Keutamaan Nikmat Diatas Ujian

Bila ada yang berkata, hadits-hadits yang ada tentang keutamaan sabar menunjukkan bahwa ujian di dunia lebih baik daripada kenikmatan, apakah hal ini kita boleh meminta ujian kepada Allah?

Maka jawabannya adalah, tidak ada alasan untuk itu, dalam hadits yang di riwayatkan oleh sahabat Annas bin Malik bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam:

Bahwasanya Rasulullah menjenguk seorang laki-laki dari kaum muslimin yang keadaannya seperti burung. Rasulullah bertanya kepadanya, “Apakah kamu pernah berdo’a atau meminta sesuatu? “ Dia menjawab, “Ya, aku pernah berdoa, Ya Allah apa yang dengannya Engkau akan menghukumku di akhirat, maka segerakanlah (menimpakannya) atasku di dunia.” Maka Rasulullah bersabda,” Subhanallah, kamu tidak akan mampu, kamu tidak akan sanggup, mengapa kamu tidak berdo’a , “Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungi kami dari neraka? (Al-Baqarah: 201). (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Dari hadits Anas juga bahwa seorang laki-laki berkata yang artinya:

“wahai Nabi Allah, do’a apa yang paling utama? Nabi menjawab, “Mintalah maaf dan keselamata kepada Allah di dunia dan di akhirat.” Kemudian dia datang lagi esok harinya, lalu berkata, “Do’a apa yang paling utama? Nabi menjawab, “Mintalah maaf dan keselamatan di dunia dan di akhirat kepada Allah.” Kemudia dia datang lagi di hari ketiga, maka Nabi Bersabda, “Mintalah maaf dan keselamatan kepada Allah di dunia dan di akhirat, karna bila kamu di beri maaf dan keselamatan di dunia dan d akhirat maka kamu beruntung.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam Shahihain di riwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Berlindung lah kepada Allah dari beban ujian, sulitnya kesengsaraan, buruknya etentuan taqdir, dan kebahagian musuh karna musibah yang menimpa. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari beberapa hadits di atas dapat kita ambil hikmah bahwa Nabi mengajarkan kepada umatnya agar tidak meminta ujian kepada Allah Ta’alaa. Karna keselamatan, kenikmatan yang telah di berikan Allah adalah karunia yang harus di syukuri. Adapun ketika tertimpa suatu musibah maka Nabi menyuruh agar bersabar di atasnya, sebab bisa jadi musibah yang menimpanya adalah bukti tanda kasih sayang Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya yang selalu bersyukur dan bersabar.

Imam Mutharrif berkata, “Saya di berika kesehatan dan bersyukur karnanya lebih aku cintai daripada di uji lalu bersabar di atas ujian itu.”

 

Sumber: Mukhtashar Minhajul Qashidin oleh Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, penerbit: Pustaka Darul Haq, Jakarta.