Kejadian-kejadian penting yang dibertahukan sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bag. 2

Wafatnya Umar bin Khattab

Dalam Shahihain, Hudzaifah mengisahkan, “Kami sedang duduk di dekat Umar bin Khatthab Radliyallahu ‘anhu, tiba-tiba dia berkata, ‘Siapakah di antara kamu sekalian yang hafal hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai fitnah?’

Aku menjawab, ‘Aku.’

Umar berkata, ‘Ucapkan, sungguh, berani juga kamu ini.’

Maka aku berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut fitnah yang dialami seorang lelaki dalam keluarganya, hartanya, dirinya, anaknya, dan tetangganya, itu semua bisa terhapus dengan shalat, sedekah, amar ma’ruf dan nahi munkar.’

Umar berkata, ‘Bukan ini yang aku maksudkan, tetapi yang aku maksud fitnah yang bergejolak laksana gelombang laut.’

Maka aku berkata, ‘Yaa Amirul Mukminin, sesungguhnya antara anda dan fitnah itu ada pintu tertutup.’

Umar berkata, ‘Celaka, pintu itu akan dibuka atau didobrak?’

‘Bahkan didobrak.’ Jawabku. Maka Umar pun berkata, ‘Kalau begitu, pintu itu takkan bisa ditutup lagi untuk selama-lamanya.

‘Benar.’ Jawabku.

Mendengar penuturanku, maka para sahahabat lainnya bertanya kepadaku, ‘Sepertinya Umar tahu siapa yang dimaksud pintu itu?’

‘Ya.’ Jawabku. ‘Sesungguhnya aku telah menceritakan kepadanya hadits yang benar.’”

Perawi hadits ini (Syaqiq) berkata, “Namun kami takut menanyakan kepada Hudzaifah siapa yang dimaksud pintu itu. Oleh karena itu kami katakan hal itu kepada Masruq, supaya dia menanyakannya kepada Hudzaifah, dan ternyata jawabannya, ‘(Pintu itu adalah) Umar.’”

Demikianlah, ternyata apa yang diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar terjadi. Persis setelah wafatnya Umar pada tahun 23 H, terjadilah berbagai macam fitnah di tengah kaum muslimin.

Utsman bin Affan akan mengalami cobaan berat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda memberitakan bahwa Utsman bin Affan Radliyallahu ‘anhu termasuk penghuni surga dikarenakan bencana yang menimpanya. Ternyata berita tersebut benar-benar terjadi. Utsman dikepung di rumahnya lalu dibunuh sebagai syahid yang sabar dan ikhlas. Semoga Allah Subhanahu wa ta’alaa senantiasa meridhainya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberitakan, bahwa Ammar bin Yasir akan terbunuh dalam peperangan sesama kaum muslimin.

Masa Kekhalifahan sepeninggal Rasulullah

Dalam kitab al-Bidayah telah disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi, yang menurutnya beliau hadits ini hasan, dari Safinah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Kekhalifahan sepeninggalku hanya sampai 30 tahun, sesudah itu berubah menjadi kerajaan.”

Masa 30 tahun ini mencakup masa khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Setelah wafatnya Ali, masih ada sisa waktu 6 bulan untuk menggenapinya menjadi 30 tahun, dimana khilafah dipegang oleh Hasan bin Ali sepeninggal ayahnya. Dan setelah genap 30 tahun umur khilafah, maka Hasan pun menyerahkan kekuasaannya kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada tahun 40 H, dimana kemudian umat sepakat sepenuhnya berbai’at kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dan disebutlah tahun itu sebagai ‘Amul Jama’ah (tahun persatuan).

Allah mendamaikan kaum muslimin melalui al-Hasan bin Ali

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakrah Radliyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ketika itu Hasan bin Ali berada di sebelah beliau di atas mimbar,

Cucuku ini adalah pemimpin. Melalui perantaranya, Allah akan mendamaikan antara dua kelompok besar kaum muslimin.”

Gugurnya Ummu Haram bin Malhan

Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ummu Haram binti Malhan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa peperangan yang akan dilakukan oleh kaum muslimin di laut, di antaranya akan terjadi dua kali, dan Ummu Haram akan ikut bersama rombongan yang pertama. Peristiwa ini terjadi pada tahun 27 H, di bawah kepemimpinan Mu’awiyah.

Pada saat itu Mu’awiyah meminta izin kepada Utsman Radliyallahu ‘anhu untuk menyerbu Cyprus. Utsman mengizinkan. Maka berangkatlah Mu’awiyah membawa balatentara kaum muslimin dalam satu armada, sehingga berhasil memasuki pulau itu dan menaklukkannya secara paksa. Ummu Haram gugur dalam peperangan ini di laut. Pada waktu itu ia bersama istri Mu’awiyah, Fakhitah binti Qarzhah.

Adapun peperangan yang kedua terjadi pada tahun 52 H, pada masa pemerintahan Mu’awiyah. Saat itu dia memerintahkan anaknya, Yazid untuk memimpin angkatan perang kaum muslimin menyerbu Konstantinopel. Turut dalam angkatan perang itu beberapa sahabat senior, seperti Abu Ayub al-Anshari dan Khalid bin Yazid Radliyallahu ‘anhumaa. Dalam pertempuran ini Abu Ayub gugur, dan sempat berwasiat kepada Yazid agar jasadnya dikubur di bawah telapak-telapak kaki pasukan berkuda. Dan dibenamkan sedalam mungkin kearah sungai yang mengalir ke pihak musuh. Dan wasiat itu dilaksanakan oleh Yazid.

Sementara itu ada pula riwayat yang hanya disampaikan oleh imam al-Bukhari dari Ummu Haram, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Balatentara dari umatku yang pertama kali menyerbu ke laut, pasti (masuk Surga).”
Ummu Haram bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku termasuk di antara mereka?”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya kamu akan ada di antara mereka.”
Ummu Haram melanjutkan, “Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, ‘Balatentara dari umatku yang pertama-tama menyerbu kota Kaisar, diampuni dosanya.’
Aku bertanya, ‘Apakah aku ada di antara mereka, ya Rasulullah?’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak.’”

Sumber: Ibnu Katsir. Huru-Hara Hari Kiamat “An-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zamaan”. Terj. Anshari Umar Sitanggal, H. Imron Hasan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2002.