MM: Saat Ini Propagandis Syiah Berani Tampil Terbuka

Hidayatullah.com–Majelis Mujahidin (MM) melalui Ketua Lajnah Tanfidziyah Irfan S. Awwas menyebut, saat pemerintah Indonesia sibuk memberantas “teroris”, kesempatan ini dimanfaatkan para propagandis Syiah yang berpura-pura anti-terorisme.

“Propagandis Syiah menyelusup dan menguasai basis strategis di pemerintahan; menjadi anggota legislatif, pejabat negara, persis seperti dilakukan kader-kader komunis,” ungkap Irfan di Yogyakarta, Rabu (23/10/2013) dalam rilis resmi MM yang diterima Hidayatullah.com di Jakarta.

Irfan mengatakan, ekspansi ideologi transnasional Syiah yang dilakukan sejak tahun 80-an mulai menuai hasil di Indonesia. Para propagandis Syiah berani tampil terbuka, tidak lagi sembunyi di balik taktik taqiyah.

Saat ini, menurut MM, Syiah mengganti pendekatan kekerasan dengan diplomasi. Termasuk dengan mengundang tokoh masyarakat dan para pejabat negara untuk berkunjung ke Iran. Juga dengan mendirikan Iran Corner di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta.

“Mereka (Syiah. Red) menyusup ke basis-basis strategis umat melalui berbagai macam lembaga, ormas keagamaan, MUI, serta memanfaatkan secara optimal potensi negara basis Iran dengan misi diplomasi,” ungkap Irfan dalam surat yang juga ditandatangani sekretaris lajnah M. Shabbarin Syakur.

Ekspansi tersebut dalam rangka memenuhi pesan imam besar Syiah, Khomeini, yaitu mengekspor Revolusi Syiah ke negara-negara Islam di dunia.

Perayaan Idul Ghodir di Indonesia pada Sabtu (26/10/2013) besok dinilai MM sebagai misi ekspansi ideologi. Acara bertema “Imam Ali as. Putra Ka’bah Pemersatu Umat” ini akan diselenggarakan di gedung SMESCO (SME) Convention Hall, Jalan Gatot Subroto Kav. 94, Jakarta Selatan.

Diberitakan sebelumnya, MM menyampaikan lima sikap terkait Idul Ghodir. Di antaranya, meminta pemerintah, dalam hal ini Kepolisian RI, mencabut izin acara tersebut.

MM menyebut, sudah berkali-kali acara seminar Syiah ditolak di berbagai daerah, seperti di Makassar, Sulawesi Selatan, dan Solo. Bahkan belum lama ini terjadi konflik komunal di Sampang, Madura dan Jember, Jawa Timur.*