Surah Al-Baqarah, Ayat 75 – 79

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُواْ لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ , وَإِذَا لَقُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلاَ بَعْضُهُمْ إِلَىَ بَعْضٍ قَالُواْ أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ اللّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَآجُّوكُم بِهِ عِندَ رَبِّكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ , أَوَلاَ يَعْلَمُونَ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, pada-hal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubah-nya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. 2:75) Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kami pun telah beriman”, tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian me-reka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu; tidakkah kamu mengerti?”. (QS. 2:76) Tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan. (QS. 2:77)

Allah Ta’ala berfirman, hai orang-orang yang beriman,

Î أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُـمْ Ï “Apakah kalian masih mengharapkan mereka percaya kepada kalian?” Artinya, akan mengikuti kalian dengan penuh ketaatan. Mereka tergolong kelompok sesat di mana mereka sebagaimana nenek moyang mereka yang telah menyaksikan sendiri tanda-tanda kekuasaan Allah dan bukti-bukti yang jelas. Tetapi kemudian hati mereka mengeras.

Î وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ Ï “Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya.” Artinya, mereka menakwilkannya dengan penafsiran yang bukan seharusnya.

Î مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ Ï “Setelah mereka memahaminya.” Yaitu memahami secara gamblang. Namun demikian mereka masih mengingkarinya, meskipun mereka mengetahuinya.

Î وَ هُمْ يَعْلَمُونَ Ï “Sedang mereka mengetahui.” Artinya, mereka melakukan salah dalam pengubahan dan penakwilan terhadap firman Allah. Konteks firman Allah Ta’ala di atas, mirip dengan firman-Nya yang lain:

Î فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ Ï “Karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya.” (QS. Al-Maidah: 13)

Mengenai firman Allah Ta’ala, Î وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ Ï “Sesungguhnya segolongan dari mereka mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya.” As-Suddi mengatakan: “Yang mereka ubah itu adalah kitab Taurat.”

Mengenai firman-Nya, Î ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ Ï “Kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” Qatadah mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang Yahudi. Mereka mendengar firman Allah, lalu mengubahnya setelah mereka memahami dan menyadarinya.” Sedang Mujahid mengatakan, “Yang mengubah dan menyem-bunyikan firman Allah Ta’ala itu adalah para ulama dari kalangan Yahudi.” Dan Abu al-Aliyah mengemukakan, “Mereka memahami apa yang diturunkan Allah dalam kitab mereka itu, menyangkut sifat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka pun mengubahnya dari yang sebenarnya.”

Firman Allah Ta’ala, Î وَإِذَا لَقُوا الَّذِيـنَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَ امَنَّا وَإِذَا خَلاَ بَعْضُهُمْ إِلـىَ بَعْضٍ Ï “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, Kami telah beriman. Dan apabila mereka berada sesama mereka saja.”

Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas mengatakan Mengenai firman-Nya, Î وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا Ï “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman.’” Ini artinya bahwa sahabat kalian adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun ia khusus (diutus) kepada kalian saja.” Dan apabila mereka berada sesama mereka saja, maka mereka (orang Yahudi) berkata, “Jangan kalian beritahukan hal ini kepada masyarakat Arab. Karena kalian sebelumnya menyatakan akan menaklukkan mereka dengan dukungan Rasul ini, tetapi ternyata dia itu berasal dari mereka.” Maka Allah pun menurunkan ayat:

Ïوَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَ امَنُوا قَالُوا ءَ امَنَّا وَإِذَا خَلاَ بَعْضُهُمْ إِلـىَ بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُم بِهِ عِندَ رَبِّكُمْ Î

“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman.’ Dan apabila mereka berada sesama mereka saja, maka me-reka berkata: ‘Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepada kamu, agar dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjah kalian di hadapan Rabb-mu, tidakkah kamu mengerti?’”

Artinya, kalian mengakuinya sebagai nabi, padahal kalian mengetahui bahwa Allah telah mengambil janji dari kalian untuk mengikutinya, sedang ia memberitahukan kepada khalayak bahwa dirinya merupakan nabi yang kita tunggu-tunggu dan kita dapatkan dalam kitab kita. Ingkarilah ia dan janganlah kalian mengakuinya.

Selanjutnya, Allah Ta’ala membantah mereka dengan firman-Nya:

Î أَوَلاَ يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ Ï “Tidakkah mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan dan yang mereka nyata-kan?” Mengenai hal ini, adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas mengatakan: “Yaitu orang-orang munafik dari kalangan kaum Yahudi.”

As-Suddi mengatakan: Î أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ Ï “Apakah kamu akan menceritakan kepada (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu,” yaitu tentang adzab, Î لِيُـحَاجُّوكُـم بِهِ عِندَ رَبِّكُـمْ Ï “Agar dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu.” Mereka ini adalah orang-orang dari kaum Yahudi yang beriman, lalu mereka berubah menjadi munafik dan mereka ini menceritakan kepada orang-orang mukmin dari masyarakat Arab mengenai adzab yang ditimpakan kepada mereka. Lalu sebagian mereka bertanya kepada sebagian lainnya, Î أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ Ï “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu.” Yaitu berupa adzab, supaya dengan demikian mereka mengatakan, “Kami lebih dicintai Allah dari pada kalian dan lebih terhormat di sisi Allah daripada kalian.”

Firman-Nya, Î أَوَلاَ يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِـرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ Ï “Apakah mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan dan yang mereka nyatakan?” Menurut Abu al-Aliyah: “Maksudnya apa yang mereka rahasiakan, berupa pengingkaran dan pendustaan terhadap kenabian Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka menemukan nama beliau tertulis di dalam kitab mereka.”

Demikian pula dinyatakan oleh Qatadah mengenai firman Allah Ta’ala, Î أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ Ï “Sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan”. Hasan al-Bashri mengatakan: “Apa yang mereka rahasiakan yaitu bahwa jika mereka berpaling dari para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kembali bertemu dengan teman-teman mereka, maka mereka saling melarang satu dengan yang lainnya agar tidak memberitahukan kepada para sahabat Muhammad mengenai apa yang diterangkan Allah Ta’ala dalam kitab mereka, karena mereka khawatir akan dikalahkan oleh hujjah yang dikemukakan oleh para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan Rabb mereka. Dan demikian itulah yang mereka sembunyikan.” Î وَ مَا يُعْلِنُونَ Ï “Dan yang mereka nyatakan?” Yakni ketika mereka mengatakan kepada para sahabat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami beriman.” Hal senada juga di-kemukakan oleh Abu al-Aliyah, Rabi’ bin Anas, dan Qatadah.

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لاَ يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلاَّ أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّونَ , فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـذَا مِنْ عِندِ اللّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ

Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga”. (QS. 2:78) Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerja-kan. (QS. 2:79)

Allah Ta’aa berfirman, Î وَمِنْهُـمْ أُمِّيُّـونَ Ï “Di antara mereka ada yang buta huruf,” yaitu dari kalangan Ahlul Kitab. Kata Mujahid, “( اْلأُمِّيُّوْنَ ) merupakan jama’ dari kata ( أُمِّـٌّى ), yang berarti orang yang tidak dapat membaca dan menulis.” Hal itu dikemukakan pula oleh Abu al-Aliyah, Rabi’ bin Anas, Qatadah, Ibrahim an-Nakha’i, dan ulama lainnya. Hal itu adalah dhahir (hal yang jelas dan tampak) pada firman-Nya, Î لاَ يَعْلَمُـونَ الْكِتَـابَ Ï “Mereka tidak mengetahui al-Kitab (Taurat).” Maksudnya mereka tidak mengetahui isi kitab tersebut. Oleh karena itu, di antara sifat yang dimiliki Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-ummiy, karena beliau tidak bisa menulis, sebagaimana firman-Nya:

Î وَ مَاكُنتَ تَتْلُوا مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلاَ تَخُطُّهُ بَيَمِينِكَ إِذاً لارْتَابَ الْكمُبْطِلُونَ Ï “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur’an) sesuatu kitab pun dan tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkari (mu).” (QS. Al-Ankabut: 48) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

إِنَّا أُمَّةُ أُمِيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا.

“Kami adalah umat yang ummiy, tidak dapat menulis dan berhitung. Satu bulan sekian, sekian, dan sekian.(Hadits muttafaq ‘alaih) Artinya, dalam menjalankan dan menentukan waktu ibadah kami (Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya), kami tidak membutuhkan tulisan dan hitungan. Juga firman-Nya mengenai hal tersebut, Î هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِـي اْلأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ Ï “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Ibnu Jarir menuturkan, “Masyarakat Arab menasabkan orang laki-laki yang tidak dapat membaca dan menulis kepada ibunya dalam keadaannya yang tidak dapat menulis, bukan kepada bapaknya.”

Sedang mengenai firman-Nya, Î إِلآَّ أَمَانِـيَّ Ï “Kecuali dongengan bohong belaka”. Ibnu Abi Thalhah dari Ibnu Abbas mengatakan, Î إِلآَّ أَمَانِـيَّ Ï “Yaitu obrolan dan pembicaraan sia-sia.” Masih dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak mengemukakan, “Dengan mulutnya itu, mereka berbicara bohong.” Sedangkan Abu al-Aliyah dan Rabi’ bin Anas menuturkan, “Kecuali hanya angan-angan yang mereka harapkan dari Allah, yaitu apa yang bukan hak mereka.”

Firman-Nya, Î لاَ يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلآَّ أَمَانِـيَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّـونَ Ï “Mereka tidak mengetahui al-Kitab (Taurat) kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.” Dari Ibnu Abbas, Muhammad bin Ishak mengatakan: “Artinya mereka tidak mengetahui isi kitab tersebut dan mereka mengetahui kenabian-mu (Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam) hanya melalui dugaan belaka.”

