Surah Al-Baqarah, Ayat 93 – 96

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُواْ مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُواْ قَالُواْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُواْ فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُمْ مُّؤْمِنِينَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tapi tidak mena’ati”. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika kamu betul beriman (kepada Taurat)”. (QS. 2:93)

Allah Ta’ala merinci kesalahan, pelanggaran janji, kesombongan, dan keberpalingan orang-orang Yahudi dari-Nya sehingga Dia mengangkat gunung Thursina untuk ditimpakan kepada mereka sampai mereka mau menerima perjanjian itu. Lalu mereka melanggar perjanjian tersebut. Oleh karena itu, Î قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا Ï “Mereka berkata, Kami mendengar tetapi kami tidak mentaati.” Penafsiran ayat tersebut sudah pernah kami kemukakan sebelumnya.

Î وَأُشْـرِبُوا فـيِ قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِـمْ Ï “Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka kecintaan kepada anak sapi lantaran kekafiran mereka.” Berkenaan dengan ayat tersebut, dari Qatadah, Abdur Razaq mengatakan, “Kecintaan mereka kepada anak sapi telah meresap hingga membus kedalam hati mereka.” Hal senada juga dikatakan oleh Abu al-Aliyah dan Rabi’ bin Anas.

Imam Ahmad pernah meriwayatkan, dari Abu Darda’, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

حُبُّكَ الشَّىْءَ يُعْمِى وَيُصِمُّ.

“Kecintaanmu kepada sesuatu membuatmu buta dan tuli.” (HR. Abu Dawud)

Firman Allah Ta’ala, Î قُلْ بِئْسَـمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُمْ مُّؤْمِنِينَ Ï “Katakanlah, amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika kamu benar-benar beriman (kepada Taurat).” Artinya, betapa buruknya kekufuran kalian kepada ayat-ayat Allah Ta’ala dan pengingkaran kalian terhadap para nabi, serta kekafiran kalian kepada Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang kalian jadikan pegangan pada masa dahulu maupun masa sekarang. Yang demikian itu merupakan dosa kalian yang paling besar dan hal yang paling besar/parah yang kalian lakukan karena kekufuran kalian terhadap Nabi dan Rasul penutup, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang diutus kepada seluruh umat manusia. Lalu bagaimana kalian mengaku ber-iman, padahal kalian telah melakukan berbagai perbuatan buruk seperti itu, baik yang berupa pengingkaran janji, kafir kepada ayat-ayat Allah, maupun penyembahan terhadap anak sapi selain Allah?

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَن يُعَمَّرَ وَاللّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Jika (kamu menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah ke-matian(mu), jika kamu memang benar. (QS. 2:94) Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-ke-salahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha-mengetahui orang-orang yang aniaya. (QS. 2:95) Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:96)

Muhammad bin Ishak meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, “Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam,

Î قُلْ إِن كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ اْلأَخِرَةُ عِندَ اللَّهِ خَالِصَـةً مِّن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَـادِقِينَ Ï “Katakanlah, jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian(mu), jika kamu memang benar.” Maksudnya, “Berdoalah kalian agar ditimpakan kematian terhadap salah satu kelompok yang paling berdusta. Namun mereka menolak ajakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Î وَ لَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ Ï “Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamannya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri. Dan Allah Mahamengetahui siapa orang-orang yang zhalim”. Artinya, Allah mengetahui pengetahuan mereka bahkan pengingkaran mereka terhadap (ajakan Rasul). Seandainya mereka menginginkan kematian itu pada saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya, niscaya tidak akan ada di muka bumi ini seorang pun dari kaum Yahudi melainkan akan mati.

Dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak meriwayatkan, Î فَتَمَنَّوُا الْمَـوْتَ Ï berarti mohonlah kematian.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Seandainya orang-orang Yahudi itu menginginkan kematian, niscaya mereka akan disambar kematian.” Seluruh sanad ini shahih sampai Ibnu Abbas.

Demikian itulah penafsiran yang diberikan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat di atas, yaitu ajakan untuk bermubahalah (adu do’a) untuk mengetahui kelompok mana yang berdusta, baik kelompok kaum muslimin maupun Yahudi. Hal yang sama dinyatakan pula oleh Ibnu Jarir dari Qatadah, Abu al-Aliyah, dan Rabi’ bin Anas semoga Allah merahmati mereka.

Ketika orang-orang Yahudi itu -laknat atas mereka-, mengatakan bahwa mereka itu anak Allah dan kekasih-Nya serta mengatakan: “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi dan Nasrani,” maka mereka diajak bermubahalah dan mendoakan keburukan kepada salah satu kelompok yang berdusta, baik itu kelompok muslim maupun kelompok Yahudi. Setelah mereka menolak ajakan tersebut, maka setiap orang mengetahui bahwa mereka itu zhalim, karena jika mereka benar-benar teguh dengan pengakuannya itu, pasti mereka menjadi kelompok yang paling dahulu tampil untuk melakukan mubahalah. Ketika mereka menunda-nunda, maka terbukalah kebohongan mereka itu. Peristiwa itu sama dengan peristiwa pada saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajak utusan kaum Nasrani Najran untuk bermubahalah setelah hujjah tegak atas mereka dalam perdebatan, (sementara mereka semakin) sombong dan ingkar, maka Allah Ta’ala berfirman:

Ïفَمَنْ حَـآجَّكَ فِيـهِ مِن بَعْدِ مَا جَـآءَكَ مِنَ الْـعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَـوْا نَدْعُ أَبْنَآءَنَا وَأَبْنَآءَكُـمْ وَنِسَـآءَنَا

وَنِسَآءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وَأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَتَ اللهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ Î

“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakin-kan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”. (QS. Ali Imran: 61)

Setelah orang-orang Nasrani mendengar ajakan itu, lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian kaum lainnya, “Demi Allah, jika kalian bermubahalah dengan Nabi ini, niscaya kalian akan musnah dalam sekejap.” Pada saat itu, mereka langsung cenderung untuk berdamai dan menyerahkan jizyah (pajak) dengan patuh, dan dalam keadaan hina. Kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah di-utus sebagai pengawas terhadap mereka.

