Tidak Halal Memenuhi Nadzar Di Tempat-Tempat Jahiliyah

Pada sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Tsabith bin Dhahaq berkata:

“Seorang laki-laki pada masa Rasulullah bernadzar untuk menyembelih seekor unta di Buanah, lalu Nabi bertanya: “Apakah di tempat itu pernah terdapat berhala yang biasa disembah pada zaman jahiliyah?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah tempat ini biasa digunakan untuk merayakan hari besar mereka?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Penuhilah nadzarmu.” Kemudian sabda beliau lagi: “Tidak boleh memenuhi nadzar untuk berbuat durhaka kepada Allah dan tidak boleh pula nadzar atas sesuatu yang tidak mampu ia dilakukan.” (HR. Abu Dawud, hadits semakna dengan ini terdapat pada riwayat Bukhari dan Muslim)

Ibnu Taimiyah berkata: “Seandainya menyembelih di tempat-tempat dilaksanakannya hari raya jahiliyah itu boleh, niscaya Nabi membenarkan memenuhi nadzar di tempat tersebut, bahkan Nabi akan mewajibkannya karena memenuhi nadzar hukumnya wajib, tidak terkecuali nadzar untuk menyembelih di tempat-tempat tersebut. Selanjutnya, apabila menyembelih di tempat-tempat pelaksanaan hari raya jahiliyah saja dilarang, sudah tentu melaksanakan beberapa kegiatan pada hari raya –yang merupakan bagian dari perayaan hari raya tersebut lebih terlarang lagi.”

Lebih jelasnya, hari raya adalah hari-hari yang biasa dijadikan waktu khusus untuk berkumpul beramai-ramai. Sabda Nabi yang menanyakan “Apakah tempat ini biasa digunakan untuk merayakan hari besar mereka?”, maksudnya ialah biasa digunakan sebagai tempat berkumpul mereka untuk berhari raya. Tatkala laki-laki tersebut menjawab “Tidak”, maka Nabi bersabda kepadanya: “Penuhilah nadzarmu.”

Nabi melarang seseorang menyembelih hewan kurban di tempat yang dahulu biasa digunakan orang-orang kafir untuk berhari raya, walaupun setelah mereka menjadi muslim tidak lagi berhari raya di tempat tersebut. Pada riwayat tersebut, orang yang bertanya tidak ingin menjadikan tempat tersebut sebagai tempat berhari raya, tetapi hanya sekadar menyembelih. Menyembelih di tempat tersebut tidak dibolehkan karena dikhawatirkan kebiasaan berhari raya di tempat itu muncul kembali, sekalipun pesta hari raya di tempat tersebut sebenarnya hanya berupa pasar tahunan agama, yang mereka jadikan sebagai tempat transaksi dan berpesta.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh orang Anshar kepada Nabi “Dua hari yang pada zaman jahiliyah biasa kami gunakan untuk bersenang-senang.” Hari raya tersebut sama sekali bukan menjadi hari peribadatan bagi mereka.

Nabi membedakan antara tempat yang digunakan sebagai tempat menyembah berhala dengan tempat yang digunakan sebagai tempat berhari raya. Hadits ini dengan tegas melarang seseorang melakukan kegiatan apapun di tempat berlangsung perayaan hari-hari besar jahiliyah dan melarang mengikuti hari-hari raya orang kafir. Adanya pengakuan Islam terhadap ahli kitab untuk tetap memeluk agama mereka tidak berarti bahwa hal itu memberikan hak kepada umat Islam untuk mengikuti hari-hari raya mereka. Juga tidak berarti memberikan pembenaran kepada umat Islam untuk mengikuti kegiatan dan aktifitas orang-orang kafir dalam perbuatanperbuatan dosa mereka.

Bahkan Nabi telah dengan keras menyuruh umatnya menyelisihi mereka dalam banyak hal, baik yang bersifat mubah maupun perbuatan-perbuatan yang bersifat keagamaan. Hal ini dilakukan agar tidak menyebabkan umat Islam melakukan hal yang sejalan dengan tradisi atau agama mereka. Bila hal ini tidak dilarang, maka upaya untuk melenyapkan kebiasaan-kebiasaan mereka akan sulit dilakukan. Dengan melakukan hal yang menyelisihi kebiasaan mereka akan lebih menjauhkan kita dari mengikuti kegiatan dan tradisi golongan ahli neraka.

 

Sumber: Mukhtarat Min Kitab Iqtidha’ Ash Shiratul Mustaqim oleh Muhammad bin Ali Ad-Dabi’i