Merusak Dan Menghalangi Pembangunan Masjid Bukan Sifat Seorang Muslim

Masjid adalah tempat kaum muslimin beribadah dan berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla, sungguh aneh kalau ada seorang muslim yang menghalangi pembangunan masjid, maka orang tersebut telah menghalangi manusia untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah, apalagi jika dia berusaha merobohkan masjid tersebut.

Berikut kami hadirkan nasihat dan peringatan dari Allah ‘azza wa jalla di dalam ayat-Nya yang mulia, dan penjelasan ulama besar ahli tafsir abad ini, Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir beliau yang berjudul “Taysiru Kariimir Rohman fi Tafsiri Kalaamil Mannan”.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengha­lang-halangi nama Allah disebut dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatut­nya masuk ke dalamnya (masjid Allah) kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan, dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” [Al-Baqoroh: 114]

BEBERAPA PELAJARAN:

  1. Orang yang menghalangi manusia untuk berdzikir dan beribadah di masjid termasuk orang yang paling zalim dan paling jahat. Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

أي: لا أحد أظلم وأشد جرما، ممن منع مساجد الله، عن ذكر الله فيها، وإقامة الصلاة وغيرها من الطاعات.

“Makna ayat ini: Tidak ada yang lebih zalim dan lebih besar kejahatannya daripada orang yang menghalangi manusia berdzikir kepada Allah, sholat dan amalan ketaatan lainnya di masjid-masjid.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 63]

  1. Merobohkan masjid memiliki dua makna: Merobohkan bangunannya atau melarang orang beribadah dan berdzikir di dalamnya, termasuk menghalangi majelis ilmu, karena menuntut ilmu termasuk sebesar-besarnya ibadah dan dzikir kepada Allah ‘azza wa jalla. Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

{وَسَعَى} أي: اجتهد وبذل وسعه {فِي خَرَابِهَا} الحسي والمعنوي، فالخراب الحسي: هدمها وتخريبها، وتقذيرها، والخراب المعنوي: منع الذاكرين لاسم الله فيها، وهذا عام، لكل من اتصف بهذه الصفة

“Frman Allah ‘…dan berusaha untuk merobohkannya…” maknanya berusaha dan mengerahkan kemampuan untuk merobohkannya secara fisik maupun non fisik, secara fisik adalah menghancurkan bangunannya, merusaknya dan mengotorinya. Adapun secara non fisik adalah melarang manusia berdzikir dengan menyebut nama Allah di masjid-masjid tersebut, maka ayat ini berlaku umum bagi setiap orang yang memiliki sifat ini.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 63]

  1. Hanya orang kafir yang ingin merusak atau menghalangi pembangunan masjid dan mencegah manusia beribadah di dalamnya. Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

فيدخل في ذلك أصحاب الفيل، وقريش، حين صدوا رسول الله عنها عام الحديبية، والنصارى حين أخربوا بيت المقدس، وغيرهم من أنواع الظلمة، الساعين في خرابها، محادة لله، ومشاقة

“Maka termasuk golongan penghalang manusia berdzikir dan perusak masjid adalah:

Pertama: Tentara bergajah yang hendak menghancurkan Kakbah, Kedua: Kafir Qurays yang menghalangi Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam menuju Kakbah pada tahun terjadinya Perjanjian Hudaibiyah, Ketiga: Orang Nasrani yang merusak Baitul Maqdis, Keempat: Semua orang zalim yang berusaha merusak masjid, mereka memusuhi dan menentang Allah.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 63]

  1. Awas balasan dari Allah sangat keras bagi orang-orang yang zalim itu, dan berita gembira bagi orang-orang yang dizalimi. Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

فجازاهم الله، بأن منعهم دخولها شرعا وقدرا، إلا خائفين ذليلين، فلما أخافوا عباد الله، أخافهم الله، فالمشركون الذين صدوا رسوله، لم يلبث رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا يسيرا، حتى أذن الله له في فتح مكة، ومنع المشركين من قربان بيته، فقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا} .

وأصحاب الفيل، قد ذكر الله ما جرى عليهم، والنصارى، سلط الله عليهم المؤمنين، فأجلوهم عنه.

وهكذا كل من اتصف بوصفهم، فلا بد أن يناله قسطه، وهذا من الآيات العظيمة، أخبر بها الباري قبل وقوعها، فوقعت كما أخبر.

“Maka Allah membalas mereka dengan menghalangi mereka masuk ke masjid, baik secara ketetapan syar’i maupun ketetapan takdir, yaitu tidaklah mereka masuk ke masjid kecuali dalam keadaan takut lagi terhina. Maka tatkala mereka menakut-nakuti hamba-hamba Allah maka Allah membuat mereka takut.

Contohnya kaum musyrikin yang menghalangi Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam untuk beribadah di Masjidil Haram, maka tidak lama Allah pun memerintahkan beliau untuk menaklukkan kota Makkah dan melarang kaum musyrikin untuk mendekati Kakbah. Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (At-Taubah: 28)

Adapun tentara bergajah maka Allah telah menyebutkan tentang kehancuran mereka dalam surat Al-Fiil. Sedangkan kaum Nasrani yang merusak Baitul Maqdis maka Allah menjadikan kaum mukminin dapat mengalahkan mereka dan menghalangi mereka memasuki Baitul Maqdis.

Demikianlah, siapa pun yang menghalangi manusia berdzikir di masjid atau merusak masjid maka pasti akan mendapatkan balasan seperti yang telah ditimpakan kepada orang-orang kafir tersebut. Maka ini termasuk ayat yang agung, Allah mengabarkan dalam ayat tersebut tentang pembalasan-Nya kepada orang-orang zalim itu, kemudian terjadi sesuai apa yang Allah kabarkan.”

{لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ} أي: فضيحة كما تقدم {وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ} .

“…Mereka di dunia mendapat kehinaan…’ maknanya: Balasan yang buruk sebagaimana telah dijelaskan di atas, ‘dan di akhirat mendapat siksa yang berat’.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 63]

  1. Membangun masjid dan memakmurkannya dengan amalan-amalan shalih itulah sifat orang-orang yang beriman. Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

وإذا كان لا أظلم ممن منع مساجد الله أن يذكر فيها اسمه، فلا أعظم إيمانا ممن سعى في عمارة المساجد بالعمارة الحسية والمعنوية، كما قال تعالى: {إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ} .

بل قد أمر الله تعالى برفع بيوته وتعظيمها وتكريمها، فقال تعالى: {فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ} .

وللمساجد أحكام كثيرة، يرجع حاصلها إلى مضمون هذه الآيات الكريمة.

“Apabila tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang menghalangi manusia berdzikir di masjid-masjid Allah, maka tidak ada yang lebih kuat keimanannya daripada orang yang berusaha memakmurkan masjid, baik secara fisik maupun non fisik, sebagaimana firman Allah,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

[Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” (At-Taubah: 18)

Bahkan Allah telah memerintahkan untuk membangun masjid-masjid, mengagungkannya dan memuliakannya. Allah ta’ala berfirman,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

“Dii masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dibangun dan disebut nama-Nya di dalamnya.” (An-Nur: 36)

Pembahasan tentang masjid terkait banyak hukum, namun kesimpulannya kembali kepada ayat-ayat yang mulia ini.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 63]