Surah Al-Baqarah, Ayat 55 – 57

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ , ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّن بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu di-sambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. (QS. 2:55) Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (QS. 2:56)

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, yaitu ketika Aku membangkitkan kalian setelah peristiwa petir. Di mana kalian meminta untuk dapat melihat-Ku secara nyata dan kasat mata, suatu permintaan yang tidak akan disanggupi oleh kalian dan makhluk sejenis kalian.”

Berkenaan dengan firman-Nya, Î وَإِذْ قُلْتُمْ يَامُوسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً Ï “Dan ingatlah ketika kamu berkata, ‘Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang,” Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Artinya, melihat-Nya secara jelas (kasat mata). Masih mengenai penggalan firman-Nya, Î حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً Ï “Sampai kami melihat Allah dengan terang,” Qatadah dan Rabi’ bin Anas mengatakan: “Yaitu kasat mata.”

Abu Ja’far meriwayatkan dari Rabi’ bin Anas: “Bahwa mereka itulah tujuh puluh orang yang dipilih oleh Musa ‘alaihissalaam. Mereka berjalan bersama Musa hingga akhirnya mereka mendengar sebuah firman, maka mereka pun berkata, Î لَنْنُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً Ï ‘Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata.’ Kemudian, lanjut Rabi’ bin Anas, mereka mendengar suara yang menyambar mereka, dan mereka pun mati.”

Marwan bin al-Hakam mengatakan dalam pidato yang disampaikannya dari atas mimbar di Makkah: “Petir berarti suara keras dari langit.”

Mengenai firman-Nya, Î فَأَخَذَتْكُمُ الصَّـاعِقَةُ Ï “Karena itu kamu disambar ash-Sha’iqah.” As-Suddi mengatakan: “Ash-Sha’iqah berarti api.”

Dan mengenai firman Allah, Î وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ Ï “Sedang kamu menyaksikan,” Urwah bin Ruwaim mengatakan: “Sebagian dari mereka ada yang disambar petir, dan sebagian lainnya menyaksikan peristiwa tersebut. Kemudian sebagian dari mereka dibangkitkan dan sebagian lainnya disambar petir (bergantian).”

Dan as-Suddi mengenai firman-Nya, Î فَأَخَـذَتْكُمُ الصَّـاعِقَةُ Ï “Karena itu kamu disambar petir,” mengatakan: “Maka mereka pun mati, lalu Musa ‘alaihissalaam bangkit dan menangis serta berdo’a seraya memanjatkan, “Ya Rabb-ku, apa yang harus aku katakan kepada Bani Israil jika aku kembali kepada mereka, sedang Engkau telah membinasakan orang-orang terbaik di antara mereka.” Î لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُم مِّن قَبْلُ وَإِيَّاىَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَآءُ مِنَّآ Ï “Jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami.” (QS. Al-A’raaf: 155) Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa bahwa mereka yang 70 orang itu orang adalah yang menyembah anak lembu. Lalu Allah menghidupkan mereka sehingga mereka bangun dan hidup seorang demi seorang dan satu sama lain saling menyaksikan, bagaimana mereka hidup kembali. Kata as-Suddi selanjutnya: “Itulah makna firman Allah Ta’ala, Î ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Ï “Setelah itu Kami bangkitkan kamu setelah kamu mati, agar kamu bersyukur.”

Rabi’ bin Anas mengatakan: “Kematian mereka itu merupakan hukuman bagi mereka, lalu dibangkitkan kembali untuk menuntaskan ajal hidupnya.” Hal senada juga disampaikan oleh Qatadah.

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَـكِن كَانُواْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 2:57)

Setelah Allah Ta’ala mengingatkan adzab yang telah dihindarkan-Nya dari mereka, Dia juga mengingatkan mereka berbagai nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka, di mana Dia berfirman, Î وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْـغَمَامَ Ï “Dan Kami naungi kamu dengan awan.” غَمَامٌ jama’ dari kata غَمَامَةٌ, disebut demikian karena ia menutupi langit. Yaitu awan putih yang menaungi mereka dari terik matahari di padang pasir. Sebagaimana yang telah diriwayatkan an-Nasa’i dan perawi lainnya dari Ibnu Abbas.

Firman-Nya, Î وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ Ï “Dan Kami turunkan kepada kalian manna.” Di kalangan mufassir, terjadi perbedaan pendapat mengenai makna manna. Menurut Ali bin Thalhah, dari Ibnu Abbas, al-Manna itu turun kepada mereka jatuh tepat di atas pohon, lalu mereka mendatanginya pada pagi hari dan memakan darinya sesuai yang dikehendakinya.

Mujahid berpendapat, al-Manna berarti getah. Sedangkan menurut Ikrimah, al-Manna adalah sesuatu yang diturunkan Allah Ta’ala kepada mereka semacam embun yang menyerupai sari buah yang kasar.

