Sa’id bin Zaid

 

  1. Nama, Nasab dan Kemuliaan

Nama sekaligus silsilah keturunannya adalah Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdul Uzza bin Rabbah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib. Kunyahnya adalah Abul A’war Al-Quraisyi Al-Adawi.

Sa’id bin Zaid adalah sahabat yang di jamin masuk surga, dan tergolong orang-orang yang pertama masuk islam. Sa’id termasuk salah seorang peserta Perang Badar yang Allah ridhai dan mereka meridhai-Nya. Sa’id masuk islam sebelum Nabi memulai dakwahnya secara sembunyi-sembunyi ke rumah Arqam.

Umar bin Khattab tidak memanggil Sa’id supaya ikut bergabung dalam tim musyawarah umat (ahli Syura) meskipun dia termasuk orang yang lebih dahulu masuk islam dan layak menjadi anggotanya. Yang demikian itu dilakukan agar tidak terdapat celah baginya untuk mendapat keuntungan dalam pemilihan khalifah pengganti Umar. Karena, dia adalah ipar Umar (suami saudara perempuan Umar yaitu fathimah Al-Khattab).

Jika Umar memasukkannya kedalam anggota tim enam ahli syura, maka orang yang dengki akan menganggap Umar lebih mengutamakan anak pamannya dari Sahabat yang lain. Oleh sebab itulah, Umar mengeluarkan anaknya (Abdullah bin Umar) dan keluarganya dari pemilihan ahli syura itu. Alasann lainnya adalah agar tim ini dapat bekerja semata-mata karna Allah

Sa’id bin Zaid menuturkan bahwa Nabi pernah bersabda terkait kemuliaan yang disematkan oleh Allah kepada dirinya yaitu:

“Tenanglah!! Wahai Hira sesungghnya tidak ada yang berdiri di atasmu kecuali Nabi, Ash-Shiddiq dan Asy-Syahid.”

Diatas bukit Hira terdapat Nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’id bin Zaid.

Istri Sa’id bin Zaid adalah anak pamannya Al-khattab yang bernama Fathimah. Wanita ini adalah saudara perempuan Umar bin Khattab.

  1. Kesabaran

Qaid bin Abi Hazim pernah menukilkan penuturan Sa’id bin Zaid “Aku teringat terhadap tindakan Umar ketika menghalang-halangiku dan saudara perempuannya untuk masuk islam. Seandainya Gunung Uhud runth akibat perbuatan kalian terhadap Utsman, maka hal it sudah selayaknya terjadi.”

Diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari Urwah bin Zubair ia bercerita: “Arwa binti Aus menuduh Sa’id bin Zaid telah mengambil sebagian tanahnya, Arwa mengadukan perbuatan Sa’id kepada Marwan bin Hakam (Gubernur Madinah ketika itu). Maka Sa’id  berseru, “Mungkinkah aku mengabil sebagian tanahnya, padahal aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang mengambil sebagian tanah (milik orang lain) maka dia akan di benamkan ke tujuh lapis bumi.” (HR. Muslim)

Setelah mendengar pernyataan Sa’id , Marwan pun menyatakan ,”Aku tidak akan meminta bukti lagi darimu.” Kemudian Sa’id berdo’a , “Ya Alah jika wanita itu berdusta maka butakanlah matanya, dan matikanlah dia di tanahnya sendiri.” Sungguh wanita itu tidak matihingga matanya buta terlebih dahulu. Dan ketika berjalan di tanah miliknya, tiba-tiba dia terperosok di lubang dan mati.

  1. Keutamaan dan Kezuhudan

Sa’id bin Zaid pernah di beri mandat oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah untuk menjadi Gubernur Damaskus. Namun ketika masa jabatannya telah menyibukkan dirinya sehingga membuatnya tidak dapat berjihad, dia pun menulis surat kepada Abu Ubaidah: “Tidaklah aku lebih mementingkan dirimu dan para sahabatmu untuk berjihad daripada diriku, dan seperti itu pula terhadap segala hal yang dapat mendekatkanku kepada keridhaan Allah. Jika suratku ini sampai kepadamu, maka kirimkanlah bawahanmu yang lebih berhasrat memegang jabatan ini daripada aku.”

 

Sumber: Al-‘Asyarah Al-Mubasysyaruuna bil Jannah, Muhammad Ahmad Isa, edisi bahasa Indonesia 10 Sahabat Nabi Dijamin Masuk Surga, penerjemah: Fajar Kurnianto, S.Th.I, Penerbit Pustaka Imam Syafii, Jakarta