Dan mengenai firman-Nya, Î وَإِنْ هُـمْ إِلاَّ يَظُنُّـونَ Ï “Dan mereka hanya menduga-duga,” Mujahid mengatakan, “Mereka itu hanyalah berdusta belaka.” Sedangkan Qatadah, Abu al-Aliyah, dan Rabi’ bin Anas menuturkan, “Mereka berprasangka buruk tanpa sedikitpun kebenaran terhadap Allah Ta’ala.”

Dan firman Allah Ta’ala:

Î فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً Ï “Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka berkata, ‘Ini adalah dari sisi Allah,’ (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.” Mereka ini kelom-pok lain lagi dari kalangan Yahudi, yaitu para penyeru kepada kesesatan melalui tipu daya dan cerita-cerita bohong atas nama Allah serta memakan harta kekayaan orang lain dengan cara yang tidak benar. الْوَيْلُ, الْهَلاَكُ, dan الدَّمَارُ (kecelakaan) merupakan kata-kata yang sudah sangat populer dalam khazanah bahasa (Arab).

Menurut Ibnu Abbas, al-Wail ini berarti suatu siksaan yang sangat memberatkan. Dan menurut al-Khalil bin Ahmad, al-wail berarti puncak kejahatan.

Menurut Sibawaih, “وَيْلٌ” itu ditujukan bagi orang yang terjungkal dalam kebinasaan, sedangkan “وَيْحٌ” dimaksudkan bagi orang yang masih berada di tepi jurang kebinasaan.

Al-Ashma’i mengatakan, al-wail dipergunakan sebagai kecaman. Sedangkan al-waih dipergunakan sebagai ungkapan kasihan. Dan ulama lainnya mengatakan, al-wail berarti kesedihan.

Al-Khalil bin Ahmad mengatakan, yang semakna dengan kata wail, yaitu; وَيْحٌ, وَيْشٌ, وَيْهٌ, وَيْكٌ, dan وَيْبٌ. Ada pula di antara para ulama yang membedakan maknanya.

Mengenai firman-Nya, Î فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ Ï “Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri,” dari Ibnu Abbas, Ikrimah mengatakan, “Mereka itu adalah para pendeta Yahudi.” Hal senada juga dikemukakan oleh Said, dari Qatadah, di mana ia mengatakan, “Mereka adalah orang-orang Yahudi.”

Mengenai firman-Nya, Î فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ Ï “Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri.” Dari Sufyan ats-Tsauri, Abdur Rahman bin Alqamah, mengatakan: “Aku pernah menanyakan penggalan ayat tersebut kepada Ibnu Abbas, maka ia pun menjawab: ‘Ayat tersebut turun di kalangan orang-orang musyrik dan Ahlul Kitab.’”

As-Suddi mengatakan, “Ada beberapa orang Yahudi yang menulis sebuah kitab berdasarkan pemikiran mereka sendiri, lalu mereka menjualnya kepada masyarakat Arab dengan mengatakan bahwa kitab ini berasal dari Allah. Dan mereka pun menjualnya dengan harga yang sangat murah sekali.”

Az-Zuhri menceritakan, Ubaidillah bin Abdillah memberitahuku, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Wahai kaum muslimin, bagaimana mungkin kalian menanyakan sesuatu kepada Ahlul Kitab, sedangkan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya merupakan berita Allah yang paling aktual yang apabila kalian membacanya tidak membosankan. Dan Allah telah memberitahu kalian bahwa Ahlul Kitab telah mengganti kitab Allah dan mengubahnya serta menulis kitab baru dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka mengatakan bahwa kitab itu berasal dari Allah dengan maksud agar mereka dapat menjualnya dengan harga yang murah. Bukankah ilamu yang sampai kepada kalian melarang untuk bertanya kepada mereka. Demi Allah, kami tidak pernah melihat seorang pun dari mereka bertanya mengenai apa yang diturunkan kepada kalian.” (Hadits ini diriwayatkan Imam al-Bukhari melalui beberapa jalan dari az-Zuhri).

Hasan bin Abi Hasan al-Bashri mengatakan, “الثَّمَنُ الْقَلِيْلُ” berarti dunia dan segala isinya.

Dan firman Allah I, Î فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلُلَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَÏ “Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri.” Artinya, kecelakaan bagi mereka karena apa yang mereka tulis serupa. Dan kecelakaan pula bagi mereka karena apa yang biasa mereka makan berupa uang sogok (dan lainnya). Sebagaimana dikatakan adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, Î فَوَيْـلٌ لَهُـمْ Ï yaitu bahwa siksa yang berat akan menimpa mereka yang telah menulis kebohongan dan kedustaan itu.

Sedangkan firman-Nya, Î وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِمَّا يَكْسِبُوْنَ Ï “Dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan.” Maksudnya, lanjut adh-Dhahhak, “akibat dari apa yang mereka makan.”

Sumber: Diadaptasi dari Tafsir Ibnu Katsir, penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ishak Ali As-Syeikh, penterjemah Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, dkk. (Pustaka Imam As-Syafi’i)