Mubahalah ini disebut tamanni (pengharapan/keinginan), karena kedua belah pihak yang merasa benar ingin agar Allah Ta’ala membinasakan kelompok yang batil, apalagi jika merasa mempunyai hujjah untuk menjelaskan kebenaran dan keunggulannya. Dan mubahalah itu dilakukan dalam bentuk memohon kematian, karena kehidupan dunia bagi orang-orang Yahudi sangat mulia dan berharga, dan karena mereka mengetahui tempat kembali mereka yang menyeramkan setelah kematian.

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

Î وَلَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصُ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ Ï “Sekali-kali mereka tidak akan menginginkannya untuk selama-lamanya karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Mahamengetahui orang-orang yang berbuat zhalim. Sesungguhnya kamu akan men-dapati mereka setamak-tamak manusia kepada kehidupan (di dunia).” Maksudnya, sepanjang umur mereka, karena mereka tahu bahwa tempat kembali mereka (di akhirat) itu sangat buruk dan kesudahan yang akan mereka alami sangat merugikan. Sebab dunia itu merupakan penjara bagi orang-orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Mereka mengangankan seandainya mereka dapat menghindari alam akhirat dengan segala macam cara. Padahal apa yang mereka hindari dan jauhi itu pasti akan mereka alami. Terhadap kehidupan duniawi ini, orang-orang Yahudi itu lebih rakus daripada orang-orang musyrik yang tidak memiliki kitab. Yang demikian itu merupakan ‘athaf khash (penyandaran yang khusus) kepada yang ‘aam (umum).

Mengenai firman Allah U, Î وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا Ï “Bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik.” Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Orang-orang non-Arab.”

Demikian halnya hadits yang diriwayatkan al-Hakim dalam kitab, al-Mustadrak, dari Sufyan ats-Tsauri, dan ia mengatakan bahwa hadits ini shahih menurut persyaratan al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayat-kannya. Al-Hakim berkata bahwa kedua imam itu bersepakat atas sanad tafsir sahabat ini.

Sehubungan dengan firman Allah Ta’ala, Î وَ لَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَـى حَيَاةٍ Ï “Sesungguhnya engkau akan mendapati mereka setamak-tamak manusia kepada kehidupan (di dunia),” Hasan al-Bashri mengatakan, “Orang munafik itu lebih tamak terhadap kehidupan dunia daripada orang musyrik.”

Î يَوَدُّ أَحَدُهُمْ Ï “Masing-masing orang dari mereka ingin.” Maksudnya, salah seorang dari orang Yahudi, seperti yang ditujukan konteks ayat. Sedang-kan menurut Abul al-Aliyah: “Adalah salah seorang dari kaum Majusi. Dan ia akan kembali seperti semula, jika di beri umur seribu tahun.”

Mengenai firman-Nya, Î يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ Ï “Masing-masing orang dari mereka ingin agar diberi umur seribu tahun.“Mujahid mengatakan, “Perbuatan dosa dijadikan hal yang mereka sukai sepanjang umur.”

Dan berkenaan dengan firman-Nya, Î وَمَـا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَن يُّعَمَّرَ Ï “Pahahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa.” Berkata Mujahid bin Ishak dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari Sa’id atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas: “Maksudnya, umur panjang itu sama sekali tidak akan menyelamatkan mereka dari adzab, karena orang musyrik tidak mengharapkan kebangkitan kembali setelah kematian, tetapi menginginkan umur panjang. Sedangkan orang Yahudi mengetahui kehinaan yang akan mereka terima di akhirat karena mereka menyia-nyiakan ilmu yang mereka miliki.”

Berkaitan dengan firman-Nya, Î وَمَـا هُوَ بِمُزَحْـزِحِهِ مِنَ الْـعَذَابِ أَن يُّعَمَّـرَ Ï “Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa.” Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas katanya, “yaitu orang-orang yang memusuhi Jibril”.

Sedangkan Abu al-Aliyah dan Ibnu Umar mengatakan, “Makna ayat itu adalah umur panjang tidak akan membantu dan menyelamatkan mereka dari adzab.”

Mengenai makna ayat ini, Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam me-ngatakan, “Orang Yahudi itu lebih rakus terhadap kehidupan dunia ini dari pada orang-orang Musyrik, di mana mereka mengharapkan diberikan umur seribu tahun lagi. Namun umur panjang itu tidak akan dapat menyelamatkan mereka dari adzab. Sebagaimana umur panjang yang diberikan kepada Iblis tidak memberikan manfaat sama sekali kepadanya, karena ia kafir.”

Î وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ Ï “Allah Mahamengetahui apa yang mereka lakukan.” Maksudnya, Allah mengetahui dan menyaksikan kebaikan dan keburukan yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya, dan masing-masing akan diberikan balasan sesuai dengan amalannya.

Sumber: Diadaptasi dari Tafsir Ibnu Katsir, penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ishak Ali As-Syeikh, penterjemah Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, dkk. (Pustaka Imam As-Syafi’i)