Makna Persaudaraan Karena Allah dan Makna Benci Karena Allah

Tentang cinta karena Allah, disebutkan dalam shahihain dari hadits Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوَمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلَّهُ… وَرَجُلَانَ تَحَبَّا فَي اللهِ إجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

“Tujuh golongan akan di naungi Allah di bawah naungan-Nya dihari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya … dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah keduanya berkumpul karena itu dan berpisah juga karena Allah. (HR. Bukhari, Muslim Tirmidzi dan Nasa’i)

Dalam hadits qudsi Allah berfirman yang artinya:

“CintaKu pasti untuk orang-orang yang saling mencintai karena Aku, cintaKu pasti untuk orang-orang yang saling memberi karena Aku, dan cintaKu pasti untuk orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku. (HR. Malik, Ahmad, Thabarani dan Al-Hakim)

Dalam hadits lain juga di terangkan yang artinya,

“Tali simpul iman paling kuat adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. (HR. Thabarani dan tercantum di shilsilah ash-Shahihah )

Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain dalam masalah ini.

Maka ketahuilah bahwa barang siapa mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, bila kamu mencintai seseorang karena dia taat kepada Allah, lalu orang tersebut mendurhakai Allah maka kamu membencinya karena Allah, karena siapa yang mencintai karena suatu sebab, maka berarti kamu akan membenci bila ada sebaliknya. Bila pada seseorang ada sifat-sifat baik dan terpuji dan ada yang tidak disukai dan tercela, maka kamu mencintainya dari satu dan membencinya dari sisi lainnya. Kamu patut mencintai seorang muslim karena keislamannya dan membencinya karena kemaksiatannya, sehingga muamalahmu dengannya adalah muamalah tengah, tidak menolak dan tidak melepas. Untuk apa yang terjadi padanya karena kesalahan dan diketahui dia telah menyesalinya maka yang lebih patut dalam kondisi ini adalah menutupi dan merahasiakan, bila dia terus melakukan kemaksiatan, maka bukti ketidaksukaan harus di perlihatkan berupa menjauhinya dan berpaling darinya, mengucapkan kata-kata tegas sesuai dengan berat dan ringannya kemaksiatan.

 

Sumber: Mukhtashar Minhajul Qashidin oleh Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, penerbit: Pustaka Darul Haq, Jakarta.