Hati Yang Cinta Pada Kebenaran Dan Benci Kebatilan

‏قال شيخ الإسلام  ابن تيمية  رحمه الله

والقرآن شفاءٌ لما في الصدور. ومن في قلبه أمراض الشبهات و الشهوات ففيه من البينات ما يزيل الحق من الباطل فيزيل أمراض الشبهة المفسدة للعلم و التصور والإدراك بحيث يرى الأشياء على ما هي عليه.

و فيه من الحكمة و الموعظة الحسنة بالترغيب و الترهيب و القصص التي فيها عبرة ما يُوجب صلاح القلب.

فيرغب القلب فيما ينفعه ويرغب عما يضره فيبقى القلب محبا للرشاد مبغضا للغي بعد أن كان مريدا للغي مبغضا للرشاد.

فالقرآن مزيل للأمراض الموجبة للإرادات الفاسدة حتى يصلح القلب فتصلح إرادته و يعود إلى فطرته التي فُطر عليها كما يعود البدن إلى الحال الطبيعي.

ويغتذي القلب من الإيمان والقرآن بما يزكيه ويؤيده كما يغتذي البدن بما ينميه ويقومه. فإن زكاة القلب مثل نماء البدن  .

“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

Al Qur’an adalah obat untuk apa yang ada di dada (hati). Al Qur’an menjadi obat bagi hati yang terkena penyakit syubhat dan syahwat. Dalam Al Qur’an terdapat penjelas, di mana kebatilan dihilangkan oleh kebenaran. Penyakit syubhat yang merusak bisa pergi karena adanya ilmu dan keinginan (yang baik), di mana hakikat sesuatu begitu jelas karenanya.

Dalam Al Qur’an terdapat berbagai hikmah dan nasehat yang baik untuk memotivasi dalam beramal dan menakut-nakuti dari berbuat kejelekan. Dalam Al Qur’an juga terdapat kisah-kisah yang bisa diambil ibroh sehingga hati pun menjadi baik.

Al Qur’an begitu memberi semangat hati terhadap hal-hal yang bermanfaat dan memperingatkan pula dari hal-hal yang membahayakannya. Maka yang tersisa adalah hati semakin cinta pada kebenaran dan benci pada kebatilan. Padahal sebelumnya bisa jadi hati sangat ingin berbuat kebatilan dan benci pada kebenaran.

Al Qur’an sungguh bisa menghilangkan penyakit yang dapat mengantarkan pada keinginan-keinginan jelek (rusak) hingga baiklah hati. Keinginannya menjadi baik dan ia pun kembali pada fithrahnya yang telah ditabiatkan untuknya sebagaimana badan kembali pada tabi’atnya.

Hati akan semakin hidup dengan adanya iman dan Al Qur’an. Sebagaimana badan semakin hidup dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan dan menguatkannya. Maka sesungguhnya suburnya hati itu semisal dengan tumbuhnya badan.”

 

Sumber: Al-Majmu’ Fatawa 10(95-96)  oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah