Surah Al-Baqarah, Ayat 97 – 103

قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ , مَن كَانَ عَدُوّاً لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ

Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah me-nurunkan (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. 2:97) Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka se-sungguhnya Allah adalah musuh orang-orang yang kafir. (QS. 2:98)

Imam Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari rahimahullahu mengatakan, para ulama tafsir telah sepakat bahwa ayat ini turun sebagai jawaban terhadap per-nyataan orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil, di mana mereka mengaku bahwa Jibril adalah musuh mereka, sedangkan Mikail sebagai penolong mereka. Sebagian ulama mengemukakan, pengakuan mereka itu berkenaan dengan per-debatan yang terjadi antara mereka dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengenai masalah kenabian beliau.

Abu Kuraib memberitahu kami, dari Yunus bin Bukair, dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, ada sekelompok orang Yahudi mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Abu Qasim, beritahukanlah kepada kami perkara yang kami tanyakan kepadamu, yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi.”

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berujar, “Tanyakanlah segala hal yang kalian ke-hendaki, tetapi berjanjilah kepadaku sebagaimana Ya’qub telah mengambil janji dari anak-anaknya. Jika aku memberitahukan kepada kalian dan kalian mengetahui bahwa itu benar, maka kalian harus mengikutiku memeluk Islam.”

“Janji itu milikmu,” sahut mereka.

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanyakanlah apa yang kalian kehendaki.”

Maka mereka pun berkata, “Beritahukan kepada kami empat hal yang kami tanyakan kepadamu: Makanan apa yang diharamkan oleh Israil, atas dirinya sendiri sebelum diturunkannya kitab Taurat? Beritahukan bagaimana air mani laki-laki dan air mani perempuan, dan bagaimana mani itu bisa menjadi anak laki-laki dan perempuan? Beritahukan juga kepada kami mengenai nabi yang ummi ini yang terdapat di dalam kitab Taurat dan siapakah malaikat yang menjadi penolongnya?.”

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian berpegang teguh pada janji Allah seandainya aku memberitahukan kepada kalian, kalian harus mengikutiku.” Maka mereka pun memberikan ikrar dan janjinya kepada beliau. Lebih lanjut beliau bersabda, “Aku bersumpah demi Allah yang menurunkan Taurat kepada Musa apakah kalian mengetahui bahwa Israi Ya’qub menderita sakit parah, dan penyakitnya itu menahun. Pada saat itu ia bernadzar jika Allah Ta’ala menyembuhkannya dari penyakit yang dideritanya itu, ia akan mengharamkan makanan dan minuman yang paling ia sukai untuk dirinya sendiri. Dan makanan yang paling ia sukai adalah daging unta, sedangkan minuman yang paling disukainya adalah susu unta.”

Mereka pun berujar, “Ya Allah, benar.”

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, saksikanlah mereka.”

Selanjutnya beliau bersabda, “Aku bersumpah demi Allah yang tiada Ilah selain Dia yang menurunkan Taurat kepada Musa, tidakkah kalian me-ngetahui bahwa air mani laki-laki itu pekat dan berwarna putih, sedangkan air mani perempuan itu encer dan berwarna kekuningan. Mana dari keduanya yang lebih mendominasi, maka baginya anak dan kemiripan dengan seizin Allah. Jika sperma laki-laki lebih mendominasi daripada ovum perempuan, maka dengan izin Allah akan lahir anak laki-laki. Dan jika ovum perempuan lebih mendominasi, maka akan lahir anak perempuan dengan izin Allah Ta’ala.”

“Benar,” jawab mereka.

Lalu beliau bersabda, “Ya Allah, saksikanlah mereka. Dan aku ber-sumpah atas nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah kalian mengetahui bahwa nabi yang ummi itu tidur dengan memejamkan mata tetapi hatinya tidak tidur.”

Mereka pun berujar, “Ya, benar.”

Selanjutnya beliau bersabda, “Ya Allah, saksikanlah mereka.”

Setelah itu mereka pun mengatakan, “Sekarang beritahukan kepada kami, siapa malaikat yang menjadi penolongmu. Hal ini yang akan menentukan, kami akan mengikutimu atau berpisah darimu.”

Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya penolongku adalah malaikat Jibril, dan Allah tidak akan mengutus seorang nabi pun melainkan ia sebagai penolongnya.”

Mereka menyahut, “Inilah yang menjadikan kami berpisah darimu. Jika penolongmu itu selain malaikat Jibril, niscaya kami akan mengikutimu dan membenarkanmu.”

Kemudian beliau pun bertanya, “Apa yang menjadikanmu tidak mau mempercayainya?”

Mereka pun menjawab, “Karena ia adalah musuh kami.”

Pada saat itu Allah Ta’ala menurunkan ayat:

Ïقُـلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيـلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَـى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْـنَ يَدَيْهِ –إلـى قوله- لَـوْ كَانُوا يَعْلَمُـونَ Î

“Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menu-runkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya -sampai firman-Nya- kalau mereka mengetahui.'” Pada saat itulah mereka mendapatkan murka di atas murka. Hadits ini diriwayat-kan Imam Ahmad dalam musnadnya.

Mujahid mengemukakan, orang-orang Yahudi mengatakan: “Wahai Muhammad, Jibril itu tidak turun melainkan dengan kekerasan, peperangan, dan pembunuhan, dan ia (Jibril) adalah musuh kami.” Maka turunlah ayat, Î قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ Ï “Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril.”

Mengenai firman-Nya, Î قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ Ï “Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril,” Imam Bukhari meriwayatkan, Ikrimah mengatakan, Jibr, Mika, dan Israf adalah hamba, Iil (Allah) (dalam bahasa Ibrani).

Abdullah bin Munir memberitahu kami, dari Anas bin Malik, ia menceritakan, Abdullah bin Salam pernah mendengar kedatangan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu ia sedang berada di tanah yang tandus. Kemudian Nabi datang dan ia pun berkata, “Aku akan menanyakan kepadamu tentang tiga hal yang tidak diketahui kecuali oleh seorang nabi: Apa yang pertama menjadi tanda kiamat, apa makanan penghuni surga yang pertama kali, dan apa yang menyebabkan seorang anak cenderung menyerupai bapak atau ibunya?”

Beliau bersabda, “Jibril telah memberitahuku mengenai hal itu tadi.”

“Jibril?” tanyanya.

Beliau menjawab, “Ya. Ia adalah malaikat yang menjadi musuh orang-orang Yahudi.”

Kemudian beliau membaca ayat ini, Î قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ Ï “Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah men-urunkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu.”

Lebih lanjut beliau menuturkan, “Mengenai tanda kiamat yang pertama kali adalah api yang mengiring manusia dari timur ke barat. Sedangkan makanan yang pertama kali dimakan oleh penghuni surga adalah hati ikan paus. Dan jika sperma laki-laki mendominasi sperma perempuan, maka anaknya akan menyerupainya. Dan jika sperma perempuan lebih mendominasi, maka anaknya akan menyerupainya.”

Lalu Abdullah bin salam mengatakan, “Aku bersaksi bahwasanya tiada Ilah selain Allah, dan engkau adalah utusan Allah. Ya Rasulullah, sesungguhnya orang Yahudi itu adalah kaum pendusta. Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum engkau menanyai mereka, maka mereka akan mendustaiku.”

Lalu orang-orang Yahudi datang, maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka, “Menurut kalian, orang macam apakah Abdullah bin Salam itu?” Mereka menjawab, “Ia adalah orang yang terbaik di antara kami putera orang yang terbaik di antara kami, pemuka kami dan putera pemuka kami.” Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagaimana menurutmu jika ia memeluk Islam?”

Mereka pun berucap, “Semoga Allah melindunginya dari perbuatan itu.” Maka Abdullah bin Salam keluar seraya berkata, “Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya.” Lebih lanjut Abdullah bin Salam berkata, “Inilah yang paling aku khawatirkan, ya Rasulullah.”