Kata as-Suddi, mereka mengatakan, “Hai Musa, bagaimana kami dapat menghidupi diri kami disini, di mana makanan?” Maka Allah pun menurunkan al-Manna kepada mereka yang jatuh di atas pohon jahe.

Maksudnya, bahwa semua penjelasan para mufassir mengenai al-Manna itu saling berdekatan. Ada di antara mereka yang menafsirkannya sebagai minuman dan juga yang lainnya. Yang jelas, Wallahu a’lam, segala sesuatu yang diberikan Allah kepada Bani Israil, baik berupa makanan maupun minuman dan lain sebagainya, yang mereka peroleh tanpa melalui usaha dan kerja keras.

Jadi al-Manna yang sangat terkenal itu jika dimakan tanpa dicampuri apa-apa, maka ia berfungsi sebagai manakan dan manisan. Jika dicampur dengan air, maka ia akan menjadi minuman segar. Dan jika dicampur dengan yang lainnya, ia akan menjadi jenis makanan yang berbeda. Namun bukan hanya itu yang dimaksud oleh ayat di atas.

Dalil yang menjadi landasan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, dari Sa’id bin Zaid t, katanya, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

الكَمْأَةُ مِنَ الْمَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ

“Jamur itu berasal dari manna dan airnya menjadi obat untuk mata.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan sejumlah perawi dalam kitab mereka, kecuali Abu Dawud. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut hasan shahih.” Dan diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari riwayat al-Hakam, dari Hasan al-‘Arani, dari ‘Amr bin Harits.

Sedangkan mengenai kata Salwa, Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu Abbas, Salwa itu seekor burung yang menyerupai puyuh, mereka makan dari burung-burung tersebut.

Menurut Ikrimah, salwa adalah seekor burung seperti yang di dalam surga lebih besar dari burung layang-layang atau sejenisnya.

Wahab bin Munabbih mengatakan, Salwa adalah seekor burung yang banyak dagingnya seperti burung merpati. Di mana burung itu mendatangi mereka dan mereka pun mengambilnya seminggu sekali pada hari Sabtu.

Ibnu ‘Athiyyah mengatakan, menurut kesepakatan para mufassir, salwa itu adalah burung. Sedang al-Hudzali telah melakukan suatu kesalahan dengan menyatakan salwa itu adalah madu.

Firman-Nya, Î كُلُوا مِـن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ Ï “Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu.” Ini merupakan perintah yang mengandung makna pembolehan, bimbingan, dan penganugerahan.

Firman Allah selanjuntya, Î وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِـن كَانُوا أَنفُسَـهُمْ يَظْلِمُونَ Ï “Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” Artinya, kami telah perintahkan mereka untuk memakan makanan yang telah Kami jadikan rizki bagi mereka serta untuk beribadah semata. Sebagai-mana firman-Nya, Î كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ Ï “Makanlah dari rizki Rabb-mu dan bersyukurlah kepada-Nya”. (QS. Saba’: 15) Namun mereka melanggar dan ingkar, dengan demikian mereka telah menzhalimi diri mereka sendiri, padahal mereka menyaksikan tanda-tanda kekuasaan-Nya, berbagai penjelasan dan mukjizat yang sudah pasti, serta hal-hal di luar kebiasaan.

Dari keterangan di atas tampak jelas keutamaan para sahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam atas sahabat para nabi lainnya dalam hal kebenaran, keteguhan, dan tidak menyusahkan dalam perjalanan yang mereka lakukan bersama beliau, dan beberapa peperangan, antara lain pada perang Tabuk yang sangat terik dan melelahkan. Mereka tidak meminta hal yang diluar kebiasaan serta tidak meminta pengadaan sesuatu, meskipun hal itu sangat mudah bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Setelah benar-benar dililit rasa lapar, mereka pun minta untuk diperbanyak jatah makanan mereka, dengan mengumpulkan semua yang ada pada mereka, lalu terkumpullah setinggi kambing yang sedang menderum. Selanjutnya beliau berdoa memohon kepada Allah berkah atasnya. Setelah itu beliau me-nyuruh mereka untuk memenuhi wadah mereka masing-masing. Demikian juga ketika mereka membutuhkan air, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah, maka datanglah kepada mereka awan, lalu Dia menurunkan hujan, hingga akhirnya mereka minum dan memberikan minum untanya dari air tersebut. Selain itu mereka juga memenuhi tempat minum mereka. Ketika mereka perhatikan, hujan itu tidak melampaui rombongan itu.

Inilah hal yang paling sempurna dalam mengikuti sesuatu, padahal yaitu dalam ketentuan Allah dan dalam mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber: Diadaptasi dari Tafsir Ibnu Katsir, penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ishak Ali As-Syeikh, penterjemah Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, dkk. (Pustaka Imam As-Syafi’i)