Shalat Yang boleh Di Lakukan Di Waktu-Waktu Terlarang

  1. Diperbolehkan shalat pada waktu-waktu tersebut untuk mengqadha’ shalat, baik itu shalat fardhu maupun shalat sunnah Hal ini berdasarkan keumuman hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik  ia berkata, Nabi bersabda

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّرَتُهَا أَنْيُصَلِّيَهَا إِ ذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa lupa (untuk melaksanakan) shalat atau tertidur hingga melewatkannya, maka kaffaratnya adalah mengerjakannya ketika mengingatnya.” (HR. Muttafaq Alaih)

  1. Diperbolehkan melakukan shalat-shalat sunnah yang memiliki sebab Seperti; shalat tahiyyatul masjid, shalat gerhana, shalat sunnah wudhu, dan sebagainya.

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ;

”Yang benar kedua shalat (yaitu; shalat Tahiyyatul Masjid dan shalat Gerhana) itu boleh (dilakukan), bahkan disyari‟atkan, karena shalat gerhana dan (shalat) Tahiyatul Masjid termasuk shalat yang mempunyai penyebab, disyari’atkan pada waktu-waktu terlarang; (setelah shalat Ashar dan setelah shalat) Shubuh, sebagaimana waktu-waktu lainnya.”

  1. Diperbolehkan melakukan beberapa shalat sunnah sebelum pelaksanaan shalat jum’at, walaupun ketika matahari berada tepat di atas kepala.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Salman Al-Farisi  ia berkata, bahwa Nabi  bersabda:

“Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jum‟at, lalu ia bersuci dengan sebaik-baiknya. Lalu ia menggunakan minyak rambut yang ia miliki atau memakai wangi-wangian dari rumahnya. Kemudian ia keluar (menuju masjid), ia tidak memisahkan antara dua orang, lalu ia shalat sunnah semampunya. Kemudian ia diam ketika khatib berkhutbah, melainkan akan diampuni dosanya antara Jum’at tersebut dan Jum’at yang lainnya.” (HR. Bukhari)

  1. Tidak dimakruhkan melakukan shalat di Makkah kapan saja shalat tersebut dilakukan. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Jubair bin Muth’im, bahwa Nabi a bersabda;

“Wahai Bani Abdi Manaf, janganlah kalian melarang siapa pun yang thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat kapan saja ia suka, baik malam maupun siang.” (HR. Tirmidzi)

 

Sumber: AL-Bayyinatul Ilmiyah Fii Mas’alatil Fiqhiyah edisi Indonesia Ensiklopedi Fiqh Islam oleh Abu Hafizhah Irfan