Hadits ini diriwayatkan hanya oleh Imam Bukhari dengan lafadz (redaksi) seperti ini. Ia pun mengeluarkan pula dari Anas dengan lafadz yang lain, yang serupa dengannya. Dan di dalam Shahih Muslim, dari Tsauban dengan lafadz yang mendekati ini.

Adapun tafsir firman-Nya, Î قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ Ï “Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.” adalah, barangsiapa yang memusuhi Jibril, maka hendaklah ia mengetahui bahwa ia adalah Ruhul Amin yang turun dengan membawa Dzikrul Hakim (al-Qur’an) dari Allah ke dalam hatimu dengan izin-Nya. Ia adalah salah satu dari para rasul Allah dari golongan para malaikat. Dan barangsiapa memusuhi seorang rasul, berarti ia telah memusuhi seluruh rasul. Sebagaimana orang yang beriman kepada seorang rasul, maka hal itu mengharuskannya beriman kepada seluruh rasul, dan sebagaimana halnya orang yang kufur kepada salah seorang rasul, berarti ia telah kufur kepada seluruh rasul. Seperti yang difirmankan Allah Ta’ala: Î إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ Ï “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan para rasul-Nya serta ber-maksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan para rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir terhadap sebagian lainnya.”(QS. An-Nisa’: 150)

Dengan demikian, Allah Ta’ala telah menetapkan mereka benar-benar sebagai orang kafir, karena mereka beriman kepada sebagian rasul dan ingkar kepada sebagian lainnya. Demikian pula halnya orang yang memusuhi Jibril, maka ia adalah musuh Allah, karena Jibril tidak turun membawa perintah dari ke-mauannya sendiri, tetapi atas perintah Rabb-nya. Sebagaimana firman-Nya, Î وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلاَّ بِأَمْرِ رَبِّكَ Ï “Dan tidaklah kami turun kecuali dengan perintah Rabb-mu.” (QS. Maryam: 64)

Dan Iman Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Hurairah, ia menceritakan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ بَارَزَنِى بِالْحَرْبِ.

“Barangsiapa memusuhi waliku, berarti ia menyatakan perang denganku.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, Allah Ta’ala murka demi Jibril kepada orang-orang yang memusuhinya. Dan Dia berfirman:

Î قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ Ï “Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang diturunkan sebelumnya.” Yaitu kitab-kitab yang terdahulu. Î وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ Ï “Dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” Maksudnya, sebagai petunjuk bagi hati mereka dan berita gembira bahwa mereka akan mendapatkan surga. Dan semuanya itu tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang beriman saja, sebagaimana firman-Nya, Î قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَ امَنُوا هُدًى وَشِفَآءٌ Ï “Katakanlah, ia (al-Qur’an) adalah sebagai petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Fushshilat :44)

Selanjutnya Allah Ta’ala beriman:

Î مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّلَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ Ï “Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” Artinya, Allah menyatakan: “Barangsiapa yang memusuhi-Ku, para malaikat dan rasul-rasul-Ku.” Yang dimaksud dengan rasul-rasul-Nya, yaitu mencakup rasul dari para malaikat dan juga dari kalangan manusia.

Sebagaimana firman-Nya: Î اللهُ يَصْطَفِـي مِنَ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً وَمِنَ النَّاسِ Ï “Allah memilih para rasul-Nya dari malaikat dan dari manusia.” (QS. Al-Hajj: 75)

Î وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ Ï “Jibril dan Mikail.” Kalimat itu merupakan “عَطَفُ الخَاصِ” (penyambung khusus) dari makna khusus kepada makna umum. Karena keduanya termasuk malaikat yang dikategorikan dalam cakupan para rasul secara umum. Kemudian keduanya disebut secara khusus, karena siyaq (redaksi) berkenaan dengan pembelaan kepada Jibril yang merupakan duta antara Allah dan para nabi-Nya. Lalu Allah Ta’ala menyertai penyebutannya dengan Mikail, karena orang Yahudi mengaku bahwa Jibril sebagai musuh mereka sedangkan Mikail sebagai penolong mereka. Maka Allah Ta’ala memberitahukan, barangsiapa memusuhi salah satu dari keduanya (Jibril dan Mikail), berarti ia telah memusuhi yang lainnya juga memusuhi Allah.

Dan karena pada beberapa kesempatan kadang malaikat Mikail turun kepada para nabi Allah. Sebagaimana ia bertemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada permulaan perintah, tetapi Jibril lebih sering karena hal itu merupakan tugasnya. Sedangkan Mikail bertugas mengurusi rizki. Sebagaimana Israfil bertugas meniup sangkakala untuk membangkitkan manusia pada hari kiamat kelak.

Oleh karena itu, di dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam jika bangun malam selalu berdoa:

اَللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ، وَمِيْكَائِيْلَ، وَإِسْرَافِيْلَ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ، اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ.

“Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang me-ngetahui segala hal yang ghaib dan yang nyata, Engkau yang memberikan ke-putusan di antara hamba-hamba-Mu mengenai apa yang mereka perselisihkan. Tunjukanlah kepadaku kebenaran dari apa yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau ke-hendaki ke jalan yang lurus.”

Î فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِيـنَ Ï “Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” Pada ayat tersebut المَظْهَرُ (hal yang jelas) ditempatkan pada posisi المُضْمَرُ (hal yang samar), di mana Dia tidak menyatakan, فَإِنَّهُ عَدُوٌّ (bahwa Dia adalah musuh) melainkan Dia menuturkan, Î فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِيـنَ Ï “Maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”

Sebagaimana yang dikatakan seorang penyair:

لاَ أَرَى الْمَوْتَ يَسْبِقُ الْمَوْتَ شَىْءٌ * سَبَقَ الْمَـوْتُ ذَا الْغِنَـى وَالْفَقِيْـرا

“Aku tidak pernah melihat kematian itu didatangi oleh sesuatu, tetapi kematian itu mendatangi orang kaya dan miskin.”

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menampakkan nama-Nya dimaksudkan untuk menegaskan makna di atas, sekaligus untuk menjelaskan dan memberitahukan kepada mereka bahwa siapa saja yang memusuhi wali Allah, maka sesungguhnya Allah adalah musuhnya, dan barangsiapa menjadi musuh-Nya, maka ia akan rugilah ia di dunia dan diakhirat.

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلاَّ الْفَاسِقُونَ , وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلاَّ الْفَاسِقُونَ , وَلَمَّا جَاءهُمْ رَسُولٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ كِتَابَ اللّهِ وَرَاء ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ , وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ , وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُواْ واتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّه خَيْرٌ لَّوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. (QS. 2:99) Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya, bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. 2:100) Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). (QS. 2:101) Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka me-ngatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (me-ngerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangan-lah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari se-suatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:102) Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:103)

Mengenai firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, Î وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ Ï “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadmu ayat-ayat yang jelas,” Imam Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, artinya Kami (Allah) telah menurunkan ke-padamu, hai Muhammad, beberapa tanda yang sangat jelas yang menunjukkan kenabianmu. Ayat-ayat itu adalah di antara berbagai ilmu orang-orang Yahudi yang tersembunyi bermacam-macam unsur rahasia berita mereka dan berita mengenai para pendahulu mereka dari kalangan Bani Israil, yang semuanya itu terkandung di dalam al-Qur’an. Selain itu, juga berita mengenai hal-hal yang yang dikandung oleh kitab-kitab mereka yang tidak diketahui kecuali oleh para pendeta dan pemuka agama mereka, serta hukum-hukum yang terdapat di dalam kitab Taurat yang diselewengkan dan diubah oleh para pendahulu mereka. Kemudian Allah I memperlihatkan semua itu di dalam kitab (al-Qur’an) yang diturunkan kepada nabi-Nya, Muhammad e.

Dalam hal itu terdapat ayat-ayat yang jelas bagi orang yang adil terhadap diri sendiri dan tidak membiarkannya dibinasakan oleh rasa dengki dan sikap melampaui batas. Orang yang memiliki fitrah yang sehat pasti akan membenar-kan ayat-ayat yang jelas yang dibawa oleh nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang diperoleh-nya tanpa melalui proses belajar atau mengambil kabar dari seseorang. Sebagaimana yang dikatakan adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya, Î وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ ءَ ايَاتٍ بَيِّنَاتٍ Ï “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas,” ia mengatakan, “Engkau yang membacakan dan memberi-tahukannya kepada mereka pada pagi dan petang dan di antara keduanya sedang dalam pandangan mereka, engkau adalah orang yang ummi, yang tidak dapat membaca kitab, tetapi engkau dapat memberitahukan apa yang ada pada mereka dengan tepat. Allah Ta’ala mengatakan hal itu kepada mereka sebagai ibrah (pelajaran), bayan (penjelasan), dan menjadi hujjah (bukti) yang memberatkan mereka jika mereka mengetahui.”

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, bahwa Ibnu Shuriya al-Quthwaini pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Hai Muhammad, engkau tidak datang kepada kami membawa sesuatu yang kami mengetahuinya. Dan Allah tidak menurunkan suatu ayat yang jelas kepadamu sehingga kami dapat mengikutimu.” Maka berkenaan dengan hal itu Allah menurunkan ayat: Î وَ لَقَدْ أَنزَلْـنَا إِلَيْكَ ءَ ايَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَ مَا يَكْفُـرُ بِهَا إِلاَّ الْفَاسِـقُونَ Ï “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas, dan tidak mengingkarinya kecuali orang-orang fasik.” Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus dan beliau mengingatkan orang yang-orang Yahudi dan janji mereka kepada Allah serta perintah-Nya kepada mereka agar beriman kepada nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Malik bin Shaif berkata, “Demi Allah, Allah tidak memerintah kami untuk beriman kepada Muhammad dan tidak pula (Allah) mengambil janji dari kami (untuk hal itu).” Maka Allah Ta’ala pun menurunkan ayat,

Î أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَّبَذَهُ فَرِيقٌ مِّنْهُم Ï “Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya?”

Sedangkan mengenai firman-Nya, Î بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ Ï “Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.” Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Memang benar, tidak ada perjanjian yang mereka adakan melainkan mereka membatal-kan dan melemparkannya, hari ini mereka berjanji, esok dibatalkannya.” As-Suddi berkata: “Mereka tidak beriman kepada apa yang dibawa oleh Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam”. Dan Qatadah berkata: “Segolongan mereka melemparkan-nya”, maksudnya, segolongan mereka membatalkannya.

Ibnu Jarir mengemukakan, asal kata “النَّبْـذُ” itu berarti melempar dan mencampakkan. Bertolak dari hal tersebut, kurma dan anggur yang ditaruh di air disebut نَبِيْـذٌ. Abu Aswad ad-Du’ali pernah menuturkan:

نَظَرْتُ إِلَـى عُنْوَانِـهِ فَنَبَذْتُـهُ * كَنَبْذِكَ نَعْلاً أُخْلِقَتْ مِنْ نِعَالِكَا

“Aku melihat ke alamatnya lalu mencampakkannya, seperti engkau mencampakkan sandalmu yang telah rusak.”

Aku (Ibnu Katsir) katakan; Allah Ta’ala mencela kaum Yahudi itu karena mereka telah mencampakkan berbagai perjanjian, yang Dia meminta mereka agar berpegang teguh padanya serta menunaikan hak-hak-Nya. Oleh karena itu pada ayat berikutnya Allah mengungkapkan kedustaan mereka terhadap Rasul yang diutus kepada mereka dan kepada seluruh umat manusia, yang di dalam kitab-kitab mereka sudah tertulis mengenai sifat-sifat dan berita-berita mengenai-nya. Dan melalui kitab-kitab tersebut mereka telah diperintah untuk mengikuti, mendukung, dan menolongnya. Sebagaimana firman-Nya:

Î الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ اْلأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنجِيلِ Ï “Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, dan Nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (QS. Al-A’raf: 157)

Sumber: Diadaptasi dari Tafsir Ibnu Katsir, penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ishak Ali As-Syeikh, penterjemah Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, dkk. (Pustaka Imam As-Syafi’i)