guru besar madzhab Hanafi di Bushra, bahwa salah seorang badui yang tinggal di sekitar kota Bushra melapor kepadanya pada pagi hari dari malam itu, bahwa penduduk melihat leher-leher unta nampak menyala disinari api yang muncul dari tanah Hijaz itu.

Kebaikan dan keburukan silih berganti

Imam Al-Bukhari meriwayatkan, bahwa Hudzaifah bin Yaman berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena aku khawatir mengalaminya. Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu telah mengalami zaman Jahiliyyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’

Rasul menjawab, ‘Ya.’

Aku bertanya, ‘Dan apakah setelah keburukan itu ada lagi kebaikan?’

Rasul menjawab, ‘Ya, dan ada keburukannya.’

Aku bertanya, ‘Apa keburukannya?’

Beliau menjawab, ‘Suatu kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Di antara mereka ada yang dikenal, dan ada pula yang tidak.’

Aku bertanya, ‘Apakah setelah kebaikan itu masih ada lagi keburukan?’

Rasul menjawab, ‘Ya, yaitu para penyeru yang ada di pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa memenuhi seruan mereka menuju ke neraka itu, maka mereka melemparkannya masuk ke dalamnya.’

Aku berkata, ‘Terangkan ciri-ciri mereka kepada kami ya Rasulullah.’

Beliau menerangkan, ‘Mereka mempunyai kulit seperti kalian, dan berbicara dengan bahasa kalian.’

Aku bertanya, ‘Apa yang anda perintahkan kepadaku, andaikan aku mengalami masa itu?’

Beliau menjawab, ‘Bergabunglah kamu dengan jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka.’

Aku bertanya, ‘Jika mereka tidak mempunyai pemimpin ataupun jama’ah?’

Beliau menjawab, ‘Tinggalkan semua golongan, walaupun kamu harus menggigit pangkal pohon, sehingga maut datang menjemputmu, sedang kamu tetap seperti itu.’”

Perpecahan Umat

Ibnu Majah meriwayatkan pula dari Auf bin Malik, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Satu golongan masuk surga, dan tujuh puluh lainnya masuk neraka. Kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Tujuh puluh satu di antaranya masuk neraka, dan hanya satu golongan yang masuk surga. Demi Allah Yang Menggenggam jiwaku. Sesungguhnya umatku benar-benar akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Satu golongan di antaranya masuk surga, dan tujuh puluh dua lainnya masuk neraka.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang masuk surga itu, menurut anda?”

Beliau menjawab, “Al-Jama’ah.”

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ibnu Majah sendiri.
Sebagaimana dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Yaman, ketika dia bertanya, “Jika mereka tidak memiliki pemimpin ataupun jamaah?”

Maka kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Maka tinggalkan semua golongan itu, sekalipun kamu harus menggigit pangkal pohon, sehingga maut datang menjemputmu, sedang kamu tetap seperti itu.”

Maksudnya, jika fitnah telah merajalela, maka waktu itu boleh menyingkir dari masyarakat. Demikian pula disebutkan dalam sebuah hadits,

Apabila kamu melihat (sifat) kikir telah dipatuhi, hawa nafsu telah diperturutkan, dan setiap orang yang berpendapat mengagumi pendapatnya sendiri, maka berpeganglah kamu pada pendirianmu, jangan pedulikan penilaian masyarakat umum.”

Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dari Abi Sa’id, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Takkan lama lagi waktunya, dimana sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang digembalakan di puncak-puncak bukit, dan tempat-tempat terpencil untuk menyelamatkan agamanya dari fitnah.”

Golongan yang berpegang teguh pada kebenaran sampai datangnya Kiamat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Akan tetap ada segolongan dari umatku yang menyatakan kebenaran. Mereka tidak peduli dengan siapa pun yang menghinakan mereka dan siapa pun yang menentang mereka, sehingga datangnya ketetapan Allah, sedang mereka tetap seperti itu.”

Sementara itu, dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik Radliyallahu ‘anhu, dia berkata, “Maukah kalian, aku ceritakan sebuah hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang takkan ada seorang pun yang menceritakannya kepadamu sepeninggalku?”

“Aku mendengar dari beliau, ‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda Hari Kiamat adalah, dicabutnya ilmu, merajalelanya kebodohan, tersebarnya perzinaan, diminumnya khamr, hilangnya kaum laki-laki, dan bertambahnya kaum wanita, sehingga ada seorang lelaki menanggung lima puluh wanita.’”

Hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih masing-masing, berasal dari Ghandar dengan lafazh yang sama.

Dicabutnya ilmu

Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Menjelang kiamat akan ada beberapa hari, di mana ilmu dicabut, lalu diturunkan kebodohan, dan terjadi benyak kerusuhan. Adapun (yang dimaksud) kerusuhan adalah pembunuhan.”

Demikian pula yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari al-A’masy dengan lafazh yang sama.

Ini menunjukkan bahwa suatu ketika nanti, ilmu akan dicabut dari umat manusia di akhir zaman, sehingga al-Qur’an pun akan lenyap dari mushaf-mushaf dan dari dalam hati manusia. Akhirnya manusia tidak memiliki ilmu, yang ada hanyalah kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah lanjut usia. Mereka mengeluh dan menyatakan bahwa mereka hanya bisa menyucapkan “Laa ilaaha Illallah.” Padahal mereka mengucapkannya hanya sekedar ingin mendekatkan diri kepada Allah ta’alaa. Namun demikian ucapan itu berguna bagi mereka, sekalipun mereka tidak pernah melakukan amal shaleh dan tidak memiliki ilmu yang bermanfaat, selain ucapan itu saja.

Jika ada pendapat yang mengatakan, bahwa ucapan mereka itu dapat menyelamatkan mereka dari neraka, boleh jadi maksudnya adalah, bahwa kalimat tauhid itu mencegah mereka dari masuk neraka sama sekali. Karena kewajiban mereka hanya sekedar mengucapkan kata-kata itu, sebab mereka tidak lagi dibebani melakukan amalan-amalan yang seruannya tak pernah sampai kepada mereka. Dan Allah ta’alaa jualah yang lebih tahu.

Tetapi mungkin juga yang dimaksud adalah, bahwa kalimat tauhid itu menyelamatkan mereka dari neraka setelah terlebih dahulu memasukinya. Dan dengan pengertian ini, boleh jadi mereka itulah yang dimaksud dengan firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi,

Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, sesungguhnya Aku benar-benar akan mengeluarkan dari neraka siapa pun yang pada suatu hari selama hidupnya pernah mengucapkan “Laa ilaaha Illallah.’
Dan mungkin juga yang dimaksud adalah kaum yang lain.

Adapun yang dimaksud di sini adalah, bahwa ilmu akan dicabut di akhir zaman dan akan terjadi banyak kebodohan. Selain itu, terkandung pula dalam hadits ini pemberitahuan tentang bakal diturunkannya kebodohan. Yakni bahwa orang-orang yang hidup di zaman itu akan diilahmi kebodohan, yang berarti ketidakpedulian Allah terhadap mereka. Kemudian mereka akan tetap seperti itu, bahkan semakin bodoh dan sesat, sampai dengan berakhirnya kehidupan dunia, sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah hadits, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak akan terjadi Kiamat pada seorang pun yang mengucapkan ‘Allah, Allah.’ Dan tidak akan terjadi kiamat, kecuali atas manusia-manusia yang jahat.”

Sumber: Ibnu Katsir. Huru-Hara Hari Kiamat “An-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zamaan”. Terj. Anshari Umar Sitanggal, H. Imron Hasan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